Ah, barangkali itu benar. Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sendiri sebagai 'saya'.

Kamu mungkin tidak tahu jatuh cinta macam apa yang telah kualami beberapa waktu belakangan ini. Iya, tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang perempuan. Jatuh cinta yang teramat diam-diam. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena saya mencintai huruf-huruf yang ditulisnya. Saya juga tidak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya saya yakin laki-laki normal lainnya pasti mengaguminya.

Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Saya tahu, saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu bahwa tak boleh mengulangi kesalahan yang sama, berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit).

Tapi jatuh cinta terkadang membuat kita pilih-pilih pepatah. Yang tepat dijadikan quote, yang tidak dibuang entah kemana. Jatuh cinta tak peduli bahwa seseorang yang bisa kita cintai mungkin tidak memiliki perasaan yang sama. Tak peduli. Begitulah, ia seperti bunga yang terus mekar ketika gerimis membasahi akar-akarnya. Sapaan "ciyee" dari teman-teman, pertemuan yang tidak disengaja, bahkan sekedar tanda like di facebook saja bisa menjadi pupuk mujarab yang menumbuhkan perasaan itu. Ya jatuh cinta, nyatanya mampu meningkatkan daya imajinasi kita. Berimajinasi bahwa dia juga jatuh cinta pada kita. Padahal kita tidak tahu apakah dia mempunyai perasaan yang sama atau tidak. Sehingga apapun yang dia lakukan, yang sebenarnya amat biasa, bisa jadi tidak biasa di mata orang yang sedang jatuh cinta. Saya sendiri sebenarnya lebih banyak berimajinasi bahwa dia sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama pada saya.

Ah, kenyataannya, hal-hal kecil yang sebenarnya wajar pun menjadi tidak wajar bagi saya. Di tengah kesibukan mengejar deadline kantor, mempunyai perasaan jatuh cinta diam-diam itu terkadang menenteramkan, hingga ketika kesibukan itu telah usai, saya baru menyadari bahwa namanya memenuhi nurani. Tak peduli dia sama sekali tak nampak di hadapanku. Ya dia.

Advertisement

Keikhlasan pun mulai patut dipertanyakan. Untuk dia atau untuk Allah ?

Dan teman terbaik adalah mereka yang membawamu pada jalan yang baik, meskipun itu menyakitkan untukmu. Begitulah.

"Well, bisa jadi perasaanmu justru menjadi penghalangmu untuk bertemu dengan jodoh sejatimu," kata teman singkat. Saya diam.

"Bersihkan hatimu. Nanti, kalau Tuhan mempertemukanmu dengan jodoh sejatimu, kamu bisa melihat semua dengan lebih jernih." Saya kembali diam.

"Aku tidak melarangmu jatuh cinta pada siapapun. Tapi jika jatuh cinta bisa membuatmu terbang, berharap penuh angan, padahal semuanya sebenarnya biasa saja, lebih baik engkau kelola perasaanmu lagi. Tanyakan lagi, apa benar itu jatuh cinta, kagum yang berlebihan, atau apa ? Sementara dia yang katanya kau "Jatuhi" cinta sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu. Kembalilah. Jangan terbang terlalu tinggi."

Sudah lebih dari beberapa minggu bahkan bulan yang lalu saya memutuskan untuk diam. Berhenti menulis. Karena begitulah caraku menjauh darinya. Bukankah dari huruf aku merasa jatuh cinta ? Maka karena huruf pula aku bisa berbunga-bunga tak karuan itu akhirnya lenyap. Hati pun kembali kosong dari imajinasi-imajinasi itu. Semudah itu. Hanya karena aku mau membersihkan hati dari ingatan-ingatan tentangnya, sebelum terlalu jauh menyusup relung hati. Ya, karena aku mau. Jatuh cinta, sebenarnya amat bisa kau kelola. Membiarkannya ada atau menjadikannya pelajaran. Biarkanlah ada bahkan terus ada jika komitmen sucimu pada Tuhan maha cinta telah kau ucap bersamanya.

Lalu, bagaimana dengan hati yang kosong ? Isilah dengan cinta-Nya. Karena mencintai adalah kata kerja, jika kau tak bisa melakukan apa-apa pada cintamu, maka diam saja dan bersabarlah. Tuhan mungkin masih memintamu menyiapkan diri sebelum kau bekerja untuk cinta.

Jatuh cinta, sejatinya adalah perasaan yang amat sangat wajar dan manusiawi. Tetapi mengelolanya adalah pilihan. Saya, hari ini, entah tidak tahu jatuh cinta pada siapa. Tidak ada. Semoga Tuhan menjatuhkan cinta hanya kepada pemilik tulang rusuk yang digunakan untuk menciptakanku.