Seringkali aku menangis sesengukan seperti kehilangan sesuatu yang paling kucintai didalam hidupku. Sering pula aku marah menuntut agar keinginanku dipenuhi. Aku sangat ingin memiliki dengan egois dan sengitnya. Tanpa pernah sadar aku tak pernah mempunyai hak untuk itu.

Kujadikan dia bagai matahari yang menjadi pusat tata suryaku.

Aku terus menerus mengitarinya tanpa henti, tanpa lelah. Aku sangat bergantung padanya, seperti tidak dapat hidup tanpanya. Menjadikan dia tempat berkeluh kesah dan sandaran ketika aku bersedih, dan seseorang yang sangat aku cari ketika aku merasa bahagia.

Dia kerap mengatakan akulah kebahagiaannya. Akulah yang dia cari. Hingga membuatku merasa beruntung bertemu dengannya, tak bisa lepas darinya. Meskipun diwaktu dan keadaan tak tepat. Yang pada akhirnya kujadikan sebagai pembenaran terhadap keputusan yang kuambil walaupun aku sangat tahu bahwa itu tidak benar.

Kuiikuti permainannya dan segala aturannya yang pahit.

Advertisement

Yang seringkali menghadirkan perih dan menyesakkan dada. Melawan segala pikiran yang perlahan terus menerus melemahkanku. Berusaha menikmati kesendirian yang tak pernah kusukai saat dia tak ada. Dan coba memaklumi keberadaannya yang tak menentu atau tiba-tiba harus menghilang sejenak karena hal yang sama. Kucoba mendengar segala alasan dan penjelasannya yang harus kupercayai benar adanya. Yang pada awalnya semua terlihat mudah, namun semakin lama kian menyiksa karena batin ini ingin sekali berontak. Kulakukan itu semua demi satu alasan, untuk dapat bersamanya.

Dia tampak begitu menikmati lakon yang sedang dia perankan.

Tarik ulur yang menyebalkan. Seperti mengikuti cuaca yang tak menentu, dan harus selalu bersiap kapan pun badai akan datang. Tak ada habisnya, hingga aku begitu kepayahan menjadi bagian didalamnya. Dimana aku harus selalu mengerti ketika dia sedang menjalankan bagiannya. Kucoba acuhkan namun lebih sering berakhir pada tangis tertahan yang tidak pernah ia ketahui. Berujung pada rasa kebas dan ingin menyerah. Tak adil, batinku. Mengapa cuma aku yang merasakannya? Berkali-kali? Apakah memang ini yang harus kubayar mahal agar bisa mendapatkan yang kuinginkan? Sampai kapan? Bahkan dia pun tak bisa menjawabnya. Tak ada yang bisa. Tak ada kepastian. Sekali lagi pasrahlah yang menjadi satu-satunya pilihan pada bagian ini. Yang sebenarnya bukan pilihan menurutku bila dia bisa mengambil sikap. Atau bila dia memilih berhenti memberikan harapan dan cerita-cerita kosong bertolak belakang dengan yang sebenarnya terjadi. Sehingga aku bisa menempatkan perasaanku pada tempat yang benar. Aku ingin dia mengerti, bahwa membuat orang berharap adalah perbuatan paling jahat setelah menyia-nyiakan.

Aku hanya butuh satu alasan lagi untuk menyudahi ini semua.

Untuk menyadarkanku bahwa ini takkan membawa apapun dalam hidupku. Bahkan kebahagiaan sekalipun. Karena yang kutahu, jalan menujunya tidak akan sepelik ini. Aku harus sadar dan menerima bahwa mungkin lagi-lagi kali ini tidak semua hal bisa kudapatkan dalam hidupku. Tak sepatutnya kubebankan padanya harapan-harapan yang seharusnya kuwujudkan sendiri tanpa dia. Membiarkan dia dan hidupnya berbahagia adalah jalan terdamai yang mungkin sebaiknya kutempuh. Kali ini bukan untuknya, melainkan untukku. Cukuplah dia tau bagaimana keras kepalanya aku mencintainya, hingga tanpa sadar terus melukai diriku sendiri. Namun mungkin tidak cukup kuat untuk bertahan lebih lama lagi pada keadaan yang tidak pernah bisa kita raba ujungnya ini, yang pernah kita titipkan padanya sepenuh harap bahwa takdir memang keliru. Bahwa kitalah yang benar dan dengan keras kepala kita merapal doa hingga fasih untuk dapat menua bersama dibawah satu atap. Dan berharap Tuhan bosan lalu berbelas kasih mengabulkannya.

Hingga tulisan ini akhirnya sampai pada ujungnya, tak pernah lelah kudengungkan amin atasnya. Mengertilah…bahwa aku yang keras kepala dan suka mengeluh ini, tidak pernah benar-benar ingin pergi.