Sayang, kamu jangan berharap melihat sosokku yang cantik, anggun dan feminin. Ah mungkin itu hanya penampilan secara superfisial, aku yakin kamu tak melihat dan menerimaku dari hal itu.

Sayang, aku mungkin sedikit perempuan yang aneh. Aku sedikit tomboi namun hatiku tetap lembut kok. Buktinya aku kini berkencan dengan anak-anak SD yang setiap hari kuajarkan membaca dan menulis yang membutuhkan kesabaran dan kelembutan untuk menghadapi mereka. Aku sedang belajar itu sayang. Aku menyayangi anak didikku apalagi anak kita, sayang.

Sayang, aku sangat menyukai traveling. Aku suka berkomunikasi dengan alam. Aku suka pegunungan, danau, pantai, sungai dan semuanya tentang alam. Aku suka berpetualang. Nanti aku akan lebih suka jika kamu mengajakku mendaki gunung daripada berbelanja ke mall. Sayang, cita-citaku ingin menjelajah dunia sampai ke pelosoknya. Aku ingin melihat dunia lebih dekat lagi.

Kamu akan mengajakku kan sayang? Kita ajak anak-anak kita yang lucu dan menggemaskan jika dunia itu milik penduduk dunia. Kita ajarkan anak-anak kita agar ramah dengan alam, agar dia menjadi manusia yang berempati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Aku menginginkan itu sayang, kalo kamu gimana? Aku harap kita satu visi ya.

Sayang, jujur saja di usia 22 tahun ini aku tak pandai memasak. Aku baru bisa memasak yang ringan-ringan saja seperti membuat nasi goreng. Tapi jangan ragukan rasanya, nasi goreng buatanku paling enak dibanding buatan ibu. Begitulah kalau kata ayah dan adik-adikku. Kamu mau coba sayang? Tapi sebagai calon istrimu, aku akan belajar memasak lebih handal lagi biar kamu dan anak-anak betah makan di rumah.

Advertisement

Sayang, kamu jangan marah ya kalo nanti di rumah aku tak begitu terampil mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tak begitu cekatan dalam mencuci dan beres-beres rumah. Tapi aku bisa kok menyapu dan mengepel, aku akan belajar melakukan itu. Kamu mau kan mengerjakan semua itu bareng-bareng. Tapi sayang aku bisa kok memasangkan dasi di lehermu, aku bisa kok memakaikan pakaian untuk anak-anak kita. Aku pasti bisa.

Sayang, kamu jangan berharap melihat aku sering memakai stilleto atau wedges sebagai simbol keanggunan seorang perempuan. Aku pasti akan lebih sering terlihat memakai flat shoes atau sneakers butut. Juga mungkin kamu tak akan sering melihatku memakai dress cantik nan anggun dengan dipadu padankan hijab yang super modis dan membawa tas tangan yang cantik, aku tak akan sering memakai itu sayang.

Mungkin sekarang ini jika kamu melihatku, aku sedang memakai sepatu kets, celana panjang yang banyak saku, hijab yang sederhana, dan membawa carrier untuk backpack atau naik gunung. Kamu jangan heran ya kalo melihatku seperti itu.

Sayang, sejak kecil aku dididik untuk menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri, aku dibebaskan orang tuaku untuk berpetualang menaklukan tantangan asalkan tahu batasan moral dan agama. Makanya backpack dan traveling selalu menjadi hobbyku, aku senang mengamati dan mempelajari budaya baru, orang-orang baru yang ditemui, tempat baru yang ku kunjungi, kuliner khas suatu daerah, dan adatnya juga. Sayang, kamu mau kan jalan-jalan bersama denganku?

Sayang, aku mungkin bukan perempuan yang sempurna untukmu, bukan perempuan yang selalu ada untukmu. Aku bercita-cita untuk menjadi dosen.mungkin ketika sudah menikah denganmu aku akan melanjutkan studi S2 dan S3 ku, aku sudah berjanji kepada orang tuaku untuk terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Semoga kamu memahami ya sayang. Aku mungkin akan berkutat dengan materi kuliah yang esoknya akan ku ajarkan kepada mahasiswaku sehingga kamu sedikit terabaikan. Tapi tolong sayang, mengerti aku ya. Ini adalah passion aku. Mengajar adalah passion aku. Kamu pasti mendukungku kan sayang?

Sayang, kamu jangan heran ya kalo aku lebih sering hobby baca lalu menulis apa yang dipahami dari bacaan daripada mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, sayang setelah kita berkeluarga nanti aku tahu diri dan memposisikan menjadi istri yang selalu menyambutmu pulang, menyiapkan makan dan aku tak sendiri lagi untuk bercengkerama dengan tuts keyboard. Aku sudah punya kamu dan anak-anak sebagai teman untuk bercengkerama sambil minum teh di sore hari untuk menikmati senja.

Sayang, semoga kamu akan selalu menerima kelebihan dan kekuranganku. Perbedaan itu kita jadikan keutuhan dan kelengkapan dalam membangun keluarga idaman kita untuk membgangun generasi yang beradab. Aku janji aku akan turut dan menjadi madarasah yang baik bagi anak-anak kita kelak. Semoga ya sayang. Amin.