Rintik hujan siang ini mungkin sebagai pertanda bahwa goresan-goresan harapan dan doa yang tak henti kupanjatkan sejak empat hari lalu harus kuhentikan. Mesin monitor ruangan ICU yang tak henti kupandangi sejak kemarin pun seolah sudah malas menunjukkan gerakan perkembangan jantung pasien yang terbaring di sampingnya. Itu ragamu. Raga yang begitu kucintai. Yang kuharapkan bisa segera bangun kembali. Memelukku erat hingga aku terbawa mimpi.

Mataku nanar. Airmata yang kukira sudah habis karena tak berhenti mengalir sejak kabar ini kudengar, nyatanya masih bisa mengalir lebih deras. Rasanya bola mataku sampai kering dan sakit. Sekali lagi kukerjapkan mata, kutatap lekat wajahmu yang pucat pasi dan luka memar di sudut bibir serta pelipis. Ada sakit yang tak bisa kuungkapkan ketika kutabrakkan pandanganku kemudian pada mesin monitor yang juga tak mau menunjukkan gerakan. Bunyi bip pendek-pendek yang biasanya kudengar, sekarang justru hening setelah memekik lumayan panjang. Rasanya napasku nyaris hilang, rasanya jiwaku ikut melayang. Sekali kukerjapkan mata dan meyakinkan bahwa kamu benar-benar telah pulang.

Semuanya terasa begitu begitu cepat. Raungan ambulans yang membawa ragamu pulang ke kampung halaman nyatanya kadang masih sulit untuk tafsirkan bahwa kamu telah tiada. Dalam kesadaran yang sudah nyaris hilang entah ke mana, kenangan kita menyerbu hatiku yang penuh luka. Mengingatkanku pada hari-hari bahagia yang kita lalui berdua.

Masih segar rasanya ingatan bagaimana meriahnya pesta pernikahan kita. Kita mengundang sanak saudara, semua kolega atau mungkin mantan kita juga datang di antaranya. Ah, kita tak pernah mencoba mempermasalahkannya, yang kita tau, kita bahagia hari itu. Kita tersenyum sepanjang waktu. Lelah dan bahagia nyatanya bisa menyatu begitu padu. Entahlah, mungkin itu semua karena adanya kamu di sisiku. Sahnya kita yang tak hanya di depan penghulu, tapi juga di hadapan Allah.

Hidup denganmu adalah satu dari kebahagian paling sempurna yang pernah terjadi di hidupku. Kamu bagaikan oase yang memenuhi keringnya hatiku yang dulu. Senyummu, tingkah lakumu, dan segala hal baik bahkan konyol tentangmu adalah paket lengkap yang begitu membuatku hidup. Kamu adalah keajaiban yang begitu nyata di sepenggal kisah hidupku.

Advertisement

Aku tak pernah menyesal kita bertemu, pun akhirnya aku tau sakitnya melihatmu lebih dulu pergi sampai ke ulu hati. Membuatku nyaris tak bisa lagi sekedar berdiri. Tapi sedikitpun sayang, tak ada penyesalan bahwa kamu pernah datang. Pernah, menjadi bintang yang begitu terang. Sekali lagi sayang, meski bintang tak terlihat kita sama-sama tau bahwa bintang selalu ada. Sama seperti kamu di hatiku, meski ragamu tak lagi bisa kurengkuh, tapi jiwamu masih memenuhi kalbu.

Pada waktu, aku dan kamu pernah menitipkan banyak sekali harapan dan rasa rindu. Menitipkan banyak pula keluh karena cinta yang begitu menggebu masih saja harus menunggu. Pada waktu, pernah aku begitu benci karena bergerak begitu lamban menuju Sabtu dan Minggu. Seolah mengejekku yang sudah ingin bertemu denganmu. Tapi sekarang, pada waktu pula aku mengadu bahwa ternyata masa itu yang kelak paling kurindu. Pada waktu pula kutitipkan keikhlasan melepasmu.

Kuhidu lagi bau tanah merah galian para tetanggamu. Dalam gundukan tanah itu, ada ragamu tertidur pulas dalam perjalanan panjangmu. Meski mecoba sekuat baja, nyatanya air mata adalah kejujuran yang tak bisa kuelakkan, bagaimana aku begitu kehilangan. Dengan bergetar, kutaburkan bunga-bunga yang kuharap mampu menebarkan wangi sepanjang jalanmu. Pada kelopak-kelopak bunga yang jatuh berguguran, kulafalkan doa-doa yang mampu membantu menerangi jalanmu, imamku yang pulang lebih dulu.

Sayang, semoga jalanmu lapang, semoga hidupmu yang baru jauh lebih tenang. Sampai nanti saatnya aku pulang, biar kusimpan ruhmu dalam kenangan.