Dear kamu,

Aku adalah seorang perempuan yang memiliki keterbatasan untuk berterus terang tentang apa-apa yang tengah aku rasakan. Aku memiliki rasa kepercayaan rendah terhadap orang lain, sebab begitu aku menaruh rasa percaya, seketika itu pula orang itu mengecewakanku. Aku juga selalu menyembunyikan perasaanku karena takut orang di sekelilingku khawatir terhadap keadaanku. Oleh karena itu, aku menyimpan apa-apa yang kurasa seperti halnya kusimpan rasa cinta yang membuncah untukmu.

Sungguh, bukan maksud menutupi rasa yang tersirat, namun aku takut rasa kita tak sama sehingga kupilih jalan menyimpannya dalam diam. Memakamkannya dalam tulisanku dan menggaungkan namamu dalam do’a di malam panjangku. Sebab, meski tak kukatakan padamu bahwa aku mencintaimu, ketahuilah aku tengah memperjuangkanmu sebagai cintaku agar kelak Ia restu dengan cinta kita. Itu saja.

Kedatanganmu dalam hidupku begitu sederhana. Kamu tak menjanjikan apapun, namun kau ajak aku berjuang bersama mengarungi kisah ini. Bagiku, kamu adalah ksatriaku. Sungguh, aku tak mengerti cara Tuhan yang menjadikan kita lekat, padahal sebelumnya tak pernah dekat. Aku tak tahu, kenapa kita terus bersama dalam keterbatasan kita.

Ya….kita adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan dan kekurangan, namun berusaha menjadikan kekurangan itu sebagai kekuatan cinta kita. Seperti kata Sujiwo Tejo, “Orang lain saling mencintai karena tahu kelebihan masing-masing, kita mencintai karena kekurangan masing-masing”. Sepenggal kalimat itu mungkin bisa mewakili keadaan kita.

Advertisement

Beberapa bulan yang lalu kamu pernah bilang, “Mungkin di sinilah letak keindahannya, ketika dua makhluk diuji untuk saling bersabar”. Hatiku bergetar membaca pesanmu yang muncul di layar telepon genggamku. Benar, kala itu kita diuji setiap hari, harus bersabar sepanjang hari dan bertahan dari hari ke hari. Dan kamu tahu, itu bukanlah hal yang mudah. Aku memintamu berlalu, namun kamu tetap memilih tinggal.

Pernah suatu ketika kutanyakan padamu, “Apa kamu tak lelah dengan keadaan kita?” Kamu pun menjawab, “Lelah itu manusiawi, namun semakin kita bersabar, semakin tinggi derajat toh”. Baiklah, aku berusaha melapangkan hatiku menerima keterbatasan kita, karena aku sadar, begitu seorang laki-laki dan perempuan disatukan karena cinta, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk saling mencinta. Oleh sebab itu, kuurungkan niatku membenci keadaan dan bertahan menjalani hari denganmu, meski akhirnya ujian demi ujian datang menerpa.

Saat jarak mulai menyekat dan waktu enggan berpihak, kita jadi jarang berkomunikasi. Mirisnya, aku sampai lupa wajahmu dan kerinduan yang penuh di dadaku tidak pernah terbayar temu. Sekarang, kudapati dirimu yang menjauh dariku. Entah karena kamu lelah bertahan atau mungkin kamu sudah bertemu dengan perempuan yang lebih baik dan lebih hebat dariku. Baiklah, aku memang hanya perempuan sederhana yang menjadi anak dari tulisannya. Berharap suatu ketika bisa menjadi dalang dalam kehidupannya.

Jika memang hubungan kita harus usai, seharusnya kamu katakan apa-apa padaku, agar aku tidak terus-menerus menunggumu. Setidaknya, setelah kamu mengatakan alasannya dan aku siap dengan ikhlas menerima, kita bisa melepaskan kenangan di antara kita bersama-sama. Agar tidak ada pihak yang perasaannya tertinggal dan dihantui bayangan kenangan. Sebab, kenangan selalu memiliki cara tersendiri untuk tinggal dalam kepala, karena itu kita harus menyelesaikannya bersama-sama.

Untukmu yang kuharap segera tegas jika ingin berlalu…