“Pun akhirnya senja menjamahi tubuhmu,

Lekuk demi lekuk senti demi senti.

Matamu berbinar menciumi langit,

Perlahan udara menerbangkan jiwamu ke sana.

Pada jingga,

Advertisement

Pada cumbu yang kau rindu.

gadis senja itu mengantar matahari membenamkan diri.

aku hanya diam dan terus mencintainya sedari tadi.”

Aku suka cuaca hari ini, ia bisa sedikit lebih bersahabat denganku, tak seperti hari-hari sebelumnya yang begitu terik dan sering menghadirkan rasa gatal di kepala. Maklumlah mungkin karena aku termasuk tipikal cowok ganteng yang suka lupa memakai sampo, hingga kepalaku ditumbui jamur yang beranak pinak menjadi kutu, apalagi kutunya suka mengumpulkan ketombe, lengkap sudah Curriculum Vitae yang ada di kepalaku. Cuaca yang terasa panas memang membuat diriku gampang menjadi emosi, diteriaki sedikit saja aku langsung naik pitam, untung saja yang meneriakiku itu orang tua, kurang sopan jika di lawan, andai saja ia anak kecil sudah kupiting lehernya sampai mirip kepiting yang siap dimakan oleh Ayu Ting-Ting. Tapi lupakan saja masalah itu, aku ini meski pemberani tapi orangnya tidak suka menyombongkan diri.

Hari ini beda, cuacanya sangat memanjakan rasa lelah yang menghinggapi tubuh usai memaksanya bekerja sepanjang hari. Aku menarik nafas panjang sambil menaruh kedua tanganku di pinggang, sebelum akhirnya kuhembuskan perlahan. Sampai juga aku di tempat ini, celotehku dalam hati sambil menyeka keringat yang iseng-iseng nongkrong di sekitaran jidat dan pipiku. Perlahan mataku berkelana mencari teduh, pada sekumpulan pohon rindang yang berbaris rapi di sekitaran tempatku berdiri. Perlahan tapi pasti, sepertinya mataku telah menemukan apa yang sedari tadi aku cari.

Benar saja, itu tempat yang sengaja ingin aku singgahi hari ini, tempat yang belakangan ini selalu muncul di kepalaku secara tiba-tiba, ketika tanpa sengaja pikiranku teringat akan seseorang yang telah membawaku kembali ke tempat ini, tempat yang terasa begitu akrab denganku layaknya sahabat yang sering kuajak bertengkar namun setelah itu kami tertawa bersama kembali. Perlahan kulangkahkan kakiku, hingga akhirnya aku tiba pada suatu tempat yang menjadi sandaran untuk segalal rasa lelah dan bahagiaku dulu. Tempat ini sedikit berubah, kini ia telah banyak ditumbuhi kenangan dan cerita-cerita masa lalu.

Hari ini, tepat setahun lalu sejak pertama kali aku mengajakmu bertemu di tempat ini, tepian danau buatan yang meski tak terlalu luas namun cukup untuk menenangkan rasa penat di kepala. Aku kembali duduk di bangku tua tepi danau ini, bangku kayu yang tak sekuat dulu saat pertama kali kita duduk dan bersandar pada tubuhnya. Saat itu pertama kali kita saling menatap dengan senda gurau yang begitu renyah sebagai cemilan pengusir rasa lapar. Betul saja rasa lapar itu sebentuk keinginan menemuimu sejak dulu.

Senja belum juga datang, mari kita makan lagi cerita-ceritamu yang begitu lucu, aku suka melihat mimik wajahmu ketika bercerita, lekuk-lekuk kecantiknmu terlihat dengan jelas, matamu yang sipit menjadi segaris ketika tertawa atau saat tersenyum sumringah. Aku jadi tersenyum sendiri mengingatmu, mengingat perkataanku padamu kala itu, “jika ingin menikmati senja, tempat ini adalah pilihan yang tepat, suasananya sejuk dengan pepohonan besar yang rindang, ditambah pemandangan danau yang mampu menyegarkan dan menenangkan pikiran yang sedang penat oleh rutinitas yang mungkin sedikit melelahkan dan membosankan”.

Setidaknya itulah yang dulu kujadikan alasan agar aku bisa menemuimu di tempat ini, kutulis dalam sebuah pesan singkat lalu kukirimkan ke telepon genggam milikmu.

Sedih sedikit menghampiriku, bangku itu mulai lapuk termakan usia, bahkan mungkin tak kuat lagi menahan beban lebih seperti dulu lagi, itulah sebabnya bangku ini sudah jarang digunakan oleh orang-orang yang datang ke tempat ini untuk menikmati suasana danau saat sore hari. Mungkin banyak hal yang terlihat berubah oleh penglihatanku, maklum saja, aku baru sempat ke tempat ini lagi. Namun satu hal yang tak pernah berubah dari tempat ini, rasanya masih seperti dulu, mungkin kita bisa saja pergi dan melangkah jauh, namun apa yang pernah kita rasakan telah terbenam begitu dalam di tempat ini.

Tanpa sadar senja itu pun tiba, ada debaran yang terasa begitu kuat, aku duduk terpaku di kursi tua ini, menyandarkan sikuku ke kedua lututku, sambil menaruh kedua telapak tanganku di pipi. Aku kembali menarik sebuah nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Mataku menerawang ke langit luas, jingga itu bertebaran hingga jatuh dan tertumpah di atas danau yang sedikit beriak oleh angin. Senja itu masih seperti dahulu, cantik dan menakjubkan, seperti dirimu yang selalu kuingat, hingga akhirnya kunamai dirimu sebagai “gadis senja” pada sebuah bait puisi yang kutulis tanpa pernah kau tau. Senja di tempat ini takkan pernah aku lupa, saat matahari akan terbenam itulah untuk pertama kalinya aku mampu melihatmu dari jarak yang begitu dekat, saat pertama kali kau duduk di sampingku, menikmati sajian senja, hingga semuanya habis kau lahap tanpa ada sedikit pun yang tersisa oleh tatapanmu.

Entah seperti apa kabarmu kini, telah lama juga kita tak pernah berbagi cerita atau sekedar bersenda gurau tentang apa saja, atau sekedar menggosipi dosenmu yang kau anggap begitu kejam padamu, semua tugas darinya sudah kau kerjakan dengan baik, namun nilai yang kau terima pada akhirnya malah membuatmu tertunduk. Aku pernah mengatakan padamu jika mungkin saja bukan dosenya yang kejam padamu, mungkin kau yang memang bodoh, lucunya kau bukannya membela diri, malah memberikan jawaban yang begitu polos, “iya, mungkin memang saya yang bodoh”.

Dengan jawaban seperti itu dan mimik mukamu yang juga ikut-ikutan terlihat begitu polos saya hanya mampu tersenyum kepadamu, namun sebenarnya sayan sedang tertawa terbahak-bahak dalam hati. Siapa yang pernah menyangka begitu hebatnya sebuah kenangan. Hari ini hal itu terbukti, segala kenangan tentangmu telah membawaku kembali ke tempat ini, tempat yang mampu menghadirkan kembali cerita-cerita tentangmu setelah sekian lama, tempat yang menghadirkan rasa rindu yang teramat sangat akan hadirmu.

Aku jatuh cinta pada jingga, pada warna-warna yang terlukis kala senja. Langit bagaikan muara rasa, semua menyatu, tertuang dalam kanvas semesta yang begitu luas. Sungguh, Tuhan memang selalu punya selera seni yang begitu mengagumkan dalam menciptakan segala sesuatu di dunia, termasuk dirimu.

Perlahan dedaunan itu jatuh ke tanah, seperti rindu yang terus jatuh satu demi satu hingga menjadi sebuah tumpukan rindu yang menggunung. Memang benar katamu dulu jika rindu itu mampu menjadi racun pembunuh, rasa itu perlahan menggerogoti hati dan pikiran. Hari demi hari berlalu, namun kau tetap bersemayam dalam hati dan pikiran. Perasaan ini semakin lama menjadi duka, walau senja ini terlalu indah untuk dinikmati bersama kesedihan yang mendalam. Kau pernah menjadi bahagia dalam hidupku, meski itu tak lama.

Kini aku hanya bisa menikmati hadirmu dengan cara mengenangnya kembali. Berhadapan dengan rindu itu tak semudah saat menidurkanmu di malam hari. Selalu ada jarak dan waktu yang mengepungku setiap saat, aku sadar jika rindu itu hanya mampu di hadapi ketika kita bersama, karena satu-satunya cara membunuh rindu adalah dengan sebuah pertemuan.