Travelling akhir-akhir ini bisa jadi merupakan sebuah kebutuhan yang vital bagi manusia. Euforia ini pastinya gak akan kita lewatkan sebagai anak muda yang pengen dianggap kekinian.

Kisah ini merupakan kisah kami para campingers dan traveller yang benar-benar amatir. Kami masih sangat awam dalam hal camping, tetapi ini gak menyurutkan keinginan kita buat mencoba hal-hal yang baru untuk keluar dari zona nyaman.

Awal Desember 2015,kami merencanakan untuk mengadakan “beach camp”. Jauh hari seharusnya semua yang dibutuhkan baik alat maupun perlengkapan atau destinasi yang akan dituju dipikir secara matang-matang. Berbanding terbalik dengan hal itu kami hanya menentukan destinasi dalam 2 hari dan itupun kami hanya mencari dari suatu situs internet.

Hari H pun tiba, kami berencana berangkat dari Solo menuju Pantai Ngrumput , Gunung Kidul pukul 04.00 sore. Baru saja kami akan berangkat hujan deras sudah mengguyur Solo. Awalnya kami ragu akankah melanjutkan rencana camping ini atau gak, tapi kalau kita gak jadi biaya sewa tenda kita terbuang sia-sia.

Akhirnya kita berangkat menuju tujuan dengan menggunakan jas hujan. Perjalanan kami dimulai jam 05.00, kami menggunakan motor dan karena kondisi hujan lebat kami putuskan untuk pelan-pelan saja.

Advertisement

Tak terasa magrib sudah hampir tiba kami masih berada di jalan Solo-Klaten. Ada salah satu personil kami yang nyasar, akhirnya kami menunggu di sebuah SPBU. Di sepanjang perjalanan kami merasa banyak hal-hal mistis, diantaranya ketika kami melewati daerah pemakaman kami merasakan bau yang sangat harum. Tidak hanya sekali bahkan sampai berkali-kali.

Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan kita belum sampai ke tempat tujuan, perut kami yang keroncongan mulai minta diisi dan kami berhenti sejenak di sebuah rumah makan. Singkat cerita kami sudah sampai di wilayah pantai tersebut. Setelah menitipkan kendaraan di rumah salah satu warga kami mulai menyusuri jalan menuju pantai.

Coba kamu bayangkan, berjalan, menuju pantai dengan media jalan yang becek saat jam 10 malam dan di situ pula kami berpikiran bahwa samping kiri kanan kami adalah jurang yang terjal. Kami bersepuluh berjalan saling berpegangan tangan, suasana horor pun masih terjadi di sini. Lolongan anjing pada malam hari bisa berarti sebuah tanda di mana ada makhluk astral di sekitar kita.

Usaha keras gak akan membohongi hasil. Kami sampai di bibir pantai dan langsung mendirikan tenda. Karena kami awam dan benar-benar gak ada pengalaman mendirikan tenda dome, sampai-sampai yang seharusnya dijadikan penutup malah jadi badan tendanya. Kami butuh waktu 1 jam untuk mendirikan 1 buah tenda padahal kami butuh 3 tenda, benar-benar memalukan ahahaha..

Kami melakukan aktifitas kami dengan barbequean ala kami.Tak terasa kami sudah melewati tengah malam dan kami memutuskan untuk rehat sejenak.

Tujuan awal kami akan melihat sunrise di sebuah bukit dekat pantai, yaitu Puncak Kosakora. Pukul 03.00 pagi kami dibangunkan oleh hawa yang sangat dingin, untuk menghangatkan badan kami membuat api unggun dan menyeduh minuman hangat. Setelah pukul 05.00 kami bergegas untuk naik ke Puncak Kosakora, memang medannya terjal dan agak mengerikan, kami sedikit kecewa karena pancaran sunrise terhalang kabut mendung.

Setelah puas berfoto-foto di atas bukit dengan background pantai yang menawan kami pun turun menyusuri bukit, sebagian cowok-cowok sedang asik bermain volly pantai. Perjalanan travel kami tidak hanya ke pantai ini saja, maka dari itu kami segera membongkar tenda dan bergegas menuju destinasi lain.

Di saat kita akan kembali ke parkiran kami tercengang melihat medan yang kami lalui di malam hari kala itu ternyata bukan jurang melainkan sawah-sawah yang baru saja ditanami padi. Konyol memang dan kami pun tertawa sendiri mengingat betapa parnonya kita saat melewati ini di malam hari. Dengan keadaan semalam kami pun salut dengan kebersamaan kita dalam melewati medan yang terjal, jujur.. Emosi kita saat itu benar-benar diadu karena selain udah jalan sendiri aja susah beratnya barang bawaan ditambah minimnya penerangan membuat kami semua agak ragu.

Oke lupakan kejadian semalam, perjalanan kami lanjutkan menuju Pantai Wediombo. Di sini kami dapat bermain-main dengan ombak dan air sepuasnya. Akan tetapi, harus diwaspadai banyak ubur-ubur kecil nan transparan di sini. Siapapun bisa tersengat olehnya.

Matahari semakin meninggi, perut kami yang lapar mulai minta diisi. Kami memasak sisa persediaan semalam sambil merencanakan kemana lagi kita akan pergi. Setelah fix, kita langsung bergegas menuju Pantai Jogan, pantai yang terkenal dengan keindahan akan air terjunnya di dekat pantai. Tapi ekspektasi gak sesuai realita. Ketika kami sudah sampai tujuan kami merasa dikecewakan karena air terjunnya masih surut, bahkan gak bisa disebut lagi sebagai air terjun.

Karena lelah kami pun memutuskan istirahat sejenak di situ mesti mood kami sudah campur aduk. Setelah energi kami terisi kami pun pergi mencari musholla untuk ibadah dan mandi. Seusai itu kami lanjutkan jalan pulang. Pada awalnya suasana jalan pulang seperti biasa, namun ketika rombongan kami terpencar menjadi 2 bagian, suasana mistis pun tercipta kembali. Kami 2 motor yang tadinya berada di depan sudah sampai di rumah masing-masing. Tapi rombongan depan kami ternyata malah diputar-putarkan di daerah yang mungkin agak mistis.

Well, setelah kami semua sampai di basecamp kami saling beradu mulut apa yang terjadi sehingga kami bisa berpisah dan diputar-putarkan di jalan. Kami pun sampai sekarang tidak menemukan titik temu dan membiarkan semua mengalir mengikuti arus. Setidaknya ini pengalaman berharga kami bahwa jika kalian ingin melakukan travelling dan menginap persiapkanlah matang-matang dan kalian harus menguasai semua hal tentang itu. Salam Traveller!!