Apa itu jodoh?

Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa begitu sederhana; di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana, yang telah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu sehingga sering kali hanya menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.

Tetapi laut, ombak dan isinya selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalihan perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

-Jodoh, Fahd Pahdepie-

Pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa jodohmu? Atau pun ketika kamu sudah menikah, masihkah kamu menimbang-nimbang, apakah pasanganmu yang sekarang adalah jodohmu?

Saya membaca tumpukan buku perihal jodoh. Mendengarkan serangkaian ceramah, motivasi atau apapun yang saya pikir darinya akan saya terima jawaban perihal jodoh itu sendiri.

Jodoh terlalu sederhana untuk di cari tahu pengertiannya. Sekalipun logika saya memperhitungkannya dengan rumus-rumus yang diciptakan para jenius. Saya tetap saja merasa, jodoh tidak pernah dapat saya temui makna yang sebenarnya.

Apa itu jodoh?

Advertisement

Mungkin, jika jatuh cinta bisa diibaratkan Hukum I, II, dan III Newton yang berulang kali dituliskan Fahd dalam buku-bukunya; Hidup Berawal dari Mimpi & Jodoh. Tidak demikian dengan jodoh.

Hukum Newton I; Setiap benda tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak dengan laju tetap sepanjang garis lurus, selama tidak ada gaya yang bekerja pada benda tersebut atau tidak ada gaya total pada benda tersebut.

Saat seseorang yang pada akhirnya membuat kita jatuh cinta belum hadir, hidup kita stabil dan lurus-lurus saja seperti benda yang tetap berada dalam keadaan diam. Tapi kemudian, gaya total itu datang. Sosok yang membuat kita jatuh cinta, jatuh begitu saja.

Enggak percaya? Awalnya pun saya merasa bingung, apa kaitannya hukum Newton dengan jatuh cinta? Tapi kemudian saya memahaminya setelah merasakannya. Bagaimana kalau kamu mencobanya! Mulai menghitung detak jantungmu setiap menitnya, berapa rata-rata yang kamu peroleh, lalu lakukan hal yang sama ketika kamu melihat, bertemu bahkan berbicara dengan sosok itu. Jika degup jantungmu selalu bertambah kencang detaknya, saat itu kamu harus mengakuinya, kamu sedang jatuh cinta.

Hukum Newton II; Jika suatu gaya total bekerja pada benda, maka benda akan mengalami percepatan, dimana arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya. Vektor gaya total sama dengan massa benda dikalikan percepatan benda.

Mau bilang apalagi? Kamu sudah mulai menghitung perbandingan degup jantuk normalmu dan degup jantung ketika kamu melihat, bertemu atau berbicara dengan ia yang membuatmu jatuh cinta? Atau lebih sederhana, degup jantungmu akan tiba-tiba mengalami percepatan ketika kamu menerima pesan singkat darinya. Mengertilah, jatuh cinta memang kerap kali konyol! Kamu bisa juga mencobanya dengan seseorang yang sudah lama bersamamu. Siapa saja, mungkin kamu akan mendapatkan dirimu sedang jatuh cinta dengan sosok itu, hanya saja kamu terlambat untuk menyadarinya. Cinta tidak pernah terlambat, kita yang sering kali terlambat untuk menerimanya.

Apakah hukum I dan II Newton sudah mampu membuatmu tersenyum sambil menganggukan kepala?

Okay!

Katanya, cinta adalah perbedaan. Seseorang yang pendiam akan kerap berdampingan dengan seorang pasangan yang gemar berbicara. Seseorang yang lebih senang mendengarkan akan dipasangkan dengan seseorang yang suka di dengarkan. Seorang pemarah akan dipertemukan dengan si penyabar. Seorang yang tergesa-gesa akan menyatu dengan seseorang yang bertele-tele. Atau seorang yang lembut akan cocok dengan seseorang yang keras. Seperti magnet yang saling tarik menarik karena perbedaan dan akan tolak-menolak karena persamaan. Positif dengan negative saling menarik kuat. Sebaliknya, positif dengan positif atau negative dengan negative akan menolak kuat. Bukankah begitu?

Hukum III Newton; Apabila sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda kedua memberikan gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar yang sama tetapi berlawanan arah.

Jadi, dalam hukum I, II, dan III Newton; kamu mencintainya.

Mungkin kamu malas memikirkan tiga hukum itu, begini saja, ketika sejak awal tadi kamu membaca tulisan ini dan tanpa sadar membayangkan seseorang, akuilah, kamu mencintainya!

. . .

Lalu bagaimana dengan jodoh?

Apa hukum I, II, dan III Newton itu berlaku untuk jodoh? Entah!

Terlalu banyak kisah luar biasa perihal jodoh; tentang mereka yang saling mencintai namun tak berjodoh. Tentang mereka yang sudah bertunangan tapi kemudian batal menikah. Tentang mereka yang semula tak sama-sama cinta, lalu menyatu di pelaminan. Tentang mereka yang lama berpacaran, pada akhirnya menghabiskan sisa hidup dengan masing-masing orang yang berbeda. Tentang mereka yang tak pernah saling mengungkapkan cinta, dikemudian hari manjadi suami isteri. Tentang cinta diam-diam yang pada akhirnya sama-sama mencintai. Tentang, tentang dan tentang..

Satu hal yang saya pahami; jodoh sejatinya sederhana, bukan drama.