Tolong biarkan saya keras kepala dalam hal ini. Biarkan luka ini sembuh oleh perban yang saya rajut sendiri. tetap tinggal setelah ditinggal pergi bukanlah kebodohan, hanya saja saya yakin kau akan pulang. Memandang senja setiap harinya,sama seperti mengulang kembali memori tentang kamu yang sudah lama saya biarkan membusuk dalam otak ini. Namun senja selalu menjadi alasan mengapa setiap sore saya memilih keluar. Saya tidak pernah lagi mencari-cari alasan mengapa saya masih ditempat yang sama di hati yang sama di mata yang sama. Kau akan selalu menjadi bagian dalam diri saya yang santun. Kau memang membelakangi dan beranjak kedepan, entah mengejar yang lebih indah atau memang bahagiamu bukan menjadi kewajibanku. Apapun itu, saya tidak pernah merasa harus pergi setelah kabarmu tidak lagi menjamahku. Keenggananmu untuk pulang sudah kumaklumi sedari awal mata ini sembab, saya mengerti bahwa tidak selamanya betah mu ada pada pelukku. Saya tidak sedang mendeklarasikan bahwa saya berada disini dan memilih tetap disini karna saya tidak mampu mendapat peluk yang lebih hangat selain kamu. Saya hanya ingin mengakhiri yang sudah dimulai dengan sebaik-baiknya, tidak ingin menjadikan banyak nyawa diluar sana menghangatkanku dalam hitungan detik. Saya tidak seperti kamu. Bisa dibayangkan bagaimana saya memeluk sepi setiap harinya. Bagaimana saya menelan rindu sendirian. Bagaimana rasanya hati ini sesak namun sebenarnya kosong. perlu kau tau bahwa saya masih disini, untuk membuktikan bahwa sayatan yang kau gambar di hati saya akan segera sembuh, sembuh karna saya sudah mulai ikhlas, ikhlas karna ternyata tuhan masih sayang hingga menendangmu jauh dari hidup saya. Satu yang saya terus ingat tentang rasa sakit, bahwa ia memiliki dua sisi, dapat membunuh nyawa manusia secara perlahan juga bisa membangkitkan lewat kesadaran yang akhirnya timbul berkat cambukan yang dialami. Sekarang saya mengerti bahwa saya berada disisi kedua. Saya sudah ikhlas. Terimakasih pernah datang.