Berawal dari kosong-kosong, lalu bertemu dan saling terikat satu sama lain. Akupun mungkin sudah lupa, kapan dan dimana pertama kali kita semua bertemu, tapi, hal terpenting yang tidak ingin kulupakan, kita adalah sahabat. Aku tahu, terkadang waktu memaksa kita untuk berjauh-jauhan, tapi bukan berarti jarak menjadi alasan kita untuk tidak bersahabat. Aku tahu, masih banyak hal penting di kehidupan kalian, setidaknya tempatkanlah sahabat tepat dibawah orang tuamu. Bukan berarti dengan keberadaan sahabat, orang-orang yang kau sayangi disekelilingmu terlupakan.

Semenjak bertemu dengan kalian (sahabat), aku sudah lupa dengan dua hal di dunia ini, tangisan dan kesedihan, yang ada hanyalah senyuman dan kebahagiaan. Meskipun, kata pepatah teman yang baik adalah yang membuatmu menangis, tapi bagiku tangisanku bersama kalian adalah hal paling menyenangkan. Terkadang kita layaknya kapal yang diterpa ombak, berguncang dan sesekali hampir terbalik dan hancur. Itu adalah hal biasa, berarti Tuhan tahu, kita memang layak menjadi sahabat. Semakin banyak ujian yang datang, akan semakin kuat persahabatan kita.

Kini hidup ini sendiri, langkah kakiku berjalan sendiri ditepi pantai, sambil menikmati lukisan alam yang indah. Arus kehidupan memang susah untuk ditebak, ada waktunya kita bertemu, dan tak tahu lagi kapan kita akan dipertemukan. Selalu kutitipkan doaku kepada Tuhan, agar kesehatan selalu bersama kalian. Matahari pun terbenam dengan indahnya, pemandangan ini sudah kusaksikan setiap harinya, sembari menunggu berita dari sahabatku. Kabar dari kalian tak kunjung datang, tenang saja aku akan setia menunggu datangnya kabar. Yang tertinggal sekarang hanya memori indah itu, semua memori yang pernah kita bangun dan lalui dahulu.

Teruntuk kalian yang pernah jadi Sahabatku, hanya tulisan ini yang bisa kusampaikan.