Hari sudah beranjak siang saat aku terbangun dan melihat display temperatur suhu pendingin ruangan, 20 derajat Celcius. Gumam ku, "Oh Tuhan, pantas saja dingin."

Aku yang baru terbiasa dengan suhu ruang ber-AC jujur saja tak terlalu nyaman dengan ini. Dua puluh tujuh derajat mungkin suhu yang cukup nyaman, tak terlalu dingin, lebih cenderung sejuk. Aku pun merapatkan jaket yang sedari awal ku pakai.

Di luar sana, hamparan pepohonan saling berkejaran dengan waktu. Sesekali hamparan padi milik petani yang mulai menguning ku jumpai seolah-olah meminta untuk segera dipetik dan dimanfaatkan bijinya. Deru roda kereta yang beradu dengan rel memang akhir-akhir ini memberikan suasana nyaman yang berbeda. Suasana nyaman yang tak pernah ku temui sebelumnya.

Dari stasiun Tanjung Karang tempat ku memulai perjalanan sampai ke stasiun tujuan akhir Kertapati harus ku lalui dengan melewati kurang lebih 40 stasiun besar dan kecil yang membentang disepanjang 387, 872 kilometer. Kereta yang ku naiki cukup nyaman, ruang ber-AC dengan tempat duduk yang santai. Bagasi yang cukup luas untuk menaruh barang bawaan.

Lalu lalang para penjaja makanan seperti yang ku bayangkan sebelumnya sudah tak ada, terganti dengan hadirnya para polisi khusus kereta api dan pelayan (sejenis pramugari dalam pesawat) yang sesekali menyapa kami, memastikan para penumpang mendapatkan pelayanannya.

Advertisement

Sepanjang perjalanan itu, melewati satu per satu stasiun, beberapa orang memilih naik, dan beberapa lainnya memilih turun. “Mereka punya tujuan masing-masing,begitu pikir ku.

Ahh, bukankah aku juga punya tujuan sendiri?

***

Tanjung Karang-Labuhan Ratu-Rejosari-Tegineneng-Rengas-Bekri-Aji Pemanggilan-Sulusuban-Blambangan Pagar-Kali Balangan-Kotabumi-Cempaka-Ketapang-Negara Ratu-Tulung Buyut-Negeri Agung-Blambangan Umpu-Giham-Way Tuba- ………………………….., – …………………… –Kertapati.

Dari semua stasiun tujuan itu aku memilih stasiun Way Tuba sebagai stasiun tujuan akhir ku melakukan perjalanan yang cukup panjang ini, kurang lebih selama 7-8 Jam perjalanan. Selama itu pula aku memikirkanmu. Memikirkan sosok yang saat ini entah pergi ke mana.

Di sepanjang jalan itu aku berpikir tentang impian-impian yang ingin ku lakukan jika nanti bisa bersamamu kembali. Kita pergi menaiki sebuah kereta, kita pergi kemana pun kita mau. Di sana kita bisa memesan kopi, menyeruputnya pelan-pelan sembari menikmati keindahan alam Sang Pencipta, hanya berdua. Aku dan kamu.

Jika perjalanan itu membosankan bagimu, mungkin kita bisa bermain tebak-tebakan tentang nama-nama hewan atau buah-buahan, bermain Scrabbel mungkin, atau mungkin kita bisa menikmatinya sembari diam dengan menyandarkan kepalamu dibahuku. Kita saling bercerita tentang masa kecil kita, atau bagaimana nanti kita membina masa depan bersama. Ahhh, itu adalah perjanan mengesankan yang tidak akan pernah ku lupakan.

“Dari semua stasiun-stasiun tujuan itu, aku telah memilih stasiun tujuan akhirku. Stasiun itu ku beri nama, Kamu”.

Ya, aku telah memilih kamu sebagai stasiun tujuan akhirku dengan segala risiko yang ada. Aku tak pernah peduli dengan semua kekurangan ataupun kelebihanmu. Yang aku tahu, saat kita bersama kita akan saling melengkapi. Bukankah begitu kecil? Kecil, nama yang ku sandangkan kepadamu saat ini.

Mungkin di sepanjang perjalanan itu kamu menemukan orang yang nyaman untukmu, kamu terlalu nyaman dengan suasana alam dan pemandangan indah di sepanjang jalur yang kamu lalui, atau kamu menemui hambatan kesulitan yang membuatmu lupa dengan stasiun tujuan akhirmu. Tapi aku tidak lupa kecil, aku akan selalu ingat dengan stasiun tujuan akhirku, aku selalu mengingatnya karena aku punya impian bersamamu di sana.