Selamat pagi sayang,

Semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan, dimanapun kamu berjalan.

Ya, Kau memang selalu suka mendaki, Jika naik gunung itu ibadah, kau adalah hamba khusyuk yang selalu datang pertama di shaf depan dengan gagah.

Kau yang sering meninggalkanku sendiri, kadang membuatku "waswas" di sini. Aku di rumah membaca buku sembari menonton TV. Tapi taukah kamu bahwa aku sesekali ingin kau ajak mendaki? Diam-diam aku cemburu, bahwa lukisan Tuhan lebih menarik perhatianmu dari pada aku, Sabtu-Minggu kita tak bisa luangkan waktu demi penanjakanmu. Sebagai wanita, jelas sekali-dua kali aku merengek manja. Kamu perlu tahu, tak enak rasanya menghabiskan malam sendirian, sementara teman-teman lainnya punya bahu untuk bersandar dan tangan yang bisa digenggam.

Sayang, aku ingin mendaki bersamamu, tapi aku tahu medan yang ditempuh pasti tak semudah mengelilingi komplek rumahku, mau kah bersabar menuntunku?

Advertisement

Aku minim pengalaman, aku tahu pasti banyak barang bawaan akan bertengger di punggung saat melakukan pendakian, aku pun menyadari nantinya pasti akan merepotkan. Tapi maukah priaku ini tak sebal melihat hal ini? Semoga kau memaklumi.

Gadismu di sini tak biasa mendaki, hal ini pasti akan membuatku jauh lebih lamban dibanding kawan-kawanmu yang lain. Jika aku nantinya keteteran di belakang, ketika betis dan kakiku tak kuat dihajar tanjakan atau kesusahan untuk merangkak di bebatuan, ataupun nantinya pingsan di tengah jalan. Aku harap di raut mukamu tak ada penyesalan, aku harap kau selalu sigap dan menggenggam tangan.

Sampai nanti kita di puncak dan melihat keagungan Tuhan, betapa indahnya buah dari kesabaran, betapa manisnya hasil dari kelelahan. Kita rayakan kebahagiaan.

Kuyakin turunan selepasnya tak lagi terasa memberatkan karena sudah ada lenganmu yang sanggup jadi pegangan. Di sisimu hidup tidak akan serta merta ringan dijalani. Tapi aku punya daya juang yang mampu membuat kata menyerah pergi.

Selepas pendakian pertama ini, gadismu berjanji tak akan mudah mengeluh lagi. Sebab di sisimu, masa depan terasa lebih yakin kujalani.

Kelak, Anak-anak kita akan mewarisi ketangguhan yang sama seperti ayahnya. Mereka akan tumbuh jadi pejuang-pejuang gigih yang rajin mencumbui tiap jengkal Indonesia.