Ada sisa jejak langkah dari kesetiaan dalam do’a. Sisa itu terlihat tulus, meski pada akhirnya pudar termakan penyesalan. Hanya hati yang iklhas menerima dan kembali berusaha dalam do’a, yang bisa mengembalikan arah jejak langkah kesetiaan itu.

**

Jejak kenangan selama seratus hari mengagumi, bagiku adalah kesetiaan. Menata hati untuk kembali mencintai ketidakmungkinan, adalah sebuah kesalahan besar. Aku bukan tidak ingin berkata senang dengan segala takdir Tuhan. Aku hanya masih ragu, apakah bisa aroma itu berganti rasa dan jejak itu berubah haluan?

Keraguan itu menyelinap menyakitkan. Ketakutanku akan sebuah kehilangan kembali menguat. Termasuk kepada sosoknya yang selalu aku bilang sempurna. Sosok yang mengeluarkanku dari sakitnya pengharapan. Sosok yang setiap detiknya meyakinkanku akan cinta yang dia miliki.

**

Advertisement

“Saya ingin tahu, seberapa kuat do’a-mu itu.”

“Haha, tidak sekuat do’a Zhulaika kepada Allah tentang cintanya untuk Nabi Yusuf.”

“Tapi, siapa yang tidak ingin cinta seperti mereka bukan?”

“Iya, semua orang yang tahu kisah itu pasti sangat menginginkan. Sayangnya mereka selalu menekankan egoisme daripada ikhlasisme.”

“Ikhlasisme? Haha, kamu itu. Tapi, bukannya kalian itu hanya main-main?”

“Dokter, ini bukan permainan. Mungkin yang dokter baca tidak semuanya sama dengan yang aku rasa. Yang pasti, aku pernah menyebut keselamatan dan kebahagiaannya dalam do’a.”

“Oh. Tapi tidak serius bukan?”

“Siapa sih yang tidak mau kalau rasa kagum itu jadi kenyataan. Tapi, bagiku itu sebuah ilusi. Dan cukup dengan meninggalkan jejak di hidupnya sebagai pengagum yang baik, adalah sebuah kebanggaan.”

“Pantas saja kamu sangat tertutup. Termasuk sangat sulit melunak untuk niat saya.”

“Itu berbeda lagi kisahnya dokter. Aku bukan tidak ingin, tetapi belum bisa.”

“Iya, saya tahu. Jadi, berusahalah. Kita akan menemukan kesempatan yang tepat pada akhirnya.”

“Jangan lupa istikharah ya dokter.”

“Iya, pastinya.”

**

Ya, semua hanya ilusi. Sebuah bayangan, harapan dan kekosongan yang noktah. Tidak berarti apapun. Semuanya hanya berupa jejak. Itu adalah kebanggaan. Tidak perlu menjadi yang istimewa di hidupnya, jika dengan menjadi pengagum yang selalu merepotkan saja sudah bisa mengingatkan dia dengan sebuah tulisan sederhana.

Jejak memang terkadang tidak banyak mengeja waktu yang tersisa. Yang dia tahu hanya tinggal atau melanjutkan perjalanan. Dan jejak langkahku mengaguminya adalah dengan terus berjalan. Entah kapan akan berhenti atau pudar bersama waktu. Karena selama aku masih melihatnya dan kepekaanku masih bercerita tentangnya. Itu berarti jejakku masih bersama hidupnya. Itu saja.