Di pinggir sungai Lematang, di sana terlihat si gadis kecil sedang menangis tersedu-sedu. Terkesan ada kepiluan di relung hatinya. Keramaian lintasan perahu hilir mudik disana seolah tak mengganggap akan kesedihanya. Dukungan senja memberi kesan keberlanjutan dukanya, matahari pun membenamkan sinar, kelelawar keluar dari sarang penanda senja hampir lesap. Kebisuannya tersontak semakin menjadi ketika laki-laki sebayanya menghibur.

Ngape denga nangis, baliklah, umak denga nunggu di huma (Mengapa engkau menangis, segeralah pulang ibumu sudah menunggu di rumah) begitu ujar anak laki-laki tersebut sambil menyulurkan hadiah ditanganya. Jeda tangisan pun tampak. Sang gadis tak membalas, dia berlari menjauh, dua puluh empat langkah dia berlari, dengan sadar di menoleh ke wajah sang pemberi hadiah.

Buah entahi mitos desa Muara Gula Lama, dipilih sang laki-laki menjadi hadiah. Sesampai di rumah sang gadis memakan buah tersebut, perlahan dia menguyahnya. Ada perasaan senang, rasa entahi seperti memberi perintah memaniskan lidah dan memuati darah akan kegundahannya. Sejenak tampak keceriaan di raut mukannya. Selepas memakan beberapa jenis makanan yang berbeda, rasa manis di lidahnya berubah menjadi tanpa berasa. Sang gadis menangis lagi, rasa lelah memaksa dirinya untuk terlelap sementara.

Keesokan harinya rengekan sang gadis yang sama terdengar di tempat berbeda, kali ini di halaman rumahnya. Dia tak segan menghentak-hentakkan kakinya dan melibaskan lengokan-lengokan badannya ke tanah. Laki-laki sebayanya namun berbeda menghampirinya dengan pertanyaan yang sama dia bertanya Ngape denga nangis, baliklah umak denga nunggu di huma.

Si gadis terdiam dan mulai menjawab aku dide pacak menang lomba (saya tidak dapat memenangkan lomba). Dalam hati dia berharap mendapatkan bingkisan yang sama. Di luar perkiraannya entahi tak diperolehnya untuk pengusir dukanya.

Advertisement

Kini rasa lara itu menua, bingkisan buah khas Muara Gula tak terlepas di dirinya. Seiring dengan usianya, arena perlombaan dihadapinya. Dia begitu gigih berusaha, berlatih, serta berdoa. Kekuatan gundah itu layaknya obat mujarab akan keberhasilanya. Ketika lara itu terganti dengan rasa manis entahi sementara. Jiwanya hilang, seakan terlalu jauh melangkah melewati garis keberhasilannya

Keinginan berhenti tepat di tengah tak terkuasa. Dorongan akan dambaan serta keserakahan memimpin di depan membekaskan bingkisan penyesalan pengganti lara menua. Sekarang dia mendapat bingkisan penukar buah entahi yang bersejarah. Seumpamanya si gadis dewasa berhenti tepat di garis. Sudah pasti dia Pemenangnya tanpa membuang tenaga menapaki langkah yang sia-sia.

Rintihan gadis dewasa itu tepatnya di Yogyakarta. Jikala ingin merasakan manisnya kecapan entahi di lidah. Kesemuanya telah terganti dengan bingkisan penyelasan akan pemborosan air mata. Tak ada lagi laki-laki sebaya menghiburnya dengan pertanyaan yang sama serta memberikannya hadiah.

Tertanggal 15/07/2014, bumi Yogyakarta dirundung gempa serta guyuran air hujan seakan pengalih kelaraan yang menua. Penyelasan permintaan maaf atas ketidakmampuan menggantikan bingkisan buah Entahi. Rasa manisnya seolah pergi seiring sekering-keringnya air di musim kemarau setumpah-tumpahnya di musim penghujan.