Saya percaya semua orang yang membuka halaman ini adalah orang yang pernah patah hati, sekali, dua kali atau jangan-jangan berkali-kali sampai lupa rasanya bagaimana dicintai, ah semoga tidak.

“Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?'

'Apa, Ma?'

Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, 'Dewasa.”

Diatas adalah kutipan novel koala kumal dari Raditya Dika, yap salah satu manfaat dari patah hati itu sendiri adalah membuat seseorang menjadi lebih dewasa, tapi tidak semua. Karena ada sebagian orang yang merasakan patah hati justru membuatnya makin gila, menggunakan miras dan narkoba, bertindak anarkis dan asusila, beberapa diantaranya mungkin termasuk kedalam golongan psikopat. Lalu bagaimana dengan patah hati yang kamu rasakan? Sakit kah? Atau sakittttttttttt bangetttttt?

Esensinya saya mendefinisikan patah hati adalah perasaan yang dibuat-buat. Ya, kita merasakan patah hati karena perasaan yang dibuat-buat, dibuat-buat terlalu berharap misalnya. Bukankah mengharapkan seseorang yang jelas-jelas tidak mengharapkan kita akan membuat kita patah hati, lalu kenapa tetap saja dilakukan? Pertanyaan ini juga yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri dan berakhir dengan jawaban "dibuat-buat" tetapi bukankah tidak ada yang dibuat-buat perihal jatuh cinta? Saya sendiri menjadi pribadi yang tidak konsisten, suka berubah, seperti bunglon. Setiap membicarakan cinta saya seperti memungkinkan hal-hal yang tidak mungkin, bukankah ini semua disebut dibuat-buat. Aku mengaca lagi, merapikan ingatan kenapa patah hati kerap memilukan.

Kedua, keterlaluan.

Advertisement

Ya, kenapa keterlaluan? Semestinya semua dilakukan sewajarnya saja. Jatuh cinta sewajarnya saja karena kita tidak akan tahu kapan akan terluka dan patah hati setelahnya. Saya sendiri adalah orang yang menomorsatukan kasih sayang dan pengertian, sampai-sampai saya lupa bahwa cinta tidak baik untuk terlalu dikekang atau dibebaskan, biarkan saja berjalan, sejalan dengan awan dan aliran sungai.

Tidak butuh waktu lama dari patah hati, BOHONG. Sebenar-benarnya patah hati akan membuat hatimu merasakan sakit walaupun jika kau periksakan ke dokter tak jelas diagnosanya. Iya bagaimana bisa katanya patah hati seminggu kemudian menggandeng pacar baru, yang demikian bukan patah hati tapi hanya beberapa hari sepi.

Seperti penyakit kronis pada umumnya, patah hati sekalipun tidak termasuk penyakit kronis dalam draft dokter tetap saja membutuhkan proses penyembuhan yang lama. Dari mulai merenung kemudian jatuh pada kenangan, bangkit kemudian lumpuh dalam ingatan, berjalan lagi, terkenang lagi, sampai akhirnya berlari dan menemukan pintu hati yang lain memerlukan proses, bagi saya tidak sebentar bahkan mungkin terlampau panjang, bukan karena terlalu banyak jatuh pada kenangan tetapi untuk sembuh total perlu perawatan yang tak sebentar, kan ?

Untuk yang sedang patah hati, tidak perlu risau, aku dan kamu bahkan mungkin diantara mereka pun pernah mengalami demikian. Ayo berjuang setelah patah hati, bangkit kemudian, waktu yang menjawab semua. dan tidak salah jika kamu lebih memilih produktif saat patah hati, karena cerita patah hatimu itu bisa menghasilkan sebuah puisi, lirik lagu, musik sendu, cerpen, novel, film bahkan petuah motivasi baik bagi dirimu maupun bagi orang lain.

“Rasa sakit hati itu indah. Setidaknya patah-hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Lagipula siapa bilang ditolak cinta itu tidak indah? Itu indah, Bung! Pikirkanlah dari sudut yang berbeda! ( Tere Liye – Berjuta Rasanya )