Hubungan kita telah berjalan begitu lamanya, waktu demi waktu telah kita lalui bersama. Suka duka, tangis dan tawa. Kita pernah tertawa bersama. Kita juga pernah menangis bersama. Aku selalu teringat tentang kenangan manis kita dalam melawan jarak yang memisahkan kita selama 5 tahun ini, kita sering bertemu ketika liburan.

Menjalani hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Ini pertama kalinya aku jalani hubungan jarak jauh atau yang biasa disebut dengan LDR, namun bagaimanapun juga aku tak mempedulikan seberapa jauh jarak yang memisahkan kita. Aku hanya peduli denganmu.

Jarak ini mengajarkan aku untuk selalu percaya. Jarak ini juga mengajarkan aku untuk selalu memelukmu lewat doa dalam setiap sujudku, kau selalu aku semogakan dalam setiap doaku.

Kita selalu bertemu ketika liburan. Ketika kita bertemu kau tak pernah mau untuk pulang, kau mempunyai banyak alasan untuk tetap di sini. Akupun begitu, aku selalu berharap waktu akan berhenti ketika kita sedang bahagia bersama.

Aku selalu menitipkan rindu pada angin yang berhembus. Aku selalu menahan rindu yang kadang menyesakkan dada. Aku selalu memikirkanmu. Ketika kita terpisah jarak lagi rindu itu semakin dalam dan menyesakkan dada. Aku ingin segera bertemu denganmu, menggenggam tanganmu, mendengar suaramu, melihatmu tersenyum, dan tertawa. Itu membuatku merasa benar-benar bahagia.

Advertisement

Rindu ini kadang menyiksaku, namun aku selalu sabar dan yakin bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Apakah kau ingat bagaimana awal dari hubungan ini? Aku rasa kamu sudah lupa, mungkin. Rintik hujan di bulan Desember itu menyimpan sejuta cerita untuk kita. Aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya, lagi pada saat itu aku merasa seperti mimpi.

Aku pernah berjalan kaki untuk menemanimu mencari rumah sahabatmu di sini. Kita menapaki jalan setapak itu, kita berjalan kaki selama hampir 6 jam. Suka duka kita rasakan saat itu. Aku melihatmu kelelahan, kau seperti mandi keringat. Aku menawarkanmu untuk naik ojek di pangkalan itu, namun kau menjawab "lebih baik kita jalan berdua, susah ataupun senang kita tetap berdua, asalkan bersama kakak semua pasti terasa indah". Kau mengatakan itu, pada saat itu juga aku merasa benar-benar istimewa di hatimu.

Caramu memperlakukan aku seakan akan mencerminkan bahwa aku adalah segalanya bagimu. Aku selalu merasa bahagia ketika di dekatmu, aku tak pernah ingin hubungan kita berakhir.

Kamu pernah berjanji untuk selalu setia. Kau juga berjanji takkan pernah pergi meninggalkan aku. Kau memintaku untuk menjaga perasaan dan hatiku agar selalu tertuju padamu. Kau juga memintaku untuk menjaga kepercayaan yang telah kau berikan. Ya, aku lakukan semua itu. Aku bertahan di sini, aku masih di sini dan tetap di sini meskipun jarak memisahkan kita.

Aku selalu ingat janjimu. Janji yang membuatku merasa benar-benar hidup. Kau selalu memprioritaskan aku. Kau selalu mengabari aku tepat waktu, kau juga selalu khawatir ketika aku tidak mengasih kabar.

Aku selalu berharap kamulah tulang rusukku, semoga Tuhan selalu mendengar setiap doaku untukmu, aku ingin hidup bersamamu hingga ajal memisahkan kita berdua.

Namun, kau kini berubah. Aku merasa diasingkan olehmu. Kau seperti menjauh, kau acuhkan aku.

Hubungan kita berjalan dengan baik. Benar benar baik, sampai pada akhirnya mulai timbul konflik. Hubungan kita terombang-ambing. Aku selalu mengalah untuk itu, namun aku juga selalu berjuang agar hubungan kita tetap bertahan. Aku rasa kamu juga akan berjuang seperti aku memperjuangkanmu. Tapi ternyata, aku salah. Kamu berjuang untuk hal yang lain. Hal yang jauh dari yang aku harapkan sebelumnya.

Kau mulai berubah. Kau aneh. Kau lebih sering mengabaikan aku dengan seribu alasan yang kau ucapkan padaku. Aku masih bisa menerimanya. Sampai pada akhirnya kau memilih untuk mengakhirinya, namun aku masih tetap bisa menerimanya. Aku tetap memperjuangkanmu, selalu memperjuangkanmu. Hingga pada akhirnya aku sadar.

Mungkin Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama sekarang, namun aku yakin Tuhan mengizinkan kita untuk bersama lagi pada waktu yang akan datang hingga hanya ajal yang dapat memisahkan kita berdua.

Kau memilih berpaling dariku dan bersama dengan dia yang kamu harap lebih baik dari aku. Kau tahu seperti apa diriku saat itu? Aku hancur. Aku sakit. Aku putus asa oleh cintamu, oleh pengkhianatanmu, namun aku masih tetap bisa menerimamu dengan lapang dada. Setiap kali aku ingin beranjak pergi, kau selalu menahanku dan meminta kesempatan dariku. Kesempatan untukmu agar bisa kembali denganku lagi. Aku berikan itu. Aku kira kau serius berubah dan berjuang lagi. Tapi pada akhirnya aku tahu, kau berjuang untuk hal yang lain, kau ingin aku menghilangkan perasaan ini.

Ada hal yang perlu kamu ketahui, aku takkan pernah menghilangkan perasaan ini meskipun kau sendiri yang memintanya, lebih baik aku mencintai dalam diam.

Aku terus berjuang dan bertahan untuk cintaku ini. Mungkin aku bodoh. Aku berjuang untuk orang yang mengabaikan aku, namun bagaimanapun juga cinta telah mengalahkan akal sehatku. Aku tetap bertahan dan terus berjuang hingga pada akhirnya kau semakin jauh. Semua caramu memperlakukan aku seakan-akan mengisyaratkan aku untuk segera menghilangkan perasaan ini dan segera menjauhimu. Aku berpikir, haruskah aku melakukan itu?

Rasa ini tetap aku jaga, tak ada niat sekecil apapun itu untuk menghilangkan perasaan ini. Kamu tetap yang terbaik di hati ini dan akan tetap menjadi yang terbaik.

Sekarang, aku masih bertahan di sini untukmu. Aku masih berjuang di sini. Aku memantaskan diri agar pantas untuk bersanding denganmu nanti. Aku masih kuat meskipun sering kali kau abaikan.

Hanya kata-kata rindu yang dapat ku ucap, mengiring langkahmu yang kian jauh. Seakan seperti syair puisi tentang hujan, yang setiap saat membasahi hati ini. Tak bosan aku menanti hadirmu.

Hingga pada akhirnya aku menyadarinya. Kenyataan tak sesuai dengan apa yang selama ini aku harapkan. Kau semakin menjauh, semakin mengabaikan aku. Kau tak mempedulikan aku lagi. Kau mengingkari janji yang kau buat sendiri. Aku selalu berdoa untukmu, kau masih aku semogakan dalam doaku. Hingga pada akhirnya, aku sadar dan aku ikhlas kamu pergi. Aku hanya berharap dengan siapapun kamu nanti, kamu akan selalu bahagia meski tanpa kehadiranku lagi.

Namamu tetap aku sanjung, kau tetap abadi dalam hati ini apapun yang terjadi, kau tetap yang terindah dalam hidup ini.

Aku menyerah bukan berarti aku kalah. Aku menyerah bukan berarti perasaan cinta ini telah hilang. Perasaan ini masih sama dan semakin bertambah. Aku hanya belajar untuk mencintaimu dalam diam. Namamu tetap aku sanjung dalam setiap sujudku. Aku selalu berdoa kepada-Nya agar kelak nanti bisa bersanding denganmu.

Sekarang aku ikhlas kamu pergi. Aku ikhlas karena aku percaya bahwa cinta sejati tidak akan pernah lupa kemana ia harus pulang. Aku percaya bahwa cinta akan membawamu kembali lagi denganku di sini.

Sekarang silakan kamu pergi. Kejarlah orang yang kamu mau, jika kamu lelah maka lihatlah kebelakang, aku selalu ada dibelakangmu. Hatiku selalu terbuka untukmu.

Aku percaya bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Mengabulkan, dan Mengasihi, karena itu aku selalu berjuang dan bertahan serta selalu berdoa agar bisa dipersatukan denganmu lagi. Entah kapan itu, aku berharap itu secepatnya terjadi.

Semoga dimanapun kau berada, kebahagiaan selalu melimpahi setiap langkahmu.

Rasa ini ikhlas tak terbalas seperti endapan kopi yang tak pernah kau teguk

Dari,

Lelaki yang selalu memperjuangkanmu..