Aku adalah orang yang tidak mudah untuk mencintai, namun sekali aku jatuh cinta maka aku akan setia pada perasaanku. Karena sifatku yang tidak mudah mencintai, selama 25 tahun hidupku aku baru mengalami 4 kali jatuh cinta. Dari empat pria yang pernah mewarnai hari-hariku, ada 1 orang yang paling berkesan bagiku. Menurutku, ini adalah pengalaman jatuh cintaku yang paling berkesan.

Dia adalah cinta keduaku, namun paling berkesan. Sering orang bilang cinta pertamalah yang paling berkesan, namun hal itu berbeda denganku. Hal ini terjadi saat aku SMP kelas 2. Aku menyukai kakak kelasku yang duduk di kelas 3. Dia orang yang sangat pandai dalam bidang akademis, khususnya matematika dan fisika. Dia memiliki logika yang sangat kuat.

Saat itu, dia menjuarai olimpiade matematika tingkat nasional. Meskipun dia sangat pandai, namun kepribadiannya sangat baik. Dia ramah, tidak sombong, sederhana dan murah hati. Dia ke sekolah selalu naik sepeda onthel, di saat teman-teman lain di antar pakai mobil. Dia selalu mau mengajari teman-teman yang bertanya tentang pelajaran sulit padanya, dan dia tidak pilih-pilih teman dalam bergaul. Dia orangnya asik diajak bergaul. Dia bukan orang yang kutu buku, justru dia malah jarang belajar. Dia lebih suka main game dengan teman-temannya.

Di samping sifat-sifat baiknya, seperti orang pada umumnya, dia juga punya kelemahan. Dia adalah orang yang cuek, khususnya dalam hal penampilan karena selalu hanya memakai kaos dan celana jins kemanapun pergi. Dia juga pemalu orangnya. Kalau bertemu dengan orang baru atau dengan teman perempuan, dia tidak akan banyak bicara, bahkan kadang sama sekali tidak bicara.

Aku menyukai dia karena karakternya. Aku tidak menilai penampilan sebagai hal yang utama. Dia yang pandai, namun tidak sombong dan tetap hidup sederhana. Walaupun lahir dari keluarga berada, membuatku menilai dia berbeda dari lelaki lain. Awalnya aku tidak begitu mengenalnya. Hanya sekadar tahu karena dia kakak kelasku, namun yang namanya suka selalu ada saja akalku untuk bisa mengenalnya.

Advertisement

Mulailah aku menyapa, mengajak ngobrol, bahkan sampai bertanya pelajaran sulit padanya. Aku juga mengikuti berita tentangnya di koran-koran. Setiap dia menang lomba pasti akan dimuat di koran. Dan keesokan harinya aku akan memberikan selamat padanya. Lama-lama kami jadi lebih kenal dan lebih sering ngobrol. Hal itu terjadi setiap hari hingga kami masuk SMA.

Sempat ada jeda 1 tahun saat dia masuk SMA lebih dulu dan aku masih kelas 3 SMP, namun itu tidak menghalangi kami untuk ketemu dan ngobrol karena kami adalah teman gereja. Karena aku menyukainya, aku ingin masuk SMA yang sama dengannya, maka aku berusaha keras agar bisa mewujudkan impianku. SMA tempat dia belajar adalah sekolah negeri terbaik di kota kami. Tak heran, jika banyak orang ingin masuk sekolah itu. Dengan doa dan usaha, aku akhirnya bisa sekolah di SMA yang sama dengannya.

Sampai SMA, perasaanku padanya tidak berubah, justru malah semakin kuat. Aku pun mulai mendekati teman-teman dekatnya untuk bisa tahu lebih banyak tentangnya. Di SMA, aku mulai lagi mendekatinya dengan mengajak ngobrol dan bertanya tentang pelajaran sulit padanya. Setiap hari ada saja ideku untuk bisa berinteraksi dengannya, mulai dari sengaja jalan lewat depan kelasnya, mengintip kegiatan kelasnya hingga bertanya pelajaran sulit padanya. Hal ini terjadi hampir setiap hari hingga suatu hari aku beranikan cerita pada salah seorang teman dekatnya.

Apa yang dia ceritakan cukup membuatku agak terganggu. Teman baiknya bilang kalau dia sebenarnya masih menyimpan perasaan pada salah seorang teman yang dia kenal saat SMP. Mereka satu sekolah saat SMP dan 1 angkatan. Mereka sempat saling menyukai, namun pada akhirnya entah kenapa si cewek memilih cowok lain. Saat aku dengar cerita itu, aku cukup kaget karena kejadiannya sudah berlalu sekitar 3 tahun saat itu, namun dia masih belum bisa melupakan. Cerita itu tidak membuatku mundur. Aku tetap menyukainya dan berlaku seperti saat aku belum mendengar cerita itu.

Perjalanan cintaku padanya berlangsung selama SMA tanpa sebuah kejelasan. Dia sama sekali tidak menggubris perasaanku, entah karena memang tidak menyukaiku atau karena dia tidak tahu kalau aku menyukainya. Dia tetap stay cool aja, tapi menanggapi aku dengan baik layaknya teman baik. Saat SMA, aku ikut program akselerasi (SMA hanya 2 tahun) sehingga aku bisa lulus bersama dengan teman-teman yang reguler (SMA 3 tahun), termasuk dia.

Tibalah saat kelulusan kami. Aku ingin kejelasan saat lulus SMA karena aku tidak mau hal ini menggantung terlalu lama, lagipula dia akan melanjutkan kuliah di luar negeri sedangkan aku tidak. Saat itu, aku putuskan untuk memberitahu perasaanku padanya. Tidak peduli bagaimana responnya dan tidak berharap dia menyukaiku juga, aku hanya ingin bilang agar aku bisa merasa lega.

Malam terakhir, sebelum keesokan harinya dia harus terbang ke luar negeri, aku mengirim SMS mengatakan perasaanku yang selama ini kupendam. Seperti yang aku duga, responnya sangat cool. Dia hanya menjawab "Thanks" tanpa embel-embel apapun. Saat itulah aku merasa sangat sedih dan mungkin ini yang disebut patah hati. Aku bahkan sempat merasa tidak berharga, bingung apa yang kurang dariku sehingga dia tidak menyukaiku dan kesal. Sejak saat itu aku sudah jarang kontak dengannya. Ada kontak tapi hanya beberapa kali dan tidak intens seperti sebelumnya. Kami ketemu juga hanya saat dia libur dan pulang ke Indonesia.

Saat itu aku mulai introspeksi diri. Apa saja yang kurang dari diriku dan perlu aku tingkatkan. Aku mulai berpikir bahwa kalau dia orangnya sangat pandai, sampai memenangkan olimpiade tingkat Asia (saat SMA dia mendapat medali perak dalam olimpiade Fisika se-Asia), aku yang tidak sepandai dia tidak bisa bersanding dengannya. Aku membandingkan diri dengan wanita yang disukainya saat SMP. Dia adalah sosok yang pandai, cantik, ceria dan pandai dandan. Mamaku pernah bilang kalau cowok cenderung akan memilih orang yang sifatnya mirip dengan ibunya. Ibunya adalah orang yang keibuan, tenang pembawaannya, dan sabar.

Walaupun sedih, tapi aku tidak membiarkan diri bersedih terlalu lama. Aku tidak membiarkan perasaan mendikte hidupku. Aku mulai menggabungkan perasaan dengan logika. Banyak orang bilang, cowok lebih mengandalkan pikiran, sedangkan cewek mengandalkan perasaan. Aku tahu keduanya tidak baik karena yang satu ekstrem kiri dan yang lain ekstrem kanan. Aku mencoba menggabungkan keduanya sebisaku. Melalui pengalaman ini, aku mulai belajar meningkatkan diriku. Aku mulai belajar untuk memantaskan diri dari segala sisi. Mulai dari kepandaian, hingga kepribadian.

Soal kepandaian, aku tahu bahwa tiap orang dianugerahi talenta yang berbeda dari Tuhan. Ada yang diberi talenta 5, ada yang 2 dan ada yang hanya diberi 1. Jelas, bahwa aku tidak bisa seperti dia yang diberi talenta lebih dariku. Tapi aku percaya walaupun seseorang diberi talenta tidak banyak, jika dia mau berusaha sungguh-sungguh maka dia akan bisa memaksimalkan talenta yang dia miliki, bahkan lebih baik dari orang yang punya talenta lebih banyak namun tidak mau berusaha. Maka dari itu, mulai saat itu aku berusaha mati-matian untuk meningkatkan kemampuanku baik dari segi akademis maupun non-akademis.

Aku kuliah di jurusan akuntansi. Sejak kuliah aku sudah membiasakan diri banyak membaca berita seputar ekonomi baik di koran, televisi, internet, maupun buku kuliah. Aku mulai belajar menulis artikel di koran dan juga mengikuti lomba akuntansi mewakili kampus. Dari segi non-akademis aku belajar merajut, meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dengan melatih mendengar dan membaca, serta ikut kegiatan di gereja.

Dari segi kepribadian pun tidak ketinggalan. Aku mulai belajar dandan. Dari sebelumnya di mana aku tidak pernah dandan saat bepergian, hingga aku mulai bisa dandan yang paling sederhana. Aku juga melatih diri untuk memiliki sifat keibuan dan sabar. Aku mulai belajar peka terhadap lingkungan sekitar dan mau peduli serta memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekelilingku.

Pada intinya, sejak saat itu aku belajar banyak hal. Aku tidak hanya fokus pada patah hati, tapi lebih ke bagaimana aku bisa meningkatkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aku belajar bagaimana move on dengan tidak terlalu lama karena hidup tidak hanya mengenai satu orang. Hidup adalah tentang bagaimana seseorang mau terus belajar dan berbenah untuk mendapatkan yang lebih baik. Itulah sebabnya aku kasih judul artikel ini dengan “Say Yes to Patah Hati”.

Dengan mengalami patah hati, kita akan belajar bagaimana memantaskan diri, bagaimana meningkatkan diri dan bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Patah hati tidak selalu merupakan bencana. Bencana atau berkat tergantung dari cara kita menyikapi. Jika kita menyadari bahwa tiap hal yang terjadi dalam hidup adalah seturut kehendak Tuhan dan berusaha untuk menyikapi dengan positif, maka patah hati bisa menjadi berkat.

Memang ada banyak cara untuk seseorang bisa belajar, tidak harus selalu dengan patah hati. Tapi bukankah manusia cenderung baru mau belajar kalau sudah kena masalah? Jadi, patah hati merupakan satu ajang yang bisa digunakan sebagai batu loncatan daripada batu sandungan. Tergantung bagaimana kita memandang. So, jangan takut untuk patah hati ya kawan?

Sebagai penutup izinkan aku melanjutkan sedikit kisahku. Walaupun aku mau mulai belajar untuk tidak larut dalam kesedihan dan meningkatkan diri, namun aku masih tetap menaruh harapan pada temanku itu. Aku membuat komitmen pada diri sendiri kalau aku akan menunggu dia selama 3 tahun, hingga Juli 2011. Selama itu aku masih berharap kalau dia membalas perasaanku, aku mau menerimanya. Kuputuskan untuk menutup diri terhadap orang lain selama 3 tahun. Kuputuskan untuk memberinya kesempatan.

Pada akhir masa penantianku tetap tidak ada respon darinya. Saat masa penantianku akan berakhir, aku sudah tahu kalau perasaanku tidak akan bersambut. Akhirnya, aku melepaskannya di akhir masa penantianku. Aku menjalani hari-hari setelahnya dengan semangat baru dan tanpa penyesalan karena telah mengenalnya. Walaupun aku tidak bersamanya, namun aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik.

Aku sudah belajar bagaimana memantaskan diri. Aku belajar arti sebuah komitmen dan kesetiaan serta aku sudah pernah mengalami indahnya jatuh cinta. Di akhir artikel ini aku mau bilang terima kasih padanya karena pengalaman patah hati yang membuatku jadi pribadi yang lebih baik saat ini.