Suatu hari aku penah mendengar sebuah cerita. Seorang wanita yang sedang terluka karena diduakan, namun memilih untuk berlapang dada memaafkan dan kembali menerima pria yang menyakitinya. Pertama kali mendengarnya, sungguh aku kagum dengan kebesaran hatinya.

Betapa tidak, bukankah memaafkan itu sudah sulit? Apalagi harus menerima dan kembali memberikan kesempatan pada yang melukai? Tak banyak nasehat yang kuberikan saat itu, hanya sekedar basa-basi untuk tetap bersabar dan berbesar hati.

Hingga suatu ketika, ia datang lagi padaku dengan cerita yang sama. Sungguh ini cerita yang sama, dengan segala tangis air mata yang sama. Kali ini ia menangis dengan sebuah keputusan untuk mengakhiri hubungannya. Ia berpikir sudah tak sanggup untuk memberikan kesempatan yang lain. Ya, tentu saja aku mendukungnya. Bukankah itu keputusan yang harus ia ambil sejak dahulu kala? Singkat cerita, kami dipertemukan kembali. Kala itu aku bersyukur karena ia tampak baik-baik saja. sebelum akhirnya ia membuka cerita.

“Aku terlanjur mencintainya.”

Sungguh berapa banyak wanita bersembunyi dibalik keterlanjuran. Mereka yang berkata bahwa hatinya terlanjur terpikat dan tak bisa berpaling. Mereka yang berkata bahwa kebersamaan dengannya selalu melahirkan kenyamanan tiada tara. Ah sudahlah, aku sendiri muak dengan alasan “sudah terlanjur”.

Advertisement

Kenapa tak sekali-kali kau coba memenangkan logikamu? Kenapa harus selalu mengalah dengan hati? Kenapa harus selalu kau yakinkan diri bahwa priamu akan berubah? Sementara menunggu perubahan itu, hatimu semakin teriris, terkikis lebih dalam lagi. Bukankah ada banyak hal baik yang bisa dihabiskan selain dengan terus merasa tersakiti?

Bukankah kamu tak ingin disebut sebagai manusia bodoh bukan? Tapi kenapa kamu terus menerus melakukan hal-hal bodoh? Terbiasa disakiti, mengatasnamakan keterlanjuran sebagai berntuk cinta yang tak terbatas. Membodohi diri sendiri akan ada hal indah yang kau temukan jika bertahan dengannya.

Berapa lama lagi kamu akan terus mengadu pada sahabatmu? Merengek meminta perlindungan atas peringai buruk priamu? Bukankah sejak lama sahabatmu selalu mengingatkanmu untuk memprioritaskan kebahagiaanmu? Bukankah sejak lama sahabatmu memintamu untuk mengkahiri hubungan tidak normalmu itu? Lantas kenapa kamu terus mengeluh dan merasa tak sanggup tapi tak pernah benar-benar mengakhirinya?

Sebenarnya apa yang sedang kamu takutkan? Kamu takut sendirian? Takut kesepian? Takut tak akan menemukan belahan jiwa yang mau menerima apa adanya? Jika sudah dengan alasan itu kamu tetap bertahan, bukankah itu bukan cinta?

Lantas yakinkah kamu tetap bisa bertahan dengannya 10, 20 tahun dalam ikatan yang lebih sakral, dalam sebuah pernikahan?

Bahagiamu memang sebuah prioritas, tapi tolong jangan menjadi egois. Hanya demi mempertahankan bahagia semu itu, lantas kamu membodohi diri sendiri. Tak taukah kamu bahwa bapak ibumu adalah orang yang paling menanti kebahagiaanmu? Betapa nelangsanya hati mereka jikalau mengetahui anaknya seringkali terpukul dengan segala peringai buruk prianya. Belum lagi perasaan sahabatmu, orang yang senantiaasa kamu jadikan tempat pelarian. Bercerita segala keluh kesah di dada. Mereka yang seringkali kamu minta pendapat untuk kisah asmaramu, tapi juga selalu kau abaikan nasehatnya. Bukankah kamu layak untuk mendapat julukan manusia bodoh yang egois?

Tentu kamu tahu, bahwa masa depanmu bukan hanya persoalan cinta. Ada komitmen kuat yang harus diutamakan ketimbang cinta belaka. Dibutuhkan dua manusia kuat untuk menghadapi persoalan Bersama, bukan hanya menjadikanmu sebagai sasaran empuk pelampiasan apalagi pelarian. Nantinya, sosok yang kamu butuhkan adalah pemimpin keluarga, imam yang taat, bukan pecundang yang gemar mempermainkan perasaan. Dan kamu tahu betul, sosok seperti apa pria yang sedang duduk di hatimu saat ini.

Sekali lagi aku menulis bukan bermaksud untuk menggurui atau mencoba mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi aku hanya ingin sedikit berbagi tentang kehidupan dan realita. Betapa hidup bukan hanya soal terlanjur cinta. Jika memang cinta yang sedang kamu jaga tak pernah membawamu pada kebaikan, maka hentikanlah urusan ini sebelum segalanya semakin terlanjur dan runyam.

Aku tahu, kamu memang penyayang, tapi hatimu lebih pantas untuk disayangi terlebih dahulu sebelum memutuskan menyayangi orang lain.