Kepercayaan adalah modal terbesar bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau lebih dikenal dengan long distance relationship. Perjuangan pasangan LDR sangat berat jika dibandingkan dengan pasangan lain pada umumnya. Mereka butuh komitmen yang serius, butuh kabar, butuh kepastian mengenai masa depan mereka bersama. Dan pasangan LDR akan diuji dengan berbagai macam masalah dari yang terkecil sampai yang terbesar yang berbentuk sebuah pengkhianatan. Di sinilah cinta mereka akan diuji. Sampai dimana mereka yakin dengan pasangannya, dimana mereka percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doa mereka.

Hubungan yang sudah berjalan bertahun-tahun pun nyatanya tidak luput dari pengkhianatan. Termasuk hubungan kami yang termasuk ke dalam golongan long distance relationship. Masalah memang tiada pernah berhenti, mulai dari yang kecil sampai yang besar seperti saat ini. Hati ini sudah berulang kali dibuat kecewa olehnya, namun kali ini sudah benar-benar keterlaluan.

Hari ini langit tampak cerah, begitupun dengan hatiku. Aku sangat bahagia, kenapa? Karena dalam beberapa jam kedepan kami akan bertemu setelah hampir setahun dipisahkan oleh jarak. Aku mempersiapkan diri dengan semaksimal mungkin. Sayang, aku rindu, sangat rindu.

Akhirnya waktu itu pun tiba. Bagaikan sebuah mimpi, akhirnya dia datang. Ya, dia benar-benar ada di sini bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum, meski saat itu air mataku menerobos ingin keluar karena sangat bahagia. Namun, aku berhasil menahannya karena tidak ingin merusak momen ini. Lama kami bercakap perihal ini dan itu. Tidak terasa siang telah beranjak.

Malam ini bintang-bintang ramai menghiasi langit. Mengundang siapapun yang melihatnya untuk mengucap syukur atas kebesaranNya, termasuk aku. Aku bersyukur atas kebesaran Tuhan menciptakan berbagai macam keindahan di dunia ini, termasuk keindahan yang ada di depan mataku saat ini. Ya, malam ini kami akan menghabiskan waktu bersama. Malam yang akhirnya akan menguak pengkhianatan itu.

Advertisement

Saat itu entah kenapa tanganku bergerak mengambil handphone miliknya yang bertengger manis di atas meja. Perlahan kubuka satu persatu folder yang ada di dalamnya termasuk semua aplikasi sosial media yang dia punya. Setidaknya aku bersyukur karena kata sandinya tidak pernah berubah. Namun, entah kenapa sikapnya tiba-tiba berubah. Dia mulai mengajakku bercerita seolah ingin menghentikan aktivitasku mengotak-atik handphonenya. Aku sadar dia menyembunyikan sesuatu. Hingga akhirnya kenyataan pahit itu kulihat.

Aku melihat percakapannya dengan teman seperjuangannya. Percakapan itu aneh, entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi itu aneh. Hingga akhirnya dia menjelaskan semuanya. Semua dosa yang telah dia lakukan. Pengkhianatan besar yang dia lakukan. Pengkhianatan yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Sudahlah, aku tidak ingin menjelaskan semuanya lebih rinci lagi karena itu hanya akan membuatku membayangkan segalanya. Segala apa yang dia lakukan malam itu.

Malam itu air mataku tumpah. Aku berteriak, aku ingin pulang, aku tidak terima pengkhianatan ini. Saat itu emosiku benar-benar terkuras habis bahkan hingga fisikku melemah. Aku tidak ingin mendengarkan sepatah kata dari mulutnya. Orang yang selama ini kutunggu, orang yang sangat kusayangi. Orang yang membuatku terus menjaga diri dan kepercayaan yang diberikannya, orang yang melarangku ini dan itu. Ternyata melakukan pengkhianatan besar di belakangku. Lalu apa artinya semua yang kulakukan selama ini? Lalu apa artinya rencana pernikahan kita yang sudah tinggal sebulan lagi?

Malam itu dia terus berusaha untuk menenangkanku dan menjelaskan semuanya. Berhasil, dia menjelaskan semuanya setelah aku sedikit tenang. Tapi apapun alasannya itu tetaplah sebuah kesalahan. Kesalahan yang sangat fatal. Meskipun dia berulang kali menyuruhku agar tidak memikirkannya lagi, bayangan tentang apa yang dia lakukan malam itu masih bergelayut di dalam kepalaku. Kau tahu? Aku sangat menyayangimu. Disini aku terus mendoakanmu, menjaga diriku dari apapun yang bisa membuatmu kecewa, tapi seperti inikah balasan yang kau berikan?

Dia terus berusaha menjelaskan kenapa semuanya bisa terjadi. Well dengan pikiran sehatku aku sadar bahwa itu semua bukan kesalahannya sepenuhnya. Tapi tetap saja itu semua tidak benar, apapun alasannya. Dia terus berusaha untuk membujukku agar aku mengurungkan niat untuk membatalkan pernikahan kami. Tapi hati ini sakit, sangat sakit.

Well, mungkin kalian akan mengataiku bodoh setelah mengetahui apa keputusan terakhirku. Ya, aku memberikannya kesempatan kedua. Kesempatan terakhir. Aku yakin dia akan menepati janjinya. Aku yakin dia tidak akan mengulanginya lagi dan aku yakin dia yang terbaik. Tolong jangan rusak kepercayaanku untuk kedua kalinya, entah aku tahu atau tidak, entah aku melihatmu atau tidak. Tolong jangan kecewakan aku. 

Terakhir, aku tidak akan membiarkanmu berjanji sendirian. Aku juga berjanji akan mengubah sifat burukku. Jadi sekali lagi aku mohon jangan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Jangan melakukan kesalahan yang lebih fatal daripada ini. Jangan melakukan kesalahan yang bisa menyakitiku lebih dalam lagi. Lukaku saat ini bahkan belum sembuh sepenuhnya. Aku mohon dengan sangat.