Senyumnya yang ramah, bicaranya yang lembut, santun bahasa, dan begitu sempurna untuk ukuran seorang perempuan. Kali ini saya menceritakan pengalaman teman dekat saya yang begitu sempurna, akan tetapi dia mempunyai kekurangan dalam pendengaran. Begitu saya lihat, dia sama sekali tidak ada keterbatasan yang dia miliki. Tapi sesungguhnya dia perempuan tuli yang sedang berjuang untuk penyandang disabilitas di Yogyakarta.

Awalnya saya kenal saat dia berkunjung di acara Temu Inklusi 2016 di Lendah, Kulon Progo, Agustus lalu. Saya mengenalnya cukup ramah dan berani serta mandiri untuk datang di Yogyakarta. Saya kira dia hanya datang ke acara saja, ternyata dia lanjut mencari pekerjaan di luar kota yang jauh dari kampung halamannya, Purbalingga. Sungguh berani mengambil keputusan yang sangat nggak memungkinkan untuk ukuran orang dengan status penyandang disabilitas di Yogyakarta.

Awalnya saya kenal dia hanya sebatas kenal saja. Akan tetapi, saat saya ingin tahu lebih dalam, ternyata dia penulis buku, Aku Bangga Menjadi Tunarungu. Sungguh dugaan yang nggak bisa saya pikirkan, menulis buku membutuhkan proses yang panjang dan lama, serta penerbit juga belum tentu langsung mau menerbitkan buku. Bagaimana tidak? Seorang perempuan dengan menyandang disabilitas pendengaran (tuli) mampu menerbitkan buku.

Tidak hanya menerbitkan buku, ada segudang prestasi yang dia raih, yaitu dengan lulusan Sarjana Sosial dengan lPK sangat memuaskan dari jurusan Sosiologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Serta hidup dari jauh dengan kata inklusi, yang artinya dia bisa melampaui semuanya di kota kelahirannya, Purbalingga. Kota yang sejuk dengan lereng Merapi dekat Baturaden. Dia sendiri aktif di organisasi penyandang disabilitas di Yogyakarta. Dia aktif di komunitas seni tuli Yogyakarta yang biasa disebut Deaf Art Community Yogyakarta dan DPD Gerkatin Yogyakarta. Sungguh hebat.

Dia bisa melakukan perubahan yang menurut saya masih tergolong sedikit dan saya salut, dampak dari perubahan yang dia buat justru bisa meningkatkan teman-teman penyandang disabilitas untuk berkembang. Dia sangat peduli sama teman-teman senasibnya yang mempunyai kesulitan mengeja bahasa Indonesia, dengan senang hati dia mau membantu meskipun dia sendiri juga seorang disabilitas tuli. Tapi saya juga tidak menyangka dia bisa hebat mengeja bahasa dengan baik dan benar. Padahal biasanya, penyandang disabilitas tuli minim akan bahasa karena terbatasnya informasi melalui pendengaran.

Advertisement

Saya salut dengan ucapan dia yang begitu istimewa di benak saya,

"Siapapun orangnya, di manapun kamu berada, dan kalian semua mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang bersama termasuk penyandang disabilitas".

Saat ini, Santi bersama rekan sedang membangun proyek social enterprise dengan tujuan untuk membantu dan memberdayakan penyandang disabilitas agar bisa mandiri dan berkembang bersama untuk kemajuan. Good luck untuk siapapun yang tidak lelah untuk berjuang demi kebaikan untuk penyandang disabilitas. Sukses.