Kali ini aku tidak bisa diam, surat ini harus sampai kepadamu meski dengan caraku.

Kamu sudah tahu, bahkan jauh sebelum kamu terlanjur mendekatkan langkah, aku sudah mengatakan bahwa diri ini bukanlah yang dengan mudahnya bisa menerima ‘orang baru’ dalam hidupnya. Bahwa sebelum kamu datang, aku sempat merasakan yang namanya jatuh cinta diam-diam sampai rela menunggu seseorang itu peka, hingga akhirnya dengan segenap kesesakan memutuskan untuk melepaskan. Lalu kamu datang, menawarkan sebuah rasa yang semua orang tentu akan menyukainya.

Masih ingatkah kamu, saat kamu menyatakan keinginan untuk menggenap bersama? Ya, bukan dengan hubungan yang berlama-lama, kamu justru langsung menawarkan bahagia. Saat itu aku bahkan belum percaya sepenuhnya. Tapi toh pada ujungnya aku sepakat untuk meyakinkan diri bahwa ini bukan sekedar suka, ini yang orang-orang namakan cinta. Masih ingatkah kamu? Rencana-rencana kita, konsep pernikahan yang kita inginkan, tinggal dimana setelah menikah, rumah tangga seperti apa yang akan kita jalani, tentunya setelah urusan kita selesai, merampungkan studi masing-masing.

Tapi setelah aku merasa cukup nyaman dan percaya, tiba-tiba kita sedikit goyah. Entah apa penyebabnya, lalu kita saling diam. Masih ingatkah kamu malam itu, saat aku mengirimimu pesan? Beberapa hari tanpa kabar dan aku memutuskan untuk memulai percakapan, berharap hubungan kita akan membaik. Namun ternyata yang terjadi malah di luar kendali, kamu memutuskan untuk berhenti. Dengan sebuah kata maaf yang akupun tak mengerti untuk apa ia. Aaahhh, mungkinkah kamu merasa bersalah telah membuatku percaya kata-katamu? Atau mungkin karena tak bisa menepati semua janjimu? Haha. Kamu tentu tak tahu bahwa sejak malam itu aku selalu menyalahkan diri sendiri, menyalahkan sikapku yang mungkin tak kau sukai.

Dihempaskan seperti ini, dengan cara ini sungguh tak ku pikir bisa dilakukan oleh orang sepertimu. Seseorang yang terlanjur kuanggap sangat baik. Oh ya aku lupa, di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar baik. Dan kau harus tahu, bahkan jatuh cinta diam-diam pun rasanya tak seperih ini. Setidaknya saat jatuh cinta dan patah hati diam-diam, hanya diri sendiri yang mengetahui. Tapi ini, aku terlanjur malu menyadari bahwa bukan hanya aku yang mengetahui patahnya lempengan hati ini, ada orang lain yang mengetahuinya selain diri ini, kamu.

Advertisement

Seharusnya kamu membaca ini, sepercik luapan yang tak sempat ku utarakan.