Tulisan yang aku harapkan untuk kamu baca.

Teruntuk seorang teman. Mulai sekarang aku akan memanggilmu sebagai seorang teman. Aku sampai saat ini tak mampu membaca hatimu. dan saat ini pula, aku hanya bisa menerka-nerka, siapa seseorang yang mampu mencuri hatimu. Entahlah, hati seseorang siapa yang tahu.

“ dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu “

Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengijinkan seseorang membuka kembali pintu hatiku. 1 tahun 2 tahun bahkan hingga 5 tahun hingga akhirnya aku mengijinkanmu untuk membukanya. Luka teramat dalam bertahun-tahun silam terasa sedikit terkikis semenjak kau datang dan mulai masuk dikehidupanku. Kau bahkan meyakinkanku jika kamu adalah seseorang yang tak akan membuat sedikitpun luka untuk hatiku. Aku tahu kau juga pernah terluka. Sama denganku. Aku juga tahu sikap dan tutur katamu yang selalu berhati-hati saat berkomunikasi denganku.

Meskipun kau tak selalu ada untukku, tapi aku selalu menantimu. Kamu, seseorang yang selalu membalas pesanku lebih dari berjam-jam lamanya hingga tak jarang aku tertidur karena lelahnya menunggu. Aku tahu kau sibuk untuk masa depanmu, tapi sesibuk itukah kamu hingga tak menyisakan sedikit waktu untukku? Bahkan kau tak sedikitpun merasa resah tak memberiku kabar. Tak tahukah kamu? Saat kamu hilang tanpa kabar aku sangat khawatir lebih dari yang kau pikirkan. Bahkan saat pertemuan yang tak pernah kau sepakati dan terkesan selalu kau hindari, aku masih tersenyum dan menganggapnya itu salah satu kebaikan darimu.

Advertisement

“Bukannya aku tak ingin bertemu denganmu dik, tapi memang pekerjaanku menuntutku seperti itu “

Ratusan pertanyaan ingin aku tujukan untukmu.

Tapi aku berusaha menahannya demi kebaikan kita. Tapi rasanya itu sangat menyesakkan melihtmu seperti itu tanpa ada perubahan untuk “hubungan” ini. Entahlah, aku tak tahu. Aku hanya ingat rasanya saat kau mengatakn sesuatu yang membuatku merasakan lagi sakit yang sudah aku kubur bertahun-tahun lalu, yang kini menyeruak kembali dengan cepatnya. Ada apa denganmu yang mendadak berubah? Apakah ada seseorang yang lain yang sudah mengisi hatimu? Kenapa susah kau mengatakan “tidak, kaulah satu-satunya untukku!” Aku ingin mendengar kalimat itu, tapi sepertinya itu hanya akan menjadi sebuah angin lalu untukmu.

Aku hanya ingin kau tahu, saat ini aku terlihat kuat namun tidak dengan hatiku. Terimakasih sudah memberiku harapan yang nyatanya hanya sebuah embun pagi yang tak membutuhkan waktu lama untuk menguap kembali.