Di balik jendela kaca mobil, aku melihat keramaian di seberang sana. Silih berganti pelukan untuk menghantar sebuah kepergian. Sementara disini hanya sebatas area mataku saja yang ramai. Oleh air yang dengan tetes sebagai takarannya.

Kulihat wajahmu memutar memperhatikan sekitar. Seperti ada seseorang yang sedang kau cari. Tiba-tiba pandanganmu terhenti pada taksi yang ku tumpangi. Matamu terfokus. Sial, segera ku tundukan wajah dan memerintahkan agar supir segera membawaku pergi dari tempat ini. Namun sayang, tidak butuh jarak terlalu lama untuk mengubah tetesan menjadi aliran. Maaf, aku telah kehilangan kepercayaan diri untuk sekedar menemuimu lagi.

Bukankah beberapa bulan lalu kita sudah sepakat pada kata putus? Aku hanya tidak ingin kisah ini berakhir lebih tragis dengan kata pisah. Perasaanku kelak akan menjadi racunku, aku tahu itu. Seperti halnya perasaanmu yang sepenuhnya adalah hakmu, tidak ada hak untuk aku mengaturnya.

Sepanjang jalan aku hanya menggigiti kuku ibu jari, seperti yang biasa kulakukan dalam keadaan tertekan. Kupandangi layar handphone dengan pandangan yang sudah sedemikian kabur. Tiba-tiba sebuah pesan menyusup masuk,

"Harusnya ini menjadi hari perpisahanku, tapi apalah daya dari jauh justru aku yang menyaksikan kepergianmu."

Advertisement

Aku membuka sedikit jendela, lalu melemparkan ponselku kesana. Enyahlah! Perihal kenapa aku memperhatikanmu hari ini dari kejauhan. Karena aku hanya butuh momen untuk menyempurnakan seuntai kenangan. Perihal kenapa saat ini aku masih menangis tersedu, aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjalani hidupku tanpamu.