Hai, Bu.

Apa kabar, Bu di sana? Aku sering titip rindu pada Tuhan. Aku tahu rinduku pasti disampaikan-Nya bersamaan dengan cerita bagaimana caraku menangis ketika rindu itu datang, cengeng dan menyebalkan. Akhirnya aku bertemu lagi hari ini, 22 Desember untuk yang kedua kalinya. Orang biasanya menyebut ini 'Hari Ibu' dan semua berlomba-lomba untuk merayakan bersama Ibunya. Hampir semua postingan teman sosial mediaku hari ini adalah tentang ibu, berfoto dengan ibunya, memberikan hadiah, dan hal indah lainnya.

Lalu aku? Aku hanya bisa membuka galeri foto lama di ponselku, memilih foto mana yang bisa aku posting. Dan… Bu, aku mulai kesulitan memilihnya, karena ternyata stok foto bersamamu tak sebanyak yang aku kira. Bahkan aku takut karena memoriku mulai pudar menyimpan bau aroma tubuhmu, hangatnya pelukanmu saat aku sulit tidur, dan rasa masakan favoritku buatanmu. Bagaimana ini? Aku rindu, Bu.

Aku ingat sekali, 22 Desember tahun lalu aku sempat mengurung diri dan enggan membuka sosial media. Iya, aku cemburu. Cemburu pada mereka yang bisa dengan bebas memeluk ibunya, mencium pipi ibunya, merasakan hangat genggaman tangannya. Aku iri. Dan hari ibu tanpamu disini, masih tetap sulit buatku.

Bu, aku selalu yakin Tuhan pasti menjagamu dengan baik. Karena Ibu sudah berhasil menjagaku, menjaga kami -adik dan bapak- juga dengan sangat baik. Bahkan sampai sekarang aku tau Ibu selalu menjaga kami, entah dengan cara apa dan bagaimana.

Advertisement

Ibu adalah sosok wanita terbaik yang pernah Tuhan ciptakan. Ibu bentuk impianku ketika aku beranjak menjadi Ibu nanti. Aku selalu ingin menjadi seperti ibu.

Sejak dua tahun lalu Ibu pergi, sedikitpun aku tak pernah merasa kehilangan sosoknya. Ibu buatku tidak pernah benar-benar pergi, hanya saja berubah bentuk menjadi 'keyakinan dan semangat' di dalam diriku.

Jika sampai hari ini pun aku masih menangis, itu perihal aku merindukan Ibu. Bukan tangisan kehilangan akan sosok yang selalu aku sebut 'Ibu'. Dan hari ini bersamaan dengan hari Ibu, rinduku memuncak.

Dan untuk semua anak yang merasakan hal yang sama denganku. Tenang saja, Doa-doa kita akan selalu sampai dan membahagiakan untuknya.

Ibu, Selamat hari Ibu, Bu.. Rinduku sudah memuncak sebesar gunung himalaya walaupun kepergianmu belum genap dua tahun lamanya. I love you more than anything, Bu.

Note: If you want to see my story completely about my mom, you can visit my blog on this link >>> https://goo.gl/NEE9So