Telah lama kau memintal persahabatan dengan Sunyi. Bercerita ini dan itu tiada henti. Kau adukan segalanya; tentang mereka yang sombong akan isi dompet, isi kepala, bahkan juga isi tabungan pahala.

Kadang-kadang kau tertawa, kadang pula menangis. Namun, Sunyi tetap mengeja sepi.

Kau selalu aman bersama Sunyi. Memilah-milah fragmen memori yang ingin kau singgahi barang sejenak. “Aku selalu bisa menjadi diriku sendiri,” ucapmu pada Sunyi, “tapi hanya kalau aku bersamamu.” Lantas kau pun meringkuk nyaman di sisinya, melepaskan topeng yang kerap kau kenakan bila bergaul dengan mereka; manusia-manusia yang kian hilang kemanusiaannya.

Bagimu, Sunyi adalah katakomba. Semacam tempat di mana kau dapat selalu melarikan diri dari gemerlap dunia. Menulikan diri dari kata-kata yang sarat pseudomakna yang dijejalkan dengan paksa ke telingamu.

“Mereka,” katamu mengacu pada manusia-manusia di sekelilingmu itu, “tak pernah mendengarkan kau barang sekejap pun, Sunyi. Mereka terlampau sibuk menebalkan alis, membangun rumah seluas istana untuk dihuni seorang diri, dan mengacungkan telunjuk yang katanya suci demi mendosakan orang lain laksana nabi.”

Advertisement

Kau menghela napas. Tampak begitu letih tiap kali membicarakan para hipokrit yang ada di sekelilingmu itu. “Andaikan mereka mau menyapamu sekali saja,” sesalmu sekali lagi, “tentu mereka tak akan kehilangan kemanusiaannya, Sunyi. Sebab kaulah yang mengajariku berkontemplasi, menjenguk ke dalam isi hati yang selama ini kuabaikan begitu saja. Kaulah. Kaulah yang memantapkan langkah kakiku sehingga aku tak terbenam dalam arus kehidupan memuakkan ini.”

Dan, sebagaimana yang sudah-sudah, Sunyi terus mendengarkanmu dengan tabah. Tanpa menyelipkan koma, tanpa mencipta jeda.

Sunyi menuntunmu melihat semesta dari aneka sudut yang berbeda. Ia tidak memprovokasi, tak pula menghakimi. Hanya membantumu melembutkan hati.

Kau percaya, karena Sunyi-lah kau masih mampu terus bertahan…