Apa jadinya jika kita tak mengenal luka?

Satu-satunya hal yang tak dapat dihindari adalah luka, ia sering kali mengelayuti hati manusia yang sedang berduka. Kau dan aku bisa saja menjadi sasaran empuk para pemangsa pengejar lara.

Tapi, bukankan kau tau bagaimana ia datang? Luka bisa saja menghampirimu saat apa yang kau inginkan tak bisa kau dapatkan, atau saat kau harus kehilangan harapan-harapan. Sesuatu hal terjadi saat hatimu tak terima dengan semuanya.

Sakitttt katanya, Efek yang di keluarkan dari luka. Rasa yang timbul jika kau tak bisa mengendalikannya.

Kenapa harus ada luka?

Advertisement

Sayangnya. aku terlebih dahulu mengenal kata bahagia, sebelum ada luka. Aku bisa berbicara ini luka, karna aku sempat merasakan bahagia.

Aku mengenal bahagia, jauh sebelum aku tahu kalau luka itu sangat menyakitkan. Apalagi bicara tentang cinta.

Aku selalu menarik diriku dari hati yang mulai terbenam. Rasa sakit yang kurasakan kini tak ubahnya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi hidupku, karna rasa bahagiaku yang keterlaluan. Aku sedang jatuh cinta waktu itu.

Jatuh Cinta. Rasa yang ku tau sangatlah indah, meskipun aku sendiri tak bisa menjelaskannya. Rasa yang membuat jantungku berdegub ramai meski dalam sepi, rasa yang membuatku ingin menari di iringi kembang api yang meletup-meletup. Rasanya tak ingin membiarkan bibirku berhenti mengembang. Huuwwww

Cinta bagaikan langkah kaki yang berjalan seimbang, beriringan, berdampingan, dan saling melengkapi—Ada jejak yang selalu terukir disana. Begitupun cinta harus seimbang dan beriringan. Cinta juga selalu meninggalkan bekas, entah itu yang berakhir sedih atau bahagia.

Aku mulai mengenal cinta saat aku mengenal laki-laki, lawan main dalam kehidupanku sehari-hari. Nyatanya, aku tak pernah benar-benar memainkan peranku untuk melawannya. Bukan karna aku menyukainya, barang kali laki-laki memang diciptakan bukan untuk dimusuhi, tapi untuk melengkapi.

Dia laki-laki pertama yang membuatku mengubah memori dalam otakku tentang lelaki. Sungguh, aku dibuat gila olehnya. Beberapa kali aku seperti terkena serangan jantung ringan saat bertatapan atau sekedar berpapasan dengannya. Juga saat dia menyapaku, menyebut namaku dan melontarkan sapaan “hallo” padaku. Meskipun hanya sesaat.

Gayungku memang bersambut, dia yang menyambutnya. Dia memberikan tatapan yang berbeda padaku, memberikan perhatian yang berlebih. mungkin mungkin mungkin. ahh, terlalu banyak kata mungkin di otakku. hatiku memang menerima sinyalnya, tapi tak tahu dengan kenyataannya.

Arus bumi memang sedang bergejolak-gejolakknya. Reaksi panas yang di timbulkan perut bumi yang berpadu dengan sinar mentari memang sudah melekat dengan kita, para warga bumi. Tak terkecuali denganku. Sensasi panas bumi masuk sampai ke hati, saat ku tahu dia tak menaruh rasa yang sama denganku.

Aku kecewa—kali pertama aku mengenal luka dengan rasa yang lidahku sendiri tak bisa menjelaskan. Sesakit saat aku jatuh dari sepeda, bahkan lebih dari itu. rasa yang membuat dunia ini menjadi gelap, rasa yang membuat dada ini menjadi sesak. Tak cukup sehari dua hari, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkannya.

Sebahagia cinta pertama, aku merasakan rasa yang berlebih, tanpa ku tahu rasa setelahnya. Aku hanya mengenal empat dasar rasa, itu pun ku peroleh saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Ada manis, asam, asin, pahit. Aku lupa menanyakan pada Bu Guru, Apakah ada rasa selain rasa itu. Sedangkan Bu Guru hanya memberitahu kalau rasa dapat di rasa oleh indra pengecap kita. Dan sialnya aku percaya dengan hal itu, kalau rasa hanya dilidah bukan dihati.

Ternyata ada rasa lain selain lima rasa itu. Rasa yang tak hanya indra perasa kita yang merasakan, bahkan rasanya melebihi empat macam rasa yang pernah kita kenal. emmm Sakit hati akibat jatuh hati adalah Penyakit yang tanpa sebab pasti sering kali menghampiri. penyakit yang tak jelas bentuk aslinya, tapi selalu mengena dihati dengan berbagi macam rasa.

Tapi, bukan kah semua penyakt ada obatnya? begitupun sakit hati, aku yakin sakit hati tak bisa membawa kematian kecuali kalau orangnya sendiri yang ingin mati. lalu kenapa kita harus takut sakit hati karna jatuh hati?

mungkin benar lidah menempatkan manis di ujung lidah dan pahit di pangkal lidah, supaya kita bisa merasakan manis di depan dan pahit di akhir, lalu ketika si pahit telah berakhir hingga tak ada rasa lagi yang tertinggal, pasti si manis akan datang lagi dengan cerita yang baru. begitupun seterusnya, karna sesungguhnya yang pahit juga bisa dimaniskan dengan permainan pola pikir dan pola rasa kita.

susah senang, sakit bahagia, jatuh bangkit dan manis pahit. persahabatan mereka tak bisa dipisahkan, meskipun kita tak mau menerimanya, bahkan kita besikeras untuk menolaknya. Mereka akan datang pada waktunya, tak perlu memusuhinya, kita hanya perlu menerima dan mengikhlaskan dia bermain dengan waktu.

Hingga pada akhirnya kutahu. Kalau kita tak mengenal luka, pasti kita tak mengenal bahagia. 🙂