Halo kamu, laki-laki yang terbentang jarak sejauh ratusan kilometer denganku.

Tidak jauh memang, karena hanya membutuhkan waktu dua jam dan paling lama tiga jam untuk bertemu. Walaupun demikian, kita hanya bertemu paling sering setahun dua kali, yaitu saat liburan. Bagaimana kabarmu di perantauan sana?

Semoga selalu baik.

Kita memang jarang bertemu tapi karena kecanggihan teknologi begitu memudahkan kita untuk tak putus komunikasi. Kau memang selalu mengabari perubahan yang terjadi pada dirimu. Kau yang baru mencukur kumis, kau yang baru mencukur jambang, dan kau yang sekarang makin gondrong.

Kau selalu memberi tahu ku tentang hal itu. Walaupun sebenarnya setiap kali kau mengabari hal itu, ada sisi ain dari diriku yang tak menyukai perubahanmu. Misalkan saja kau baru saja mencukur kumis mu, ya, aku lebih suka kamu yang berkumis daripada kamu yang mulus tanpa kumis atau jambang. Kau terlihat matang dan dewasa dengan kumismu itu, tapi bukan berarti harus brewok. Sekedar kumis tipis saja. Tapi siapalah aku, aku tak berhak mengaturmu.

Advertisement

Aku hanya bisa mendukungmu dari sini, dan mendoakanmu dari jauh.

Akhir-akhir ini kau sering bercerita padaku tentang keberhasilanmu mengurangi kebiasaan merokokmu. Katamu, kau sudah bisa mengurangi rokokmu yang biasanya sehari lima batang, sekarang jadi dua batang. Dan makin kesini kau sudah bisa tanpa rokok dalam sehari. Tahukah kamu, aku begitu senang mendengarnya.

Untuk laki-laki yang mulai merokok sejak kelas dua SMA, ingatkah kamu betapa seribu kali kamu berjanji dan bilang padaku untuk berhenti mengebulkan asap rokokmu? Tapi kenyataannya baru sekarang kau bisa menjalaninya. Itupun karena tubuhmu sedang berteriak kesakitan melalui batukmu.

Saat kita makan bersama dan di tengah-tengah percakapan kamu menyalakan korekmu, tahukah kamu betapa tersiksanya aku? Ya, aku selalu pusing setiap kali menghirup asap rokok. Katamu, kau akan menjagaku, tapi kenapa disaat seperti ini kamu tidak menjagaku dari asap rokokmu?

Untukmu yang sebenarnya tak pernah diijinkan merokok oleh orangtuamu, tak sayangkah kamu pada tubuhmu? Tubuhmu sedang meronta-ronta kesakitan karena perilakumu. Kau begadang, bahkan baru tidur setelah subuh, minum kopi bergelas-gelas, dan merokok tentunya. Bukankah kau sama saja tak sayang ada tubuhmu?

Kau bilang padaku, bahwa kau tak akan berhenti, hanya mengurangi. Tapi asal kau tahu, di lubuk hati ku yang terdalam, aku ingin kamu berhenti. Berhenti mengurangi aktivitas tak sehat itu. Tapi semua itu kembali pada dirimu.

Hanya dirimu yang tahu seberapa kuat tubuhmu bertahan

Aku memang bukan siapa-siapa dalam hidupmu. Hanya orang yang selalu berharap kau kabari disetiap perubahan yang terjadi dalam hidupmu. Aku tak berhak melarangmu ini itu, aku tak berhak memintamu ini itu. Hanya saja aku ingin kau hidup lebih sehat, lebih teratur dan lebih menyayangi tubuhmu. Aku yang kau anggap adik ini hanya bisa mengingatkan kakaknya untuk menjalani hidup dengan sehat. Semoga tahun 2017 nanti adalah tahun yang menjadi titik balik perubahanmu untuk berhenti merokok.

Ayolah, sayangi tubuhmu sendiri sebelum kau menyayangi orang lain.