Jika Aku memang ditakdirkan untuk menjadi peri penjagamu, lantas mengapa Kamu memilih pergi jauh dari jangkauanku?

Aku adalah perempuan yang memilih untuk tidak mencintai apapun lagi di dunia ini, selain ketenangan. Kurasa sudah saatnya Aku bangkit. Tidak lagi merindukan semilir angin yang berhembus hangat di kulit leherku, seperti dulu Kamu yang tak pernah sedetikpun melepaskan ciuman di tengkukku.

Aku adalah perempuan yang selalu mengirimkan isyarat tanpa syarat, pada setiap do'a yang kulafadzkan; sama seperti derasnya rasa kalut yang menghantuiku di malam-malam tak berbintang. Samar, pudar dan tak berbinar.

Perempuan sepertiku dan sama halnya dengan perempuan-perempuan lainnya; terlatih untuk bersabar, meski jiwa dan pikiran tenggelam di alam bawah sadar tanpa Kamu sadari. Perempuan yang hidup untuk mencintai tanpa berharap dicintai. Apakah cinta sebegitu egoisnya?

Saat pagi kusapa dunia, mentari hanya sanggup mengedipkan secercah cahaya kelam. Sama seperti dinginnya saat Kamu memutuskan untuk pergi jauh dari jangkauanku. Kalau memang Aku ditakdirkan untuk menjadi peri penjagamu, lantas mengapa Kamu memutuskan menyerah?

Advertisement

Percuma saja kubaitkan hati, jika rasa tak lagi dinanti. Tangan yang tak mungkin lagi kuraih. Jemari yang hanya meninggalkan kebas di telapak tangan. Jangan pernah merasa kecewa, karena justru Akulah orang yang paling bersedih; karena kutahu apa yang tidak bisa kumiliki lagi.