Aku terikat janji denganmu, janji untuk mengunjungimu di kota kecil itu. Sebenarnya aku pun tak sabar untuk segera bertatap muka denganmu. Sungguh, ini semua bagikan mimpi. Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa mustahil aku dapat bertemu lagi denganmu, karena aku tahu kau pasti sangat sibuk dengan semua urusanmu. Membayangkan kita akan menghabiskan waktu bersama-sama bagiku adalah hal yang sangat tidak mungkin. Sampai tiba waktunya kita bertemu dan aku tersipu malu saat kau menatapku. Senang rasanya bisa melihat wajahmu meskipun saat itu kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Memandang wajahmu yang begitu teduh membuatku merasa senang. Pribadimu yang humoris dan sikapmu yang begitu tenang membuatku merasa sangat nyaman berada di dekatmu.

Hari itu kau mengajakku mengelilingi kota itu, kota yang tak pernah mati dari hiruk pikuk dan kesibukan para warganya. Yogyakarta, kota kecil dengan sejuta pesona di dalamnya. Dengan angin yang mengusap lembut peluh kita diperjalanan, kau mulai menceritakan berbagai kisah tentang Yogyakarta dan kau telah menunjukkan setiap detail wilayahnya. Tak hentinya kau menjelaskan setiap titik jalan yang kita lalui. Tak bosannya kau menjawab pertanyaan yang kulontarkan berulang kali. Tahukah kamu bahagianya aku saat itu saat bisa menghabiskan waktu berdua bersamamu. Tertawa dan bercanda bersama, berbagi kisah dan cerita diantara kita. Kita, yang aku dan kamu masih berjalan sendiri-sendiri. Dan setiap sisi jalan di kota itu akan menjadi saksi bisu cerita di antara kita. Aku tak menyangka, caramu yang sederhana itu bisa membuatku tertawa.

Terima kasih atas segalanya, terimakasih telah meluangkan waktu untukku yang selalu saja merepotkanmu. Terima kasih karena berkatmu aku berhasil melakukan perjalanan pertama ke Yogyakarta, sendirian dan tanpa salah jalan. Aku berharap meski nanti kita terpisah jauh, kau masih bersedia menemuiku untuk mengelilingi sebuah kota yang baru, yang akan menjadi saksi bisu yang kusimpan dalam ceritaku.