Tahun lalu aku mengenalnya, berawal dari hobi yang memang sama. Kita sama-sama penikmat alam dan sangat antusias bila mendengar tentang suatu perjalanan. Saat itu kau mengajakku berkenalan untuk bertanya tentang salah satu destinasi yang pernah kulalui.

Namun saat itu komunikasi yang kita jalin tak sesering sekarang bahkan sempat menghilang. Hanya berteman seperti biasanya, dan aku pun tak terlalu mengubris kehadirannya. Tapi beberapa bulan lalu komunikasi kita berjalan kembali, bahkan lebih sering dari yang kuduga. Entah apa yang membuat kita bisa berkomunikasi serutin itu.

Waktu terus berlalu, kita mulai lebih saling mengenal tentang latar belakang kehidupan dan perjalanan yang telah kita lalui. Dan ketika semesta memberi jalan untuk kita bertemu, ada sesuatu yang berbeda darinya ketika pertama bertemu. Aku pun tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.

Apa yang menjadi penyebab kita bertemu?
Mengapa saat kita akan bertemu aku merasa sangat bersemangat?
Mengapa dialah yang ku cari saat itu?
Mengapa dia meng iya kan ajakan ku saat itu?

Padahal sebelumnya kita tak pernah bertemu apalagi saling mengenal lebih dalam. Dan yang aku tau dia benar-benar selektif ketika iya akan menjalin hubungan apapun dan dengan siapa pun. Saat itu yang kupikir “ah mungkin itu hanya kenyamanan dan kebetulan yang biasa kutemukan saat berjumpa dengan pejalan-pejalan lain”

Advertisement

Setelah pertemuan itu, kita semakin sering berkabar dan seolah memang semesta menakdirkan kita untuk kembali bertemu. Aku tak bisa menghindari hal itu, padahal saat itu aku sedang ada dalam fase yang benar-benar terpuruk. Ketika sisi lain di hidupku tak ingin kembali menjalin hubungan apapun dengan seorang pria. Bahkan hanya untuk berteman sekalipun aku tak menginginkannya.

Karena beberapa bulan sebelumnya aku pernah mengalami luka yang teramat dalam dari seorang pria yang dulu sangat kuperjuangkan. Ketika dia mulai hadir dihidupku aku pun masih memperjuangkan dan berharap pada pria yang telah melukaiku sebelumnya. Dia tak pernah mau tau tentang hubungan ku sbeelumnya karena memang dia denganku hanya ingin berteman.

Tak seperti orang lain yang sangat ingin mengetahui tentang permasalahanku di hubungan yang lalu. Itulah hal pertama yang membuatku terkesan padanya. Dan aku pun melihat seperti ada sudut pandang yang sama antara aku dan dia dalam melihat suatu hal. Seperti mimpi dan harapan yang tak semua orang berani memiliki nya.

Dan sejak saat itu aku mulai berfikir mungkin sudah saat nya aku membuka diri untuk orang lain yang mencoba memasuki hidupku jika yang mereka cari hanyalah teman yang memang benar-benar bisa diajak berteman tanpa melibatkan perasaan dalam hubungan yang akan di jalani. Aku mulai tertawa bahagia kembali, ketika banyak teman baru yang kujumpai.

Terlebih tentang sosok dirinya yang semakin kukenal semakin banyak kesamaan yang kujumpai bahkan persis sekali. Setelah beberapa kali kita bertemu aku baru mengetahui tentang tanggal Kelahiran kita yang ternyata sama. Tentang karakteristik sifat kita yang sama sebagai manusia pemimpi, ambisius dan sangat perfectsionist. Egois dan porsi keras kepala yang ada pada diriku sama seperti yang ada pada dirimu.

Bahkan untuk beberapa hal konyol dan bodoh pun kita melakukan hal yang sama sudah sejak lama. Aku pikir tak akan ada manusia yang berpikir sebodoh yang kupikirkan tapi ternyata Tuhan menciptakan manusia memang berpasangan. Mungkin oranglain berkata itu hanya di sangkut pautkan, kebetulan atau disamakan dan sebagainya. Tapi bukan itu yang ku alami! Menagapa aku mempercayai semua kesamaan yang kita miliki karena memang semua terbukti. Dan bukti itu pun telah ada jauh sebelum kita bertemu.

Ada hal yang hingga kini tak pernah ku mengerti,
Untuk apa Tuhan mengenalkannya padaku?
Siapakah dia untukku di masa depan?
akankah kita terus seperti ini? Ataukah akan ada hal yang lebih membahagiakan?
Atau justru Tuhan menghadirkannya untuk memberiku ujian lebih berat ketika aku merasa kehilangannya?
Mengapa Tuhan baru memertemukan kita sekarang?

Bukankah sejak beberapa tahun yang lalu jalan kita telah beriringan. Tentang teman-teman dan lingkungan kita yang ternyata kita ada di zona yang sama sejak dulu. Tentang beberapa kejadian dan acara yang sama-sama kita lewati. Dulu aku yang harus berada di tempat itu dan karena tuntutan pekerjaan dia pun harus berada di tempat yang sama saat itu.

Bahkan aku yakin sejak dulu pun kita telah sering bertemu. Namun Tuhan seperti memberi tembok atau sekat penghalang agar kita tak bisa saling mengenal sejak dulu. Karena bila dipikirkan lagi oleh logika manusia, tentang semua peristiwa yang telah aku dan dia lalui. Musthail jika kita tak saling mengenal sejak dulu.

Tapi mungkin itulah yang dinamakan dengan takdir Tuhan. Skenario dan Rencana-Nya pasti lebih baik dari rencana Umat-Nya. Sebab jika kita telah mengenal sejak dulu, aku yakin kita takakan sejauh sekarang. Mungkin kini sekarang sosok dia dan diriku yang telah mengalami perombakan dan perubahan diri yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Dan mungkin sekarang semesta baru merasa kita sudah pantas untuk dipertemukan. Tapi apakah jika tak ada persamaan itu kita akan sejauh ini? Dan apa yang akan terjadi jika di depan sana banyak perbedaan yang menghantam? Akankah dia tetap di sini bersamaku.

Dia adalah sosok yang tak pernah kumimpikan dan kuminta sebelumnya pada Tuhan. Karena sebelumnya aku berpikir sosok seperti itu mungkin mustahil ada di dunia. Mustahil? Bagaimana tidak mustahil bila dia terlalu sama sepertiku.
Dan kedewasaan yang dia miliki membuat kita sejauh ini. Kita tak pernah bertengkar hebat. Dia selalu berfikir tujuan dan efek dari yang kita bicarakan. Sehingga kata yang kau ucapkan pun terdengar sangat bijaksana dan bisa membuatku menerima.

Bila dihitung waktu kita saling mengenal sejauh ini memang sangat singkat. Terlebih dengan latar belakang sifat kita yang memang sama-sama susah untuk menggunakan perasaan dalam berhubungan dengan teman. Namun bila dihitung dengan cara kita berhubungan, memang sudah sangat lama aku menunggu kepastian.

Sebenarnya apa yang sedang kita rasakan sekarang?
Hubungan apa yang kita jalani sekrang?
Apa yang harus aku jawab jika orang lain menyanyakan tentang apa status yang kita jalin sekarang?

Yang jelas kuketahui semenjak kehadirannya kini, dia lah syukur terbesarku pada Tuhan. Dan tak hentinya ku berdo’a semoga Tuhan menghadirkannya memang untukku, bukan untuk mengujiku. sisi lain diriku memang tak mementingkan tentang status apa yang kita jalani sekarang.

Aku sudah tak menginginkan hubungan yang hanya berstatus pacaran. Aku hanya butuh kejelasan ke arah mana hubungan yang akan kita jalani. Karena kini kita sudah sam-sama dewasa yang memang sudah seharusnya memikirkan tujuan dan arah kita melangkah.

Haanya ini yang ingin kuucapkan padanya
Terimakasih telah hadir menjadi syukur terbesarku pada Tuhan
Terimakasih telah membuat mimpi-mimpi ku semakin dekat untuk kuraih.
Banyak sekali pencapaian yang telah aku dapatkan semenjak kau hadir. Meski kau tak pernah menemani semua kegiatanku. Entah mengapa aku meraasa kau tetap ada menemaniku disini.
Tetaplah disini hingga perjalanan dan semua mimpi kita selesai.