Bukankah sudah ku peringatkan dari awal semua konsekuensi yang akan kau bayar wahai Hati.

Logika selalu berusaha memperingati Hati bahwa apa yang ia pilih merupakan sebuah kesalahan. Tetapi Hati meneriaki dan meredam suara Logika. Hati berkata ia ingin tetap ada dalam situasi yang menurutnya menyenangkan. Membuatnya terbang dan jatuh diantara kelap-kelip ribuan bintang. Tanpa mempertimbangkan semua nasihat yang diberikan Logika. Saking egoisnya Hati, Logika pun menyerah dan membiarkan Hati menikmati apa yang ia senangi.

Nyatanya kau hanya menunggu waktu untuk membuktikan apa yang aku ucapkan adalah sebuah kebenaran.

Seiring berjalannya waktu, Hati mulai merasakan kekeliruan tentang apa yang sering ia khayalkan. Semua hanya angan-angan dan harapan semu. Dan pada akhirnya Hati terluka, terjatuh, hancur dan tak ada yang menemani. Logika yang tidak tega dengan keadaan Hati pun hanya bisa memberi nasehat pada Hati agar lebih bijaksana dalam bertindak. Biarlah semua menjadi pelajaran yang indah untuk Hati walaupun dengan jalan yang dirasa pahit olehnya.

Wahai Hati kikislah sedikit ego mu, dengar kata-kataku.

Advertisement

Semua hal yang menurut Hati benar sejatinya masih harus dipertimbangkan oleh Logika. Walau bagaimana pun Logika tidak bisa semena-mena melarang Hati untuk melakukan tugasnya. Mereka memang bertanggungjawab akan tugasnya masing-masing. Namun mereka tidak boleh egois demi kebaikan bersama.

Logika dan Hati harus belajar berdamai.

Mulai saat ini Hati dan Logika harus berteman baik dan saling menasehati satu sama lain. Selalu berjalan seirama dalam memandang suatu hal bersama. Karena sesuai kodratnya Hati tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada Logika yang menemani.