"Aah kenapa aku ditinggal 🙁 "

Itulah isi pesan singkat yang aku baca di smoking area bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Belum ada 30 menit setelah aku melepaskan pelukanku di depan pintu keberangkatan domestik, aku menelponnya. Sekedar ingin mendengar suaranya, dan memastikan dia baik-baik saja. Namun telepon genggamku sedang tidak bersahabat, sehingga kami hanya bisa mengobrol sesaat.

Tiba-tiba hatiku serasa ingin menangis, saat membaca pesan singkat darinya yang berisi "Aah knp aku ditinggal 🙁 ". Sakit rasanya untuk pergi meninggalkannya, setelah 3 hari kami bercanda bersama, menghabiskan waktu bersama, dan bersenang-senang bersama.

Aku pun langsung memohon pada Tuhan, untuk selalu menjaga dirinya, karena aku tahu aku tidak bisa memeluknya saat dia membutuhkannya, hanya doa-doaku lah yang akan memeluknya.

Advertisement

Rasa kangen yang begitu besar, mendadak hilang begitu kami berpelukan di dekat pintu kedatangan domestik bandara Ngurah Rai. Senyum indah yang selama ini aku lihat melalui layar tablet via aplikasi Skype, kini terlihat jelas begitu kami saling bertatap mata. Kami berpelukan, dan dekapannya terasa begitu menenangkan. Sedikit rasa canggung masih ada di antara kami, namun aku tau hal itu akan segera mencair karena kehangatan rasa sayang kami.

Hangatnya cahaya lilin di atas meja, menghangatkan malam kami di tepi pantai Jimbaran. Aneka hidangan seafood pun menghiasi meja kami, tempat kami menikmati indahnya malam, sembari bersyukur pada Tuhan bahwa Dia telah memberikan seorang wanita yang begitu menyayangiku.

Hamparan bintang di langit pun menghiasai indahnya malam kami, begitu juga dengan suara deru ombak di malam itu. Tidak lupa kami membuat memori indah dengan berfoto bersama. Memori inilah yang akan menenangkan hatiku, saat aku mulai merindukan kehangatan darinya, mulai 3 hari ke depan, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali.

Petikan gitar dan nyanyian merdu solois di atas panggung sederhana mewarnai sore kami di pinggir pantai Double Six. Dia bersandar di dadaku, dan tanganku membelai halus rambut panjangnya dan sesekali mencium keningnya. "Tuhan, kumohon buat waktu berjalan lambat", harapku sembari menatap senyum indah di wajahnya.

Terbenamnya matahari di sore itu memperindah langit di hadapan kami, membuatku semakin bersyukur kepada Tuhan atas anugerah indahnya. Malam terakhirku bersamanya di Bali, sebelum aku harus kembali ke ibukota besok malam. Hanya satu kata untuk menggambarkan malam itu, sempurna.

Lembut tangannya mengoleskan sunblock ke bagian badanku yang akan tersengat teriknya matahari di hari Minggu siang itu. Sederhana sekali apa yang dia lakukan padaku, tapi sudah cukup berarti untuk membuatku semakin mencintainya, dan memantapkan pelabuhan terakhir cintaku.

Terima kasih sayangku, untuk waktumu, untuk cintamu, untuk senyummu, untuk kesabaranmu, untuk semua yang sudah kau berikan padaku. 3 hari yang indah. Terima kasih.

Tak banyak yang kita ucapkan saat kita berpisah di depan pintu keberangkatan domestik bandara Ngurah Rai. Tapi aku tahu pasti, Tuhan tahu apa yang ingin kita sampaikan satu sama lain. Kamu menolak menatap mataku lama-lama, ya, karna aku tahu berat untukmu melepaskanku pergi kembali ke Jakarta.

Aku pulang sayang.

Mungkin tidak sekarang kita bisa selalu bersama, tapi aku percaya, akan ada waktu yang tepat dari Tuhan untuk kita bisa selalu bersama. Percayalah.

Jakarta, 16 September 2015

Aku mencintaimu, sayangku.