Jelas masih saya ingat saat pertama kali kita kenal dan berjumpa. Jelas juga masih teringat saat pertama kali kita memulai cerita dalam sebuah kisah yang kita lalui bersama.

Jelas juga masih terasa tatapan mata kamu saat memandang saya, senyuman kamu saat menatap saya, tawa kamu saat becanda dengan saya, genggaman erat tangan kamu dan pelukkan hangat kamu itu semua bisa saya rasakan bahwa ketulusan itu nyata.

Sampai pada akhirnya semua berubah, berubah karena dia orang ketiga. Ntah itu karena ke khilafan kamu atau kesengajaan kamu, yang jelas itu menyakitkan saya.

Sebagai manusia saya juga punya salah, saya maafkan kamu dengan sepenuh jiwa sampai pada akhirnya kamu mulai berubah untuk kesekian kalinya.

Masih saya ingat cara kamu mempertahankan saya dan meminta kesempatan kembali, tapi tampaknya kamu tidak bisa lagi untuk saya percaya.

Advertisement

Sakit emang melepaskan kamu. Rasanya tak ingin gagal setiap kali menjalin hubungan, kerena memulai bukan sebuah kemudahan, butuh proses dan harapan.

Setelah kita benar-benar berpisah, ingin rasanya mencari pengganti kamu dengan mudahnya. Tapi sayangnya saya tidak bisa seperti dia yang bisa membuka hati pada siapa saja. Bahkan terkadang pesan kamu yang masih saya terima setelah kita berpisah hampir membuat saya goyah. Dan saat kita bertemu tanpa sengaja kamu hampir membuat saya benar-benar gagal dalam melupakn kamu.

Andai kamu tidak pernah mengkhianati saya, saya pastikan hati saya bertahan untuk kamu ~