A personable journey is a personal process.

Saya selalu beranggapan bahwa perjalanan yang personable (menarik) adalah perjalanan yang di dalamnya kita (sebagai subjek yang melakukan perjalanan) menyadari dan memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk berproses. Karena penekanannya adalah pada proses, destinasi bukan menjadi indikator utama dalam mendefinisikan perjalanan menarik versi saya.

Meskipun demikian, kerap kali destinasi menjadi pemicu utama seseorang melakukan perjalanan, dan Uluwatu (dalam kasus saya), telah menjadi pemicu utama saya melakukan satu perjalanan singkat yang menarik ini.

Perjalanan ini saya lakukan berdua dengan teman saya (kami berdua dari Jakarta) di awal bulan Maret 2016, ketika kami sedang mengunjungi rekan-rekan kami yang sedang kursus Bahasa Inggris di Denpasar. Kami pun memulai perjalanan mandiri dengan hanya bergantung pada Sarbagita sebagai transportasi utama kami.

Saya sangat menyukai perjalanan yang dimulai secara acak dan dengan perencanaan yang terbatas. Apalagi alasannya kalau bukan karena serunya sensasi yang dapat dimunculkan oleh suatu ketidakpastian. Kami pun memulai perjalanan di siang hari dengan terlebih dahulu mampir di GWK (Garuda Wisnu Kencana). Setelah memenuhi rasa penasaran pada semua rupa batu yang ada di sana, kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami, Uluwatu.

Advertisement

Di tengah rasa excited kami yang sedikit berlebihan, kami baru menyadari bahwa tidak ada transportasi umum yang tersedia untuk mengantarkan kami ke Uluwatu.

Saya pun berinisiatif memesan taxi online dan, tadaa.. Masalah pun terpecahkan. Dalam benak saya terlintas bahwa “teknologi memang membuat manusia kesulitan untuk memperoleh kesulitan dalam perjalanan”. Namun pemikiran tersebut hanya berkunjung sejenak sebelum akhirnya diusir pergi oleh semangat kami yang berapi-api untuk mencapai Uluwatu sebelum matahari terbenam.

Selama perjalanan kami berbincang dan menikmati setiap detail keindahan yang disajikan Bali kepada kami. Tanpa terasa, kami pun tiba di Gerbang Masuk Pura Luhur Uluwatu. Begitu sampai di loket masuk Kawasan Pura, kami menyaksikan ratusan manusia dengan warna kulit, rambut dan gaya yang berbeda dengan kami. Sempurna! Sebagian orang mungkin mengeluhkan lokasi wisata yang ramai dan padat. Tapi bagi saya, selain keindahan alam, keramaian dan keberagaman di dalam kerumunanlah yang akan menghadirkan cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang ada.

Kami pun mempercepat langkah untuk mengantri membeli tiket dan mengambil selendang untuk kemudian diikatkan di lingkar pinggang kami. Kemudian kami dengan pasrah berbaur di dalam kerumunan dan melangkah mengikuti langkah semua wisatawan lain yang ada di depan kami.

Selama melalui jalan setapak, kami berdua tidak ada hentinya meracau dan mengomentari segala hal yang kami lihat di sekeliling kami. Hingga jalan setapak pun berakhir dan kami dihadapkan pada jalan setapak lainnya di pinggir tebing yang bila dilhat dari kejauhan tampak menyerupai Tembok Besar Cina dalam versi mini. Langkah kami terhenti, begitupun ucap kami. Dari kejauhan, tepat di hadapan kami berdiri dengan kokoh, Pura Luhur Uluwatu. Yang dengan kekokohannya tidak sedikitpun menghilangkan keanggunannya.

Kami dapat merasakan desiran ombak di laut dan angin sepoi-sepoi yang seakan-akan menyapa ramah kami, tamu-tamu asing di tanah yang penuh keindahan ini. Kolaborasi sempurna yang memanjakan semua indra kami. Kami pun melangkah maju mencari gardu yang memang disediakan sebagai tempat untuk mengabadikan kesempurnaan ini melalui foto.

Setelah puas berfoto-foto, kami mulai meninggalkan gadget kami dan sepenuhnya tenggelam dalam hamparan keindahan di hadapan kami. Serunya, di tengah perjalanan saya dikagetkan oleh monyet hutan yang secara tiba-tiba hinggap dan bergelantungan manja di pundak saya. Ngeri, takut tapi justru membuat saya dan teman saya tertawa tiada henti setelah monyet itu pergi. Meskipun belum puas menikmati keindahan yang tersaji, kami memutuskan untuk melangkah menuju tebing Pura yang merupakan lokasi untuk menyaksikan Tari Kecak Uluwatu.

Tebing ini didesain menyerupai teater terbuka dengan matahari terbenam sebagai background pertunjukannya. Setelah membeli tiket, kami langsung mencari tempat duduk di tengah yang tepat menghadap sudut tempat matahari terbenam.

Beberapa jam selanjutnya merupakan pengalaman menyaksikan karya seni yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup. Dengan kebijaksanaannya, rakyat Bali berhasil merangkum suasana syahdu dan sendu disandingkan dengan ketegangan yang membuat jantung terpicu serta gelak tawa yang membuat kami haru.

Warga Bali benar-benar menguasai panggungnya dan menyadari posisinya sebagai tuan rumah. Di sini saya tidak lagi melihat sosok Indonesia dengan colonial mentality yang melekat di dalam dirinya. Yang saya lihat adalah sosok Indonesia yang percaya diri, memahami dan menguasai keindahannya dan mampu menampilkannya dengan anggun bahkan di hadapan para mantan penjajahnya.

Warna jingga mentari senja yang menyertai pertunjukan ini juga membuat saya merasa kelimpahan keindahan sebegitu banyaknya hingga saya kewalahan dalam menampungnya. Untungnya panasnya matahari yang menyengat di tubuh saya, membuat saya tetap menyadari bahwa saya masih di Bumi.

Ya, setiap keindahan yang luar biasa selalu disertai dengan pengorbanan dan kesulitan untuk menggapainya. Tragisnya, pengorbanan dan kesulitan itulah yang menjadikan suatu hal menjadi lebih indah daripada seharusnya.

Selesai pertunjukkan, Saya dan teman saya menyadari bahwa kami harus kembali ke realita. Dan realita kami saat ini adalah tidak adanya kendaraan untuk membawa kami pulang ke Denpasar. Hari sudah gelap. Satu persatu wisatawan mulai meninggalkan tempat wisata ini. Kamipun mulai sibuk mencari bala bantuan. Tidak ada taxi online yang ada di sekitar wilayah ini. Pun begitu adanya transportasi umum lainnya. Kamipun memutuskan untuk berjalan kaki hingga mendapat “sasaran” tepat yang dapat kami mintai bantuan. Bodohnya kami tidak menyadari bahwa selepas keluar dari gerbang masuk Uluwatu, kawasan sekitarnya tampak gelap dan sepi. Tidak ada orang apalagi perumahan di sekitarnya. Walaupun takut, kami memutuskan untuk tetap berjalan kaki sambil berharap ada tukang ojek, tukang becak, tukang bajaj atau tukang transportasi apapun yang bersedia menawarkan jasa mengantar. Tapi nihil.

Di titik inilah kami sepenuhnya merindukan hiruk-pikuk beragam kendaraan di aspal Jakarta.

Untungnya sebelum berjalan jauh, kami menemukan warung dan tempat makan kecil milik warga sekitar. Tanpa berpikir panjang saya langsung mencurahkan situasi kami kepada seorang ibu-ibu paruh baya yang ada di dalam warung tersebut. Saya mengakhiri cerita dengan memohon bantuan beliau untuk mengantar kami ke lokasi halte Sarbagita terdekat. Tanpa berpikir panjang sosok ibu itu bersedia mengantar kami ke halte Sarbagita terdekat (dengan jarak kurang lebih 20-30 menit) dengan menggunakan motor bututnya. Dia pun memastikan kami mendapat kendaraan ke Denpasar sebelum kembali kerumahnya.

Tidak ada balas jasa yang dijadikan persyaratan selain permohonan agar kami tetap bersedia menjaga silaturahmi dengannya sekiranya kami kembali ke Bali nanti. Di akhir perjalanan hari inilah saya menemukan kekayaan terpendam Uluwatu yang lebih indah daripada matahari terbenamnya. Hati yang tulus.