"aku akan ke Jakarta, mungkin bersama bapak dan adek"

"terus aku gimana"

"kamu ya disini aja, kalo jodoh kita akan ketemu"

Itu gurauan kita dulu, atau mungkin kamu memang sudah merencanakannya? Sudah setahun lalu kamu pergi tinggal kan semua tentang kita. Kembali ke kota asal mu. Mungkin kamu sudah bahagia disana, bertemu dengan banyak orang baru, melupakan semua kisahmu di kota ini, melupakanku

Mungkin sudah kau temukan seorang yang sejalan, serumah ibadah dengan mu disana. Mungkin hanya aku yang bodoh, yang masih terpuruk didalam nostalgia singkat bersama mu. Tapi taukah kamu, ini melebihi sakit saat semua teman mencampakanmu.

Sampai aku tak punya daya untuk melangkah pergi, membuka pintu hati untuk yang baru. Tau kah kamu, aku terlalu takut, takut untuk menanti begitupun untuk melangkah. Harus kah aku terdiam ditempat yang sama? terpuruk dalam nostalgia. Haruskah aku hanya diam dan menitikan air mata, sementara kamu tertawa lepas bersama yang baru,
Hanya karna kisah yang kau usaikan sebelah pihak.

Aku hanya dapat memohon,

Advertisement

"Tuhan jaga dia, luruskan jalannya, terangi setiap langkahnya, walau ku tau aku takkan pernah bersama mu"

Tak ada yang dapat aku sampaikan selain Terima Kasih, atas semua pengalaman ini, atas semua pelajaran kedewasaan yang tanpa sengaja kau ajarkan. Terima Kaish telah menjadi teman terbaik selama kita bersama.

Doa ku semoga kelak aku dapat melihatmu bahagia, dan kau pun melihatku bahagia, menguntai masa depan indah seperti yang pernah kita curahkan berdua, bedanya dulu itu KITA dan sekarang KAU dan AKU, berjalan masing – masing untuk mengapai asa memberikan yang terbaik untuk orang tercinta.

Salam ku untuk mu, yang mungkin takkan pernah kembali ke kota ini. Jaga dirimu baik – baik jadilah seorang yang dapat dibanggakan keluarga, akan selalu ku doakan dirimu dari sini, agar aku juga lekas dikuatkan oleh doa – doa itu.

Terima Kasih atas segalanya…