Saya masuk kamar dalam keadaan lelah yang teramat sangat. Hari ini pergi menemui teman di kampus, besok bersih-bersih rumah, lusa ada acara keluarga di luar kota selama beberapa hari, nggak heran kalau saya susah sekali meluangkan waktu untuk bertemu bersama teman-teman, tapi saya masih bersyukur karena jaringan sosial dan silaturahim masih menyatukan kami semua.

Bukan cuma waktu luang saja yang terganggu, kondisi kesehatan saya akhir-akhir ini juga menurun. Saya sempat mengalami masalah pencernaan karena suatu hari memakan makanan yang tidak atau kurang higienis, bahkan tekanan darah juga sempat turun di bawah rata-rata ditambah lagi dengan anemia. Gara-gara ini saya jadi dimarahi oleh ibu (dia seorang dokter, fyi). "Makan porsinya yang memenuhi standar dan teratur, jangan malas!" Sepertinya hampir seribu kali kalimat itu diulang-ulang ibu setiap kali saya kurang sehat.

Tapi…

Saya baru saja merebahkan diri di atas ranjang setelah mengganti pakaian dan seketika teringat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah saya sengaja untuk mengingat. Bahkan di situasi yang tampaknya memalukan dan sangat rumit, ingatan ini masih sempat-sempatnya nongol di pikiran saya. Kemudian jantung saya berdegup kencang dan waktu seakan berhenti.

"Hmph…" Saya menarik napas dalam-dalam, dada terasa sesak dan air mata serasa mau menetes membasahi bantal yang dipakai bersandar. Ini adalah ingatan terindah dan yang paling sakit yang pernah saya punya hingga saat ini.

Advertisement

Bagaimana rasanya jika orang lain, bukan saya, memiliki orang terkasih yang jauhnya ribuan mil dan susah sekali untuk dihubungi? Saya pikir dia nggak mau ambil pusing dan tanpa pikir panjang langsung menganggap kalau hubungan mereka sudah berakhir. Yah, orang-orang pada umumnya akan berkesimpulan seperti itu.

Lalu kenapa saya masih bertahan dengannya sampai hari ini?

Pilihan inilah yang membuat orang lain terheran-heran dengan saya. "Gimana kalau dia udah punya pacar lain?" "Yakin tuh dia setia?" "Kok kamu rela sih digantungin lama banget?" Saking seringnya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah semacam frequently asked questions bagi saya. Memang memutuskan hubungan saat dia sudah tidak memberikan kepastian lagi adalah pilihan tercepat, terbaik, bahkan bisa jadi menimbulkan rasa sakit dalam jumlah minimal.

Sejak awal saya putuskan untuk bertahan dengannya, apa pun hasil akhirnya nanti, saya sudah matang-matang mempersiapkan resep agar menunggu dia bukanlah sesuatu yang terasa menyakitkan. Sejujurnya, pikiran untuk mengakhiri hubungan dengannya sempat terbersit berkali-kali, tapi selalu saja ada kejadian nggak terduga yang akhirnya membuat saya kembali memercayai dia lagi, lagi, dan lagi.

Pertama, saya pahami dulu alasan kenapa dia jadi susah sekali untuk dihubungi. Apa dia memang sengaja supaya nggak ada kontak lagi sama saya atau itu adalah kesalahan dari faktor di luar kami berdua? Saya sudah menjawab pertanyaan ini dengan baik dan jawabannya itu sama sekali bukan keinginan dia untuk menjauhi saya.

Kedua, risiko dari keputusan saya. Butuh waktu yang nggak sebentar bagi saya untuk mempertebal ketahanan diri dari sakit hati, kekecewaan, kesedihan, dsb. Saya wajib tahan banting dari kejadian-kejadian buruk dalam hidup ini.

Ketiga, waktu menunggu dia sebisa mungkin digunakan untuk jadi produktif. Perdalam ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, banyak-banyak bertemu orang, tekun mencari ilmu, cari cara alternatif untuk mendapatkan uang, dll.

Keempat, mengembangkan potensi diri dan memperbaiki kekurangan sebisa mungkin. Saya ingin jadi seseorang yang baik nggak hanya di depannya, tapi juga buat orang-orang di sekitar saya.

Kelima, pilih-pilih lagi teman yang benar-benar bisa saya andalkan. Semakin bertambahnya usia, semakin sedikit teman-teman yang bertahan dalam sebuah lingkaran pertemanan dalam jangka waktu yang lama. Ada teman yang hanya bertahan di masa itu saja, ada yang masih berhubungan erat dengan saya meskipun dia dan saya sudah punya kesibukan masing-masing, ada yang bertemannya hanya sanggup beberapa hari.

Keenam, kelola pikiran. Nggak seorang pun mampu melewati beratnya cobaan sebelum ia mampu mengelola stres dan pikiran negatifnya untuk mencapai tujuan dan cita-cita.

Ketujuh, dekatkan diri kepada-Nya. Pada akhirnya, apa yang terjadi kepada dia dan saya semuanya merupakan keputusan dari Yang Mahakuasa.

Sekarang saya hampir nggak merasa kalau saya sudah lama nggak dihubungi dia selama 2-3 tahun. Hanya saja, perlu diingat bagi laki-laki jika perempuan sebenarnya nggak sekuat yang di luarnya. Bisa jadi dia nangis-nangis semalaman sebelum paginya sudah harus siap lagi pergi kerja atau ke kampus, bisa jadi dia sebenarnya mau marah sama kamu karena kamu sudah bikin dia cemas dan nggak tenang.

Jadi sampai berapa lama saya harus nunggu?