Cinta bisa datang kapan saja , dimana saja , dengan siapa saja dan dengan cara apa saja.

Kopi itu … . Bagi mahasiswa Teknik yang betah begadang dengan seambrek tugas, kopi merupakan kebutuhan primer yang mengalahkan nasi sebagai makanan pokok negeri ini. Hal itu diamini oleh Gandis yang juga seorang mahasiswa teknik semester tengah yang masih kalut dengan dunia perkuliahanya.

Malam itu seperti malam-malam biasanya, secangkir kopi, segenap peralatan tugasnya dan lampu belajar yang setia menemani. Jika sesajen itu sudah lengkap, itu pertanda akan dimulainya sebuah ritual maha wajib yang semakin rutin dilaksanakan menjelang ujian semester.

Bukan berarti kesibukannya sebagai anak teknik*(gelar yang sama beratnya dengan pembuat kebijakan negeri ini) membuatnya lupa bahagia. Ia tidak lupa hal itu. Hanya saja caranya sedikit menyimpang dari garis kewajaran laki-laki tampan yang boleh dibilang berparas seperti Tommy kurniawan itu. Tidak seperti teman-temanya yang mewajibkan keberadaan wanita dalam setiap komponen hidup, Gandis lebih memilih secangkir kopi untuk mengingatkannya tentang bahagia.

Secangkir kopi itu kini telah habis. Hal itu menandakan ritualnya selesai. Tarikan nafas panjang dan dihembuskannya perlahan. Perlahan tubuh jangkung nan kurus itu melemas, lelah, tapi puas. Tanganya dilipat dan dijadikan bantal kepalanya. Kakinya diluruskan. Matanya terpejam dan senyum mulai merekah dari bibir merahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Puas karena tugasnya telah usaikah atau yang lain, entahlah.

Advertisement

Mata indahnya perlahan terbuka dan mulai mengintip malam dari balik jendela di hadapanya. Menerawang langit malam yang saat itu sedang cantik-cantiknya. Tapi, pikiranya mendadak kalut. Ia mulai gelisah. Duduknya mulai tak tenang. Kopi, apa butuh secangkir kopi lagi, tidak, tegas Gandis jawab pertanyaan batinya.

Sebenarnya bukan tugas kuliah, rasa kantuk atau raganya yang kecanduan kopi tapi batin, hati dan jiwanya. Tepat dua tahun yang lalu seorang gadis pelayan kantin kampus mengenalkan Gandis pada minuman itu. Saat itu pas, pas kalut pikiran gandis karena harus beradaptasi dengan kampus, kuliah, tugas dan lingkungan barunya.

Gadis pelayan itu, sekilas seumuran dengan Gandis, tidak terlalu cantik dan tinggi, tidak juga berkulit putih. Tapi senyumnya manis, sapanya ramah dan menjatuhkan hati Gandis. Kerap kali sepulang kuliah Gandis tidak pernah absen nongkrong di kantin dan memesan kopi. Sayangnya ritual itu tak bertahan lama.

“Mas Gandis, ini ada surat dari mba Riani.” , ucap salah satu pelayan kantin yang tergopoh-gopoh menghampiri Gandis. Senyum lebar Gandis menerima surat itu. Buru-buru dia duduk di pojok kantin dan …

“Mas Gandis terima kasih sudah mau menjadi teman seorang pelayan seperti Riani dan terima kasih juga sudah membeli secangkir kopi setiap harinya. Maaf Riani belum sempat berpamitan. Hari ini Riani harus berangkat ke Jepang. Pengajuan beasiswa Riani di terima. Riani pulang 3 atau 4 tahun lagi. Semoga Mas Gandis sudah diwisuda ya hehe… Semoga kita dipertemukan lagi nanti J”

Lima tahun kemudian …

“Mas, bangun ini kopinya keburu dingin loh,” seru Riani . “Iya istriku terimakasih J” sahut Gandis. Indah nian cinta yang terpisah akhirnya benar-benar ditemukan kembali dalam satu ikatan keluarga. Secangkir kopi dan senyum kembali lagi pada perindunya.

Brakk… Jendela dipaksa menutup oleh hembusan angin yang tiba-tiba saja datang. Seketika lamunan itu buyar. Astaga , jadi ini hanya lamunan. Gandis beranjak dari tempatnya. Kembali ia menyeduh kopi dan berharap Riani segera pulang menemuinya. Selamat malam Riani, sapanya pada bulan dan lagi-lagi ditemani secangkir kopi.