***

Ting.. Ting..

"Bonjour Mesdemoiselle, qu'est-ce que vous prenez?" | (Selamat siang Nona, apa yang ingin anda pesan?)

"Je commande un chocolat chaud" | (Saya pesan cokelat panasnya)

"C'est tous, Mesdemoiselle?" | (Hanya itu, Nona?)

Advertisement

"Ah oui" | (Ah, iya.)

"Attendez quelques minute." | (Mohon menunggu beberapa menit.)

"Oui" | (Iya.)

***

Angin berhembus pelan, namun dinginnya terasa menusuk tulang. Paris mulai memasuki musim dingin, sehingga aku harus selalu mengenakan mantel tebal jika sedang berada diluar rumah.
Akhir pekan selalu aku habiskan disini, Les Deux Magots, yang menjadi kafe favoritku semenjak dia membawaku untuk pertama kali. Tempat yang menjadi salah satu dari banyak tempat yang mengingatkanku tentang kenangan indah saat bersamanya di Paris.
Dan saat ini sedang berdendang lagu milik Michael Buble yang berjudul "Home". Agak menarik sebenarnya mengingat ini adalah kafe klasik, dan biasanya terdengar lagu-lagu klasik pula. Entah kebetulan atau tidak, lagu ini seperti suasana hatiku saat ini.

***
Setelah cokelat panasku jadi, aku segera mengambil tempat favoritku: di pojok kanan samping jendela. Aku menikmati perpaduan hawa yang mulai mendingin dengan aroma cokelat panas yang mengepul. Paris selalu indah di mataku. Aku selalu saja terpesona dengan kota ini, padahal sudah cukup lama aku tinggal disini.
Mengingat bagaimana aku bisa sampai sejauh ini, bukan pilihan mudah saat aku memutuskan untuk melanjutkan S2-ku di sini. Harus berpisah dengan orangtuaku, mengharuskan aku untuk hidup sendiri dan belajar mandiri di negeri orang, terlebih harus menjalani hubungan jarak jauh dengan dia.

Teringat raut wajah tak rela dan sedihnya saat mendengar ceritaku yang akan sekolah di kota yang paling romantis didunia, Paris.

***

"Taadaaa! Ini dia nasi goreng seafood kesukaanmu a la kekasihmu yang manis ini. Hehe, ayo cobain, katanya lapar?" Kataku sambil menyodorkan sendok penuh berisi nasi goreng yang asapnya masih mengepul.

"Sabar dong, Yang. Masih panas.. Nanti yang ada bibir aku melepuh, nggak bisa cium kamu lagi, ahh," jawabnya menolak sambil menahan tanganku yang memegang sendok.

"Ih, dasar mesum. Hahaha," kataku sambil memukul pelan lengannya ketika mendengar alasannya.

"Sudah, jangan banyak alasan, atau alasanmu itu akan menjadi kenyataan," kataku mengancam kemudian meniup nasi disendok itu. "Ini. Aaaaa," aku menyodorkan kembali sendok itu padanya. Aku merasa seperti sedang menyuapi bocah 5 tahun.

"Bagaimana? Enak?" Tanyaku penasaran.

"Emm.. Hemm.. Mmm.. Nyum nyum.. Enyak," katanya tidak jelas karena mulutnya penuhh dengan makanan.

"Emm.. Calon istriku ini memang pintar masak!" Pujinya sambil mencubit pipiku.

***

Aku senang melihatnya lahap memakan masakanku.

"Ngomong-ngomong, bagaimana hasil tesmu? Apa lulus?" Dia teringat akan tesku untuk masuk unversitas pilihanku.

"Ahh.. Iya, hampir lupa. Aku pasti akan lupa kalau kamu nggak bahas itu tadi, padahal aku sudah mau cerita. Jadi, pagi tadi aku buka email, dan ternyata," kataku mengambang. Ingin melihat ekspresinya, dan yang terlihat adalah, ekspresi penasaran sambil terus mengunyah.

"Aku lulus! Yay, aku diterima di Pierre and Marie Curie University, Yang," kataku dengan girang. Ya, aku sangat senang. Bagaimana tidak? Aku diterima di salah satu universitas ternama di kota Paris. Wah..

***
Sedetik kemudia, yang terlihat didepanku adalah raut wajah sedih dan menunjukkan rasa tak relanya jika aku sekolah di sana. Jelas saja, ini bukan hanya beda negara, tapi juga beda belahan dunia, beda benua, bahkan terpampang perbedaan waktu yang sangat jauh.

Lalu hening beberapa saat, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

***
"Maaf," kudengar dia mengatakan permohonan maaf.

"Untuk?"

"Seharusnya aku mendukungmu untuk sekolah, bukannya malah sedih," katanya, kemudian menggenggam tanganku. Dan aku hanya bisa diam, aku tah tahu harus jawab apa.

***

Akupun sebenarnya tidak 100% senang ketika ternyata aku lulus tes ujian masuk universitas itu. Aku sebenarnya tidak mau memberitahunya sekarang, tapi berhubung dia tanya duluan, ya sudah apa boleh buat. Aku sebenarnya setengah hati ketika membuat pilihan akan kuliah di Pierre and Marie Curie University, aku tahu itu kampus ternama dan kecil kemungkinan aku bisa diterima di sana, tapi aku sebenarnya..

"Sayang?" Lamunanku buyar karena dia memanggilku lagi.

"Ya?" Jawabku gelagapan.

"Kok diem? Apa kamu lagi berpikir untuk mengubah keputusanmu?" Guraunya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

"Apa tidak apa-apa kalau aku sekolah disana? Apa perlu aku nyari sekolah di sini saja?" tanyaku.

"Ah, yang benar? Aku sih senang-senang saja kalau kamu nggak jadi sekolah di sana. Hehehe. Tapi, jangan deh. Ini kesempatan besar, Sayang. Anugerah banget kalau kamu keterima di sana. Jangan disia-siain demi mikirin pacar kamu ini. Pendidikan itu penting, right?" Katanya bijak.

Aku bersyukur seketika mendengar jawabannya. Walau kadang dia suka bergurau, tapi dia orang yang bijak. Tahu menempatkan kata-kata dalam situasi dan membuat aku nyaman dengan keputusanku.

"Makasih, Sayang," kataku terharu lalu menghambur ke pelukannya. Aku sangat sangat bersyukur. Tuhan memberikan aku orang-orang yang begitu mendukung keputusan dan impianku.

"Sama-sama, Sayang. Lagian, 'kan lumayan kamu bisa bernostalgia ketempat-tempat kenangan kita saat liburan dulu? Anggaplah itu aku, jadi kamu tidak merasa kesepian dan sendirian," jawabnya. Aku kemudian meregangkan pelukan dan menatapnya heran.

"Apa tadi itu gombal?"

"Hehehe. Sedikit. Boleh dong? Nanti kamu di sana nggak bakal bisa dengar gombalan aku secara langsung, lho," katanya ngeles.

"Haallah.. Pede sekali!" Aku mencibir, kemudian pergi meninggalkannya, mengambil piring dan menuju dapur untuk mencucinya.

***
Benar kata artikel-artikel yang pernah aku baca. Bahwa tidak ada lagi yang namanya hubungan yang gengsi, yang jaim, dan sok romantis seperti drama dalam hubungan pacaran yang sudah memasuki waktu tahunan.

Aku sudah merasakannya, bahkan hal-hal candaan gurauan, ejekan, dan saling meledek adalah hal yang romantis. Dan aku kembali bersyukur mengingat dia adalah sosok yang tidak kaku. Dia suka bercanda, tapi dia bisa romantis juga dengan caranya sendiri.

***

"Semua barang-barangmu sudah lengkap?" Tanyanya suatu hari ketika membantuku menyiapkan semua keperluanku untuk ke Paris.

"Sudah, Sayang. Stok baju, celana, dalaman sampai mantel tebal juga sudah aku siapkan. Bahkan, cemilan juga sudah," jawabku sembarangan. Dia yang paling sibuk menyiapkan barang-barangku, bahkan mama tidak seheboh dirinya.

"Ya sudah kalau begitu. Ini.." Dia menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang diikat sebuah pita.

"Apaan?"

"Bawel ih.. Buka saja," jawabnya tidak sabaran.

Aku lalu membuka kotak itu dan melihat isinya. Kaos kaki dan sarung tangan hangat berwarna pink masing-masing 2 pasang. Aku terharu, dia tahu betul bahwa aku tidak kuat dingin. Aku tidak bohong 'kan waktu aku bilang dia romantis dengan caranya sendiri? Inilah cara dia menyampaikan sikap romanatisnya.

"Makasih. Lucu banget!" Kataku lalu mencium pipinya singkat.

"Sama-sama, Sayang. Lagi dong yang lama. Yang kanan belum," katanya sok manja sambil menyodorkan pipi kanannya.

"Ih. Jangan mesum," jawabku sambil mencubit pipi kanannya. Dia hanya cengengesan.

***

"Yang. Kamu jaga diri baik-baik ya di sana, sekolah yang bener, belajar yang baik, raih prestasi, cari teman sebanyak-banyaknya, tapi jangan cari aku yang lain di sana. Oke?" Katanya serius sambil menoel ujung hidungku.

"Iya, Sayang. Aku akan ingat wejangan berhargamu ini. Tapi jangan lupa, kamu pun harus melakukan apa yang kamu katakan barusan. Integritas, oke?" Jawabku. Kami saling menasehati.

"Aku akan menunggumu di musim berikutnya," katanya lagi.

"Tunggu aku di musim berikutnya!" bisikku sambil menatapnya.

***

Terasa seperti perpisahan yang menyedihkan. Kami saling tatap menatap, kurasa dia semakin mendekat, semakin dekat sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya, lalu aku menutup mataku, kemudian aku merasa..

Aku merasa hp-ku bergetar! Dddrrt… Ddrrttt..
Getaran hp ini menarikku kembali ke alam sadarku. Astaga! Aku ternyata melamun dari tadi. Aku senyum-senyum sendiri begitu menyadarinya. Untung kafe ini sedang sepi pengunjung.

Ku lirik hp itu untuk melihat peneleponku, dan seketika senyumku mengembang semakin lebar ketika mengetahui siapa yang menelepon. Ku lihat keluar jendela, salju sedang turun. Sambil menyeruput cokelat yang mulai tidak panas lagi, aku menjawab panggilan masuk itu.

"Halo. Aku kangen!"

Seandainya sang waktu dapat mengerti, tak akan ada rindu yang terus mengganggu, kau akan kembali bersamaku.

Tunggu aku di musim berikutnya. Bersabarlah..