Kamu pernah mencintai seseorang sedemikian dalamnya namun kamu tidak pernah ingin memilikinya? Saya pernah.

Ada seseorang yang begitu sulit untuk saya lenyapkan keberadaannya dari dalam ruang pikir. Entah kenapa, saya ingin dia ada di dalam hati saya untuk jangka waktu yang sangat lama. Saya mendambakannya dan nyaris tidak mau dia hilang sesebentar apapun itu. Tapi sayang, saya tidak pernah memberitahukannya tentang eksistensi rasa ini.

Saya sudah terlatih menyembunyikan perasaan, saya ahli jatuh cinta tanpa menuntut balasan setimpal, saya tidak pernah gagal menyayanginya meski tanpa bilang-bilang padanya. Lantas, apa yang kemudian saya lakukan ini pada akhirnya membuat saya harus ikhlas menghadapi patah hati sendirian.

Namun, saya yakin saya sangat benar karena memilih untuk mencintainya dengan cara ini.

Saya tidak pernah ingin dia menjadi pasangan saya. Kenapa? Karena saya tidak mau dia berubah. Saya tidak ingin kehilangan sosoknya yang sudah sangat pas dalam pikiran saya. Ada ketakutan tersendiri ketika saya mengenalnya lebih jauh, justru perlahan-lahan saya menumbuhkan ekspektasi berlebihan dan bukannya tidak mungkin saya bisa saja kecewa lalu tidak menyukainya lagi.

Advertisement

Saya tidak pernah melarang dia untuk mencintai orang lain selain saya. Saya tidak ingin hubungan ini menjadi berantakan hanya karena ego saya yang harus dipenuhi. Tidak pernah tebersit sedikit pun untuk mengekangnya, lantas memaksanya untuk berkomitmen dengan saya. Meskipun pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa saya merasa sangat kehilangan saat dia memilih pergi. Tapi seharusnya saya tidak apa-apa, karena bukankah dari awal saya memang tidak berniat ingin memilikinya?

Mencintai dirinya sama seperti mendapatkan kado yang dibungkus dengan sangat indah. Cukuplah bagi saya untuk menyentuh bagian luarnya, seakan-akan saya sudah bahagia dengan memandanginya saja. Seberapa besar pun keinginan saya untuk membukanya, saya tidak akan pernah mau melakukannya. Mungkin agar saya bisa terus penasaran dengan isi di dalamnya, atau mungkin juga bisa jadi karena saya takut isinya bukan sesuatu yang saya butuhkan?

Seseorang pernah bilang, jangan-jangan, kita lebih mencintai pikiran kita tentang seseorang itu, dibandingkan orangnya sendiri. Dan itulah ketakutan terbesar saya. Saya tidak mau jika kelak takaran baik dan buruk dalam pikiran saya menjadi berat sebelah karena saya menumbuhkan rasa dan menambahkan harap di dalamnya. Saya ingin–saya dan dia—kami tetap begitu saja, saling peduli sebagai teman baik, meskipun salah satu telah dimiliki orang lain. Namun, ternyata, hal itu sangat susah untuk dilaksanakan ya?

Saya patah hati.

Karena pada akhirnya, saya menyadari sebuah fakta; semua orang akan memilih seseorang yang ingin memilikinya.

Sekali lagi saya patah hati, namun bukan karena dia memilih orang lain, tapi karena saya masih percaya pada satu perasaan ini, bahwa dia akan tetap ada, di sini, untuk saya, meski saya tidak berniat memilikinya.

Dan untuk kali pertama, beberapa waktu berlalu setelah patah hati, saya diam-diam mulai berangan-angan: seandainya waktu itu saya ingin memilikinya, apakah semuanya akan berakhir bahagia?