Bagaimana kabarmu nan jauh di sana, Tuan Masa Depanku?

Aku menuliskan sebuah surat kecil untuk menggenapi gelisah hatimu itu. Aku percayakan Tuhan akan menyampaikan ini padamu. Entah bagaimana cara Tuhan membisikkannya ke daun telingamu, Tentang harapan-harapan yang kita lambungkan pada Tuhan kita.

Tentang sebuah proses perjalanan yang bernama MENUNGGU. Menunggu memang menyebalkan.

Perihal apapun itu, menunggu memanglah sebuah proses yang sangat melelahkan untuk dijalani. Terlebih lagi saat kita mulai merasa bosan untuk sekeder menanti. Lalu apa? Mencari pelarian untuk melampiaskannya? Hm.. Mudah saja sebenarnya bila kita hendak merayakannya saat ini. Ya, mudah saja jika kita ingin menikmati masa berdua kita sekarang.

Namun untuk apa, bila yang kita nikmati ini hanya menambah daftar dosa? Untuk apa kita bahagia, sedang malaikat sisi kiri sibuk mencatat kelakuan kita?

Advertisement

Lebih baik sendiri, daripada bersama dalam kemaksiatan. Lebih baik tetap dalam masa penantian yang nantinya akan menghebatkan kita dalam perjalanan meniti masa depan. Ya, aku suka kamu yang tetap memilih setia dan taat padaNya. Menunggu tidak selamanya menyedihkan, tidak melulu menyesakkan. Banyak hal yang bisa menumbuhkan kebermanfaatan.

Bukankah kita menginginkan yang sejati? Yang akan setia menemani hingga tua kita nanti?

Menunggu bukanlah berdiam diri, melainkan waktu untuk bergegas dalam kesiapan.

Menunggu tak sama dengan sekedar duduk berpangku tangan, tetapi ia menyediakan seruang waktu untuk kita mempersiapkan. Adakah sebuah pencapaian atau keberhasilan tanpa perjuangan? Tidak, Tuan. Orang bijak bilang bahwa keberhasilan adalah saat kesiapan bertemu dengan kesempatan. Jadi, bila kesempatan datang sedangkan diri belum siap, bisakah berhasil?

Tidak. Sama halnya dengan saat kita siap dalam perbekalan tetapi kesempatan belum berpihak pada kita, ya kita tak akan sampai pada pencapaian itu.

Jadi, Tuan.. Sekali lagi kutegaskan bahwa pencapaian kita adalah saat kesiapan bertemu dengan kesempatan. Selama kita menanti sebuah akhir perjalanan kita, maka seluang itu juga kita harus terus berusaha mengupayakan dan menyiapkan. Banyak hal yang harus kita selesaikan sebelum bertemu. Tentang kewajiban kita melunasi impian-impian yang tertunda, tentang pengejaran target hidup yang harus sesegera mungkin kita raih, tentang banyak-banyak menjalin relasi untuk masa depan.

Indah, saat kita memilih taat. Kita tidak seperti mereka yang menghamburkan uang untuk seseorang yang belum tentu jodoh kita. Tidak memboroskan rayuan gombal yang kadang semakin lama membuat kita bosan sendiri. Tidak membuang waktu untuk berlama-lama dengan orang yang belum pasti bagian dari masa depan kita.

Masih banyak hal yang bisa kita lakukan, Tuan. Seperti melunasi kewajiban kita sebagai seorang anak yang baik untuk kedua orang tua kita. Tak selamanya kita bisa bersama mereka, selepas kita menikah tentu waktumu mulai berkurang. Buatlah mereka bangga, Tuan. Mari mempersembahkan terbaik untuk mereka yang cintanya lebih tulus dari apa yang kita tahu.

Sebelum akhirnya kita benar-benar tidak mampu menikmati waktu bersama mereka lagi.

Selainnya, kita juga bisa mempererat jalinan persahabatan dengan para kawan kita. Karena kita adalah makhluk sosial. Dengan terus berlaku baik dan memberi yang terbaik akan membuahkan nyaman dalam hati kita. Bisa jadi, mereka pula yang akan datang membawa segenap bantuan saat kita jatuh di masa depan. Tetapi tetaplah setia pada komitmenmu tentang memaknai sahabat : Sahabat untuk diberi, bukan diharap untuk memberi.

Lalu untuk apa banyak mengoleksi daftar nama mantan? Sedang yang kulihat dari mereka kebanyakan, hanyalah menyisakan sebuah titel bernama bekas pada diri kita. Selebihnya, tak sedikit dari mereka yang katanya memadu kasih namun menjadi musuh. Menjadi seseorang yang paling dibenci dalam hidup. Dan yang paling parah adalah saat hati kita susah sembuh dari rasa sakit atas ulah orang masa lalu.

Lalu bagaimana jika kita dihinggapi rindu, sedang diri belum siap menghalalkan?

Rindu memang serupa candu ya Tuan? Sangat menggelisahkan. Membuat apa-apa yang kita lakukan menjadi tidak nyaman. Kadang menimbulkan curiga dan hati penuh prasangka buruk akan takdir sebuah pertemuan.

Tuan.. Kata mereka kalau rindu, lihatlah langit. Sebab langit kita sama, jadi kita tak pernah jauh. Tapi bagaimana kalau langitku panas dan langitmu hujan? Atau sebaliknya. Langit kita tak sama bukan?

Jadi, kalau rindu, aku sebut kamu dalam doa. Sebab Allah Maha Mendengar dan mudah-mudahan Dia pantulkan doa itu ke dalam hatimu.

–Karena kata-kata dan janji akan lenyap bersama angin, tapi perasaan yang kita simpan dalam hati dan doa akan kekal selamanya-

Sesekali mungkin kita boleh membayangkan momen pertemuan kita.

Hai, Tuan.. Mengapa mendadak kau gusar begitu? Apa yang menyelimuti hatimu? Sama, aku rindu. Namun bukan sekarang saat yang tepat untuk kita saling melepas rindu.

Tuan.. Aku kini terduduk seorang diri dalam gelisahnya penantian. Mungkin kamu di sana juga sedang tergugu dengan kisah klasik indahnya sebuah pertemuan. Membayangkan akan hal apa, momen apa, dan bagaimana kita akan saling dipertemukan nantinya.

Namun sebelum pertemuan itu tiba, aku percaya kau sedang berupaya keras menyiapkan bekal. Dan aku.. Aku pun sedang mati-matian untuk memantaskan diri, memperbaiki kadar imanku yang masih compang-camping, mendalami ilmu agama, mengupgrade kualitas pribadi yang masih sangat jauh dari kata baik untukmu.

Satu hal yang aku ingat :

Bukankah anak-anak kita berhak lahir dari rahim seorang ibu yang cerdas?

Em.. Namun, aku perlu berguru –JAUH- untuk itu semua. Mungkin butuh sedikit waktu. Kamu… Tak usah gundah seperti itu, kita akan bertemu saat keduanya saling siap. Kini, berjanjilah padaku untuk tetap setia. Setia pada Tuhanmu, pada impian-impianmu, pada kebaikan hatimu, pada hal-hal baik yang pernah kau sampaikan padaku dan mereka.

Jika pun bukan di persimpangan ini kita berjumpa, tetaplah bersabar dan berbaik sangka. Barangkali jarak kita dekat. Sudah tak terlalu jauh.

Jika dalam perjalananmu kamu merasa bosan dan lelah. Singgahlah untuk beristirahat sejenak, sembari membaca buku-buku yang kamu bawa di ranselmu.

Aku pun sering melakukan hal yang sama.

Jika kamu telah merasa cukup dengan perbekalanmu. Sabarlah, aku tak lama lagi datang.

Jika dalam perjalanan ini, kau tiba lebih awal dariku. Sabarlah, aku tidak lama. Aku sedang belajar banyak hal. Belajar ini itu, belajar ilmu dunia, belajar ilmu akhirat. Belajar untuk mencintaimu dengan bijaksana. Tak perlu berteriak untuk tahu kita saling cinta.

Maka mari saling menunggu, tanpa perlu ada yang mengetuk pintu.

Mengumbar rasa hanya akan menodai putihnya kisah perjalanan kita. Maka menarilah dalam taat kepadaNya.

Hingga sampailah kita pada sudut persimpangan yang mempertemukan titik siap kita dengan izin seluruh alam yang bersujud padaNya. Kita akan merayakan pertemuan kita dalam penjamuan yang agung.

dengan ikrar yang mengguncangkan beban di pundakmu :

A.K.A.D

Dariku, yang sebenarnya sangat rindu