Masalah aku adalah aku selalu menemui laki laki yang salah, entah aku yang salah atau mereka yang salah. Sepertinya perlu beberapa alasan untuk mengungkapkan bahwa aku yang salah. Wanita memang selalu tidak bersalah, dan lelakilah yang salah. Seharusnya aku tau, aku harus mengambil hikmah dari kejadian sebelumnya, namun saat itu terjadi kepadaku, aku seakan buta, tak ingat dengan apa yang telah terjadi, hubungan ku dengan beberapa lelaki yang berujung tanpa sebuah hasil, tak menjadikan ku belajar dari pengalaman.

Jujur untuk merasakan cinta itu sulit, aku tidak bisa menumbuhkan rasa cinta hanya pada pandangan pertama, aku harus mengenal siapa dia, apakah dia memiliki visi dan misi yang sama dengan ku, mungkin beberapa orang beranggapan aku terlalu sulit alias riweuh alias rempong alias ribet, karena untuk jatuh cinta saja harus memiliki beberapa alasan yang kuat. Itu adalah aku dan memang berbeda dengan yang lain, mengapa demikian? Semua itu karena sikapku yang susah move on, apabila aku telah jatuh cinta pada satu lelaki, bayangan lelaki itu akan menigsi seharian penuh dipikiranku, membuat aku ingin selalu mengetahui kabarnya, menghubunginya, atau menemuinya, ingin selalu ada bersamanya. Jika aku menanamkan benih benih cinta pada setiap lelaki yang kutemui, bisa berapa lama waktu yang aku perlukan untuk menghapus memori ku tentang dia, tentunya bukan waktu yang sebentar dan itu sangat menyiksaku. Aku putuskan untuk lebih selektif menumbuhkan rasa cinta pada lelaki.

Saat aku bertemu lelaki yang "berbeda" dengan lelaki yang aku temui sebelumnya, aku tersenyum bukan hanya bibirku tapi hatiku juga. Setelah sebelumnya menjalin hubungan dengan sebuh keterpaksaan, karena aku terpaksa untuk mengikuti pola pikirnya yang simple, aku merasa bukan saatnya untuk cinta dan memilih single untuk sementara waktu. Sekali lagi bukan salah ku menyalahkan pola pikirnya yang simple, lelaki itu hanya berpikir bagaimana nanti bukan nanti bagaimana, sehingga step step yang ingin aku capai bersama dalam waktu yang sudah kutentukan seolah jauh dari target.

Seolah menyesal dengan keputusan menjalin hubungan tanpa dasar yang kuat, sehingga aku ciptakan dasar dasar mengapa aku siap untuk menjalin hubungan baru, yang pada akhirnya menyulitkanku menemukan pasangan. Aku tertarik dengan orang yang visioner, memiliki pola pikir jauh kedepan, cukup matang, dewasa di usianya dan mewujudkannya dengan action yang nyata.

Aku berteman dengan beberapa lelaki, namun entah situasi apa yang membuatku dekat kembali dengan laki laki itu, lebih dekat dari sebelumnya. Waktu membuat dia lebih sibuk dan hebat dari sebelumnya, setelah dia lulus dari Institut Teknologi di Jawa Timur, dia bekerja di perusahaan milik Korea di Indonesia, kita beretemu dan ngobrol tentang kesibukan dia, ternyata dia juga pergi ke Korea untuk membahas project kerjanya, cara dia menyampaikan pengalamannya itu berbeda, dia cerita tentang warga korea yang tubuhnya kebanyakan tidak overweight, dikatakannya tentang pola hidup yang sehat yaitu menjaga pola makan, yang berbeda dengan orang Indonesia yang sebagian besar tidak menjaga kesehatannya dengan cara menjaga pola makan. Dia pun menerapkan pola makan sehat seperti orang Korea yaitu diet karbo. Setelah itu, dia memiliki plan untuk melanjutkan pendidikannya keluar negri, aku tau ketika aku menemukan buku TOEFL di mobilnya. Aku semakin kagum dia benar benar cerdas dan visioner.

Advertisement

Saat aku berbagi cerita dengan teman wanitaku saat kumpul bersama, aku ceritakan hal ini. lalu pertanyaan mereka, "Lo hanya suka cowok cerdas dan visioner? Kalau mukanya jelek dan ga tajir gimana?". Aku bilang, selalu ada alasan untuk mencintainya, tanpa tampang dan harta. Kemudian, teman ku yang lainnya berkata, "Mungkin lo itu sapiosexual!". Kemudian responku "What? Sapiosexual? Gue ga suka sapi kok". "Bukan suka sapi, tapi ketertarikan dengan lawan jenis yang memiliki kecerdasan, dan menjadikan satu satunya kecerdasan sebagai faktor utama." jawab temanku.

Mungkin ini yang disebut sapiosexual, dan aku menikmatinya.