Untuk menjadi manusia seutuhnya di dunia ini, Tuhan tidak menjanjikan kepada kita hidup yang sejahtera sentiasa, pesta yang tak ada akhirnya atau tawa yang panjang tanpa jeda. Dalam salah satu ayatNYA Tuhan malah mengumumkan kepada hamba seluruhnya; bahwa hidup di dunia ini penuh coba, penuh liku, penuh tantangan dan ujian. Semua itu alamiah saja, hidup mempunyai watak dasar menseleksi seluruh makhluk yang hidup diatas bumiNYA. Kabar baiknya, semua itu tidak hanya berlaku bagi diri kita manusia, tapi juga terjadi bahkan pada rerumputan dan tumbuhan yang kau lihat di halaman depan rumahmu dan milik tetangga.

Kita Selalu berkata “Kenapa Harus Saya?”, Padahal Jika di Pikir-Pikir Lagi: “Lah, Ujian Hidup Datangnya Bukankah Kepada Siapa Saja dan Kapan Saja?”

Pernah kalian merasa kagum dengan seseorang, menahannnya mati-matian, berharap bersamanya engkau akan membangun masa depan, tapi kau merasa harus menunggu karena masih ada tanggung jawab kuliah yang harus kau selesaikan? Atau jangan-jangan kaulah orang yang siang-malam bekerja keras mengumpulkan uang demi bersegera menikahi pujaan hati yang diam-diam kau sebut namanya dalam doa tanpa henti? Disaat menunggu timing tersebut teman kita yang selama ini menjadi tempat curhat tentangnya malah mendahului kita, melamarnya dan kau baca jelas undangan nikahnya. Disaat itulah kau merasa hatimu runtuh, tanpa sadar lalu hatimu berkata: ”Kenapa harus saya?”

Atau kitakah itu? Saat segala rancang bangun pernikahan yang kita inginkan sudah sedekat pelemparan mata. Hati dan otak sudah pula dipenuhi dengan kehidupan bersama idaman hati setelah akad. Tempat resepsi, menu makanan, design undangan pun sudah terbayang-bayang akan kita bagaimanakan. Segala macam kebutuhan sudah hampir sempurna kita persiapkan, tiba-tiba datang kabar dari pihak orang tua perempuan bahwa pernikahan dibatalkan. Usaha mediasi dan negoisasi tidak berhasil kita lakukakan. “Maafkan saya, Tolong ikhlaskan putri saya” demikian statement akhir dari orang tuanya. Disaat itulah kita mulai merasa dunia mengkhianati kita. Lalu kita berpikir “kenapa harus saya?”.

Jika kemudian kemanusiaanmu memaksamu menangis dan bersedih, berilah tenggat waktu hatimu untuk menghabiskannya. Tapi jangan lupakan dirimu sepenuhnya. Jangan sampai karena sedemikan larut dirimu dalam kesedihan itu akalmu hilang sadar tentang kemahaadilan Tuhan kita. Segala kendali hidup sepenuhnya di bawah rencanaNYA. Selalu ada kemudahan dalam setiap kesukaran yang dihadirkanNYA. Begitulah janjiNYA. Segeralah jawab pertanyaan “kenapa harus saya?” itu dengan selalu ingat sabdaNYA: ”bisa jadi kalian menyukai sesuatu, tapi sebenarnya itu buruk bagimu. Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal menurut Alloh itu baik padamu. Allah maha mengerti segala sesuatu yang tidak kau tau (dengan sebenar-benarnya)”

Advertisement

Bersyukurlah Bukan Kita yang Menjadi Peluka, Duka Berbalas Duka Hanya akan Menjatuhkanmu dari Sifat Dewasa

Janji yang diingkari itu memang menyakitkan, pengharapan yang dikhianati pun tak kalah memilukan. Tapi apakah kedukaan yang memerihkan hati kita akan selalu kita balaskan? Apa yang kau cari dengan melakukannya? Kepuasan? Kemenangan diatas derita orang lain? Lalu apa bedanya kita dengan mereka? Sama-sama penghunus luka? Ingatlah…! Tuhan punya regulasi sendiri bagi penyebar rasa sakit di dunia ini, begitupun untuk mereka yang memilih bersabar untuk menahan diri. Tentu saja Alloh menyediakan balasan bagi mereka kejutan-kejutan yang lebih hebat lagi.

Mungkin cobaan ini sengaja dikirim Tuhan untuk melatih kita menjadi dewasa. Agar ketika kita tahu bahwa sakitnya dilukai itu begitu perihnya, darinya kita akan semakin berhati-hati membawa diri. Menghormati orang lain dengan sepenuh penghormatan. Memuliakan mereka sebagaimana kita merasa senang saat begitu rupa diperlakukan. Sebagaimana keburukan tidak akan kembali kecuali kepada pelakunya, begitupun sifat kebaikan. Ketika kita menyebarkannya dengan penuh kesenangan, kita kemudian menjadi sesuatu yang sangat dirindui oleh banyak orang. Bersamamu mereka bahkan merasa rela berbagi surga di kehidupan mendatang.

Menangkan Diri kita Dari Nafsu yang Sementara, Balaslah Rasa Sakit dengan Menebar Manfaat Pada Orang Lain Sebanyak-banyaknya

Pernahkah kau lihat seseorang yang begitu teramat bahagia menerima bantuan baju bekas kita. Atau pernahkan kau dirangkul seorang sahabat lama dengan begitu bersukurnya karena kau mau mengunjunginya? Padahal menurut kita apa yang kita lakukan itu biasa-biasa saja. Namun bagi mereka rasa pedulimu itu, caramu memerhatikanmu kepada mereka itu mampu meruntuhkan benteng perasaan harunya. Coba jika kita melakukan hal sebaliknya. Kalau lah Dulu kita suka bikin ulah, kita adalah yang paling serakah, selalu ingin menang sendiri, selalu ingin didahulukan, selalu ingin diperjuangkan, apakah kesan itu akan sama saat kau bertemu lagi dengannya dikemudian hari???

Itulah pelajaran dari pengalaman dilukai. Karena itu, jika kita merasa bahagia saat orang-orang yang kita cintai bahagia, bersegeralah membuat dirimu lebih istimewa lagi. Perjuangkanlah mereka dengan apapun yang kalian miliki. Asahlah kemampuanmu dibidang yang kau sukai, buatlah mereka bangga karena telah dipertemukan denganmu didunia ini. Bukankah kita akan berada di puncak kebahagiaan saat mereka di sepertiga malam mendoakan kita, memintakan segala kesalahan kita kepadaNYA? Sesekali, jika bertemu dengan orang-orang seperti ini, mintalah kepadanya: “Ikhlaskah kalian berbagi surga bersamaku di hari kebahagian nanti?” ketika mendengar itu semoga kau akan mendapat pelukan untuk yang kedua kali. Semoga.