Selama ini, sepersekian detik ini, aku telah mengaku kalah, merasakan kegagalan demi kegagalan yang membunuh potensi terpendam dalam diri. Berkali ku coba meredam, berkali itu pula aku gagal, bahwa ketakutan telah merongrong dan membumi dalam jiwaku, ketakutan untuk menunjukkan pada dunia bahwa aku mempunyai potensi untuk tampil dihadapan mereka.

tak ada yang bisa menyembuhkannya, hanya tangis yang ku pendam dalam-dalam agar tak ada yang menyadarinya, bahwa sebenarnya aku tersiksa dengan rasa takut yang terus saja menjajahku, rasa takut yang telah menghambatku untuk berkembang.

terkadang aku yakin, bahwa mungkin suatu saat, entah kapan, aku bisa menunjukkan pada dunia tentang diriku, tentang segala potensiku yang membutuhkan mental, hanya mental. bakat, minat sudah mengakar, hanya satu, rasa takut lagi-lagi membuat gemuruh di dadaku tak terkendali, hingga aku tak mampu berbuat apapun, kecuali hanya berpangku tangan melihat kesuksesan yang diraih oleh mereka, manusia-manusia yang percaya diri dan tidak takut menghadapi rintangan apapun.

cukup sudah aku tenggelam dalam ketakutan ini, kesempatan itu harus segera ku raih, sebelum umur terus saja menyiulkan bertambahnya usia dan semakin tertinggalnya kesempatan, aku lelah, sudah saatnya aku terbebas dari penjajahan potensi yang mengerdilkan diri, sudah saatnya ku terjang segala goda, rasa malu dan ketakutan yang tak terkendali,. bukankah semua butuh permulaan?

kali ini aku akan memulainya, merebut masa depan yang lebih cerah, walau getar dan debar masih bersemayam, semua akan teratasi, ku tahu Tuhan akan membantu mengatasi masalah ini, masalah mental yang harus dibangun dan diperjuangkan. aku tidak akan kalah, aku akan menang melawan penjajahan potensi yang selama ini terus menghantui dan menguburku dalam-dalam. semoga Tuhan merestui dan memberikan kelancaran atas perjuangan impian yang kita lakukan.

Advertisement

salam, untuk mental. Merdeka!!