Hidup berubah laknat sekali akhir-akhir ini, segala urusan menjadi lebih berat dijalani, bahkan menghela napas pun terasa menguras banyak energi. Aku bermutasi seperti zombie, sebagian diriku tidak lagi berfungsi.

Apa kamu tahu sayang? Kepergianmu meninggalkan sepi yang tak pernah ingin kuakrabi. Ada kalanya aku terbangun jam 2 pagi, melihat sekeliling dengan mata nanar sekali, menyadari kamu yang sudah tak ada di sisi.

Sayang, apa kurangnya pendampingan yang kuberikan? Segala upaya yang kubisa sudah aku tawarkan, atau memang kamu hanya menganggap hatiku sebagai ladang permainan?

Temanku bilang aku hilang akal pikiran, mencintaimu yang tidak pandai menimbang perasaan. Mendampingimu sungguh sangat butuh perjuangan, menghadapi sikapmu rasanya seperti menguras tabungan kesabaran. Sayang, kenapa lagi-lagi diriku kau tinggalkan?

Sayang, apa yang kau pikirkan tentangku? Kenapa kau selalu datang dan pergi sesukamu? Apa karena aku yang tak pernah lelah menunggu? Hingga kau merasa bisa bebas kembali jika kau mau. Sayang…. Aku tidak sekuat itu!

Advertisement

Sayang, pernahkah sekali saja kau hitung luka yang kau tebarkan? Kau menahanku begitu kencang di tengah ikatan lain yang tak bisa kau lepaskan. Rasa nyaman yang kau sapukan membuatku buta di tengah percabangan. Aku meringkuk di tanganmu seperti kucing kedinginan, berkali-kali mengorbankan perasaan pun aku tak keberatan. Sayang…. Apa cintaku untukmu masih kurang?

Sayang, kenapa untukmu tidak pernah cukup satu pendampingan? Apa definisi pastimu soal rasa nyaman? Bukankah setiap hubungan selalu dibumbui dengan tantangan? Kenapa kau tak pernah sabar melewati terjalnya penjajakan? Sayang…. Setiap manusia pasti punya kekurangan.

Sayang, kemana semua janji yang dulu kau ucapkan? Semudah itukah kamu melupakan? Apa bagimu semua rencana tentang masa depan hanya cukup tinggal dalam angan? Kenapa tidak ada satu pun yang kau wujudkan?

Di kepalaku masih terlintas banyak pertanyaan. Tapi aku tahu kamu hanya akan memberiku jawaban menyakitkan. Sayang, apa kamu memang benar-benar tidak punya perasaan?

Sayang, mudah sekali kamu pergi setelah memberiku banyak mimpi, kamu ringan sekali menjatuhkan setelah membawaku terbang tinggi. Aku selalu ingat bagaimana dulu kamu memperlakukanku sebagai warung kopi, yang saat jenuh aku selalu bisa kamu datangi. Lalu kamu bebas melenggang setelah rasa nyaman di luaran kembali kamu temui. Hingga saat kamu jatuh, kamu pun kembali. Memintaku memulai dari awal dan belajar mengenalmu lagi. Aku menerimamu dengan besar hati, dengan harapan kali ini kamu akan benar-benar berhenti. Tapi ternyata memang tidak pernah cukup hanya aku saja yang ada di sisi. Kamu mengulangi, dengan dia yang baru lagi, lalu kamu pun pergi, meninggalkan lebam yang biru sekali.

Sekarang aku menyadari, mati-matian kucintai, ternyata kau hanya tak punya hati.