Teruntuk kamu yang kini mengisi hatiku… Berhentilah mencemburui masa laluku. Sungguh, telah kutamatkan kisah itu. Kini, rasaku sepenuhnya milikmu.

Sayang…

Sebelum aku mulai berbicara panjang lebar, aku ingin kamu memahami sesuatu.

Aku mungkin memang tak begitu sering mengumbar kalimat "Aku sayang kamu" atau sejenisnya. Sikapku padamu tak selalu manis layaknya sejoli dimabuk cinta. Aku mungkin tak selalu membuatmu bahagia, bahkan sekali waktu aku malah menyakiti perasaanmu. Aku pernah membuatmu marah. Terkadang aku pun marah karena kesalahan kecil yang kamu lakukan. Beginilah aku, dengan segala kekuranganku. Tapi percayalah, tak sedetik pun yang kulewati tanpa rasa cinta untukmu.

Sayang…

Advertisement

Sekali waktu aku dapati dirimu marah akan masa laluku. Lalu aku terdiam dan berpikir. Sebenarnya apa yang membuatmu bisa mencemburuinya? Kenyataan bahwa aku pernah menyayanginya adalah sesuatu yang tidak dapat diubah. Tapi apa kau lupa bahwa semuanya kini telah berakhir?

Rasa sayang dan kisahku dengannya adalah episode hidup yang sudah kutamatkan. Tuntas tak bersisa. Kenanganku dengannya mungkin memang menjadi sesuatu tak bisa kuhapus bersih dalam ingatan. Tapi sunggguh, aku tak pernah dengan sengaja menyimpannya.

Aku dan dia adalah kisah yang sudah tamat. Sebelum aku memutuskan untuk bersamamu, aku telah menyelesaikan semuanya tentang dia. Aku menyiapkan hatiku untuk menjalani hidup yang baru. Aku ingin memulai sebuah kisah yang baru denganmu. Bagiku, masa lalu adalah sebuah pelengkap cerita hidup yang akan menjadi sebuah pelajaran berharga.

Aku bertanya-tanya apa alasanmu mencemburuinya. Apakah karena dia adalah orang yang dulu pernah mengisi hatiku? Atau apakah kamu takut aku akan kembali bersamanya? Jika iya, coba dengarkan aku, sayang.

Setiap orang pasti punya masa lalu mereka masing-masing. Tapi, apakah kita hidup untuk masa lalu? Masa lalu adalah sesuatu yang sudah terjadi, yang telah aku tinggalkan, bahkan satu persatu kepingannya telah aku lupakan. Masa lalu adalah sesuatu di luar kendaliku, yang tidak bisa aku ubah sekeras apapun aku mencoba. Dia juga bukan sesuatu yang bisa aku hapus dari perjalanan hidupku sekuat apapun aku menginginkannya. Jadi aku biarkan dia berlalu begitu saja.

Aku menjalani hariku untuk sebuah masa depan. Dan kamu adalah orang yang telah aku pilih untuk menemaniku melangkah maju, sayang. Jika kita terus menerus menengok ke belakang, bagaimana bisa kita melangkah maju dengan benar? Maka, mari kita bersama melihat ke depan sana. Lalu mari kita melangkah menuju masa depan. Jangan khawatirkan masa lalu. Dia akan tetap selalu ada di belakang kita, tapi dia tak akan pernah lagi bisa melampaui kita.

Sayang…

Berjanjilah… Jangan lagi cemburu dengan masa laluku. Dia hanya sisa kepingan cerita kehidupan yang kupendam tanpa sisa rasa. Hanya bersamamu, dengan menggenggam tanganmu, dan menatap wajahmu kini ku akan melangkah maju. Memfokuskan diri menuju cita-cita masa depan yang perlahan kita bangun menjadi nyata.

Bukankah itu memang yang menjadi tujuan kita selama ini?