Cinta memaksa seseorang menjadi egois. Mengapa ku katakan seperti itu? Bayangkan saja semua yang dilakukan beralasan atas nama cinta. Aku memang bukan wanita hebat, hanya wanita biasa, tidak pandai untuk bersolek, aku hanya wanita yang kebanyakan ngakak. Semua berawal dari kebodohan ku. Aku terlalu mencintai dan menyayangi mu, sampai sulit untuk ku bedakan mana cinta dan egois. Keduanya tipis.

Perjalanan ini luar biasa bagiku. Kamu yang ku kenal sejak duduk dibangku SMA sampai saat ini kita kuliah diperguruan tinggi yang berbeda. Jarak Lombok-Yogyakarta membuat kita berubah. Dulu sebelum kelulusan SMA diumumkan, entah mengapa saat itu aku tak ingin berada satu kota bersama mu saat kuliah nanti. Sempat aku ragu untuk menjalani Long Distance Relationship dengan mu. Kamu lelaki yang banyak digandrungi para wanita, membuat aku tak berharap banyak pada hubungan LDR itu nanti. Tuhan mengabulkan do'a ku. Kamu melanjutkan kuliah di kota seribu masjid, dan aku di kota pelajar. Jauh memang.

Setahun berlalu. Seperti biasa kita selalu ribut. Bukan saat itu saja, sejak SMA kita memang tak pernah akur, herannya mengapa kita bisa bersama. Rasa curiga, cemburu dan entah apalah namanya itu satu per satu datang. Mungkin Tuhan sedang memperlihatkan keadilannya. Dulu kamu begitu menyayangi ku. Dulu waktu SMA kamu cemburu dengan teman lelaki ku. Kamu tak ingin aku jauh-jauh dari mu. Iya itu dulu, saat rasa ku belum sedalam ini. Sekarang aku tahu rasanya menjadi kamu. Aku cemburu.

Aku takut. Takut kehilangan teman terhebat seperti kamu. Setelah 4 tahun aku membawa mu jauh dari masa lalu mu, mengapa tahun ini mereka semua datang dalam kehidupan kita? Rasa cemburu dan rasa takut ku semakin menjadi-jadi. Sampai suatu hari aku memblokir mantan mu di salah satu akun milik mu. Ku tahu kamu pasti marah. Benar kamu pun marah. Seperti sedang tertelan es batu. Sakit. Seperti begitu fatal kesalahan yang ku lakukan, kamu memutuskan hubungan kita. Aku menyesal.

Nasi telah menjadi bubur. Bubur itu pun sudah basi. Memohon-mohon untuk memperbaikinya tetap saja kamu mengabaikan ku. Ku akui memang salah ku, yang terlalu menggenggam mu. Aku menggenggam mu terlalu erat, hanya karena aku takut kehilangan mu. Aku menggenggam mu terlalu erat, hanya karena aku cemburu pada mantan mu. Aku terlalu terburu-buru. Maksud hati ingin menggenggam agar tak pergi, karena terlalu erat membuat mu susah bernafas, akhirnya kamu pergi juga.

Advertisement

Tepat 1460 days since we said " i do " kamu mengakhiri semuanya. Lucu ya? Kita memulai hubungan bulan November 2011, dan kamu mengakhirinya di bulan yang sama, yah November 2015. Aku bisa apa? Menyesali semuanya. Ku rasa percuma, kamu telah berlalu. Iya ku rasa ini semua adil. Karena ku mulai dengan alasan cinta, maka ku akhiri dengan alasan cinta juga. Karena cinta dengan hebatnya mengajarkan ku untuk ikhlas.