Siapa sih yang ngga kenal Sarkem? Singkatan dari Pasar Kembang yang terletak di Sosrowijayan, Yogyakarta. Tanpa perlu menjadi orang Jogja pun sudah banyak yang tahu eksistensi Sarkem ini. Dijamin, Sarkem sama famous-nya dengan Saritem di Bandung, atau eks Dolly di Surabaya.

Nama Sarkem sendiri diambil dari singkatan Pasar Kembang, yup di gang antara Sosrowijayan Kulon dan Sosrowijayan Wetan emang ada pasar yang khusus jual kembang atau bunga, so familiar disebut Sarkem. Mungkin, istilah Sarkem ini kemudian jadi populer karena orang-orang ngira pasar kembang memang pasar yang jual "kembang' atau gadis-gadis malam. Who knows?

Eits, jangan mikir negatif dulu pas mau baca artikel ini. Bukan mau nelanjangin Sarkem dan ngajakin temen-temen buat dateng dan jajan di sini. Bukan sekarang setidaknya.

Jika stigma orang-orang cenderung negatif ketika mendengar kata Sarkem dan langsung mengaitkannya dengan kehidupan malam, it's okay. Memang begitu adanya dan tidak ada pihak yang (mungkin) bisa membantah ini. But, every shape has it sides. Let's see hal lain yang mungkin belum banyak diketahui tentang Sarkem.

1. Sarkem Sudah Ada Sejak Jaman Belanda

Advertisement

Yup, Sarkem itu sudah terbilang lokasi prostitusi yang cukup tua, tepatnya sejak tahun 1880-an. Awalnya, Belanda yang saat itu bangun Stasiun Tugu (yang berlokasi di utara Sarkem) banyak memakai tenaga atau kuli dari luar Jogja, dab. Nah karena hal itulah banyak kuli masih bujang dan ngga membawa istri, mereka pada "jajan" dengan wanita di sekitar lokasi proyek dan kuli perempuan bro. Alhasil, tradisi itu jadi awal terbentuknya Sarkem yang masih eksis sampai saat ini,

2. Sarkem Itu Layaknya Kampung Biasa

Jangan dikira kalau seluruh penghuni Sarkem adalah wanita pekerja seks bro. Kamu salah. Di Sarkem, banyak juga rumah-rumah warga biasa yang netral dari bisnis ini. Bahkan buat nunjukkin hal itu mereka nulis "Rumah Tangga" di pintu-pintu mereka. Pada dasarnya mereka juga keluarga biasa dengan anak-anak yang masih bersekolah dan suami istri yang bekerja. Lebih keren lagi, di kompleks Sarkem terdapat sebuah TK buat anak-anak yang tinggal di Sarkem. Keren kan!

3. Mayoritas Wanitanya Justru dari Luar Jogja

Mungkin kebanyakan orang-orang ngira kalau wanita PSK-nya adalah orang Jogja. Salah lagi, dab. Saat ini, mayoritas yang jadi pekerja seks justru orang luar Jogja, tepatnya daerah pantura Jawa Tengah. Usianya pun juga variatif dari belasan tahun hingga limapuluhan guys.

4. Sarkem itu Ilegal

Kalau kamu ngira Sarkem itu legal dan dilindungi pemerintah, sekali lagi kamu salah bro. Sampai saat ini sebenarnya Sarkem itu ilegal, buktinya peraturan tahun 1954 yang melarang eksistensi Sarkem. Dulu sudah sering dirazia dan dipindah tapi tetep aja rame. Akhirnya, pemerintah cuma mendampingi aja nih, dalam bentuk pelayanan kesehatan. Udah capek mungkin ya.

5. Tidak ada yang Mau Kerja di Sarkem

Mari renungkan guys. Jika kalian pikir orang-orang itu sukarela dan bahagia kerja di Sarkem, lebih baik buang jauh-jauh pikiran itu. Sekali lagi nih, ngga ada yang mau kerja jadi pelacur, siapapun itu. Mereka itu menyembunyikan identitasnya di Sarkem karena mereka bohong sama orang-orang di rumah mereka. Tapi kok kelihatannya mereka bahagia pas kerja? Itu tuntutan pekerjaan, bro. Semua orang harus senyum pas kerja kan? Termasuk mereka yang harus ramah dan tersenyum terus tanpa cela. Padahal di sisi lain mereka menangis, but you don't know it.

Oke itu tadi beberapa hal lain yang mungkin bisa menggambarkan sisi lain dari Sarkem. Boleh main-main dan buktikan kok, tapi resiko tanggung sendiri ya. By the way, don't judge anything you doesn't know!