Perkenalkan aku adalah wanita yang memiliki hobi berharap. Hari-hariku dipenuhi dengan segala pengharapan dan mungkin sebagian besar dari kalian merasakan hal yang sama denganku, bergelut dengan sebuah harapan. Tidak ada yang salah dengan sebuah pengharapan, karena suatu harapan seakan bisa kembali membuat seseorang yang muram menjadi semangat kembali, jiwa yang layu menjadi segar kembali, dan mimpi yang seakan pupus menjadi hidup kembali.

Tapi pernahkah kamu merasakan ternyata sebuah pengharapan kamu ternyata seakan menenggelamkanmu ke dasar kekecewaan yang paling dalam? Harapan tentang hubungan dengan kekasih yang seakan bertahan selamanya namun harus kandas karena sebuah perselingkuhan. Harapan tentang persahabatan yang selalu ada baik suka maupun duka, namun ternyata mereka sibuk sendiri dengan dunia baru mereka. Harapan tentang masa kecil yang selalu bersenda gurau dengan keluarga setiap saat, namun harus pupus karena kesibukan pekerjaan dan pernikahan yang semakin membagi-bagi perhatiaan mereka. Harapan tentang rencana nonton konser atau liburan yang sudah kau rencanakan dan kemudian batal dalam waktu dekat akibat keegoisan beberapa oknum. Atau harapan tentang sebuah surprise kecil di malam pergantian usiamu. Serta harapan-harapan lain yang sudah dipupuk, dirawat, kemudian diinjak-injak dan pupus begitu saja.

Mungkin aku yang bisa dengan amarahku menangisi semalaman atas kegagalan dalam harapan-harapanku atau mungkin kamu yang masa bodo dan menganggap, let it flow… tinggal buat harapan lagi. Lantas, siapa yang patut disalahkan atas harapan-harapanmu yang mengusang dan perlahan-lahan gugur seketika?

Dalam hidup, mungkin tidak selalu apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Tidak! Tidak selalu jika kau menanam tomat kau akan memanen tomat. Bisa saja sebelum waktu panen, kau justru mengalami gagal panen dan justru kerugian yang kau dapat. Tapi dari ilmu menanam itu selalu banyak pelajaran yang akan kau ambil. Karena petani tomat setelah gagal panen tidak akan berhenti menanam tomat. Ia akan kembali menanam tomat dengan usaha, perhatian dan perawatan yang lebih ekstra. Jadi dengan kata lain, tidak ada kata menyerah dalam segala urusan. Tapi jangan harap jika kau menanam keburukan, akan menanam kebaikan. Karena karma akan selalu berlaku. Bumerang akan selalu kembali kepada siapa yang melemparkannya.

Dan kembali ke dalam sebuah rasa sakit atas pengharapan yang pupus. Mungkin aku masih kecewa dengan beberapa pihak yang menurutku seakan memupuskan harapan-harapan yang sudah kutanam dan kurawat dengan baik hanya dengan waktu singkat. Kadang kala aku berpikir bahwa aku sudah berlaku baik dengan mereka, namun mengapa mereka memperlakukanku seperti ini? Mengapa mereka mengancurkan harapanku perlahan? Mengapa aku selalu berusaha memprioritaskan mereka namun mereka seakan tidak ada waktu untukku. Apa mungkin peranku hanya sebagai peran figuran yang hanya numpang lewat dalam hidup mereka?

Advertisement

Hingga suatu saat aku berdoa kepada Tuhan atas segala rasa sakit hatiku yang kuderita. Dan aku sadar bahwa “Tidak pernah ada yang salah dengan sebuah pengharapan”. Yang salah hanyalah untuk siapa harapan itu digantungkan? karena di dalam dunia ini, hanya Tuhan-lah yang pantas untuk kita harapkan. Dia tidak pernah mengecewakan. Jika harapan kita tidak Ia kabulkan, Ia pasti memiliki rencana lain yang jauh lebih indah. Karena mungkin kita tahu apa yang kita inginkan, tapi Tuhan-lah yang Maha mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan.

Untuk harapan-harapanku yang sedang kugantungkan kepada orang lain, mungkin kini saatnya aku menggantungkanmu kepada Tuhanku. Karena aku letih harus berharap pada mereka yang seakan tidak bisa menyisihkan waktunya untukku. Aku menulis ini bukan untuk dinilai sok religious atau agamis dan lainnya. Tapi ketika kugantungkan segala harapanku kepada Tuhan, aku mulai mengerti tentang keikhlasan atas harapan yang tak kunjung terkabul dan bersyukur atas segala harapan yang terwujud.

Dan untuk sebuah pengharapan, kau memang pantas kupercayakan untuk selalu bersama Tuhanku. Biar Dia yang Maha Tinggi yang memilah mana pengharapanku yang seharusnya dilenyapkan, dan mana pengharapanku yang segera Ia wujudkan.