Hujan selalu mengiringi langkah ku pergi ke tempat di mana aku mencari nafkah. kadang aku lebih suka hujan mengiringi perjalanan ku daripada teriknya panas matahari. Aku tidak tahu mengapa, hanya saja aku merasa tenang jika ada di antara air yang turun dari kediaman bidadari di atas sana.

Walaupun sebenarnya itu cukup menyulitkanku. Aku pengguna motor.

Entah mengapa hujan itu selalu diidentikan dengan kesepian, kesedihan, rindu akan seseorang, perasaan bersalah. Kenapa hal seperti kesedihan itu selalu dipandang negatif oleh khalayak ramai? Apakah memang kesedihan itu suatu hal yang negatif? Suatu hal yang destruktif? Suatu hal yang selalu menarik kita ke lubang kesengsaraan?

Aku pun tidak tahu kenapa paradigma kita mengganggap kesedihan seperti itu, atau memang kenyataannya memang seperti itu.

Ibuku selalu bercerita kepadaku tentang bagaimana kita harus menjalani kehidupan, bagaimana kita harus bersikap di luar sana, bagaimana kita harus menghindari kesedihan. Setiap detil hal-hal yang ibuku ceritakan membuatku mempertanyakan suatu hal, suatu hal yang membuat aku sebagai anak muda atau "bocah dalam kehidupan" ini ragu untuk mendefinisikannya di dalam hati.

Advertisement

Apakah memang kehidupan yang ideal itu harus dihindarkan dari kesedihan? memangnya kehidupan yang ideal itu seperti apa?

Aku, sebagaimana manusia semestinya juga pernah merasakan bagaimana tidak berdayanya aku melawan pahitnya kehidupan, bagaimana rasanya sakit hati atas apa yang aku investasikan terhadap kepercayaan, bagaimana gagalnya aku setiap mencoba untuk bangkit dan selalu tertahan di bawah penderitaan atas pilihan yang aku ambil.

Tapi, apakah itu yang membuat kita harus menghindari kesedihan? aku rasa tidak.

Aku menjadi berpikir tentang satu hal, bagaimana kita bisa melangkah jika kita takut akan resiko atas keputusan yang kita ambil? Bagaimana jadinya hidup ini jika tidak ada satu pun orang yang berani melangkah karena takut akan kesedihan?

Seperti Michael Jordan, Jordan tidak akan sesukses sekarang jika ia tidak merasakan bagaimana sedihnya seorang anak yang ingin sekali menjadi atlet basket, tidak masuk dalam list pemain tetap di sekolahnya.

Apakah ia menyerah karena itu? Tidak. Jika bukan karena kesedihan, Jordan tidak akan bisa menjadi legenda basket USA seperti sekarang.

Ini tentang bagaimana kita menganggap kesedihan itu sebagai bencana atau guru. Ini tentang bagaimana kita membiasakan hidup berdampingan dengan rasa sakit. Ini tentang bagaimana kita berselancar di atas ombak kehidupan.

Satu hal yang ibuku salah mengartikan. Kehidupan yang ideal butuh kesedihan. Tanpa kesedihan, tidak akan ada pengalaman. Tanpa kesedihan, tidak akan ada pelajaran. Tanpa kesedihan, tidak akan ada dorongan. Tanpa kesedihan, tidak akan ada rasa syukur. Tanpa kesedihan, tidak akan ada kehidupan.

Seperti halnya hujan, kita bisa memilih untuk berdiam diri, memarahi hujan sambil menunggu itu reda atau mempersenjatai diri dengan mantel hujan dan menari dengannya.

Ada yang pernah mengatakan, rasa sakit, tidak berdaya, sedih hanyalah ilusi. Ilusi yang kita buat berdasarkan skenario yang selalu kita pikirkan padahal skenario itu pun belum tentu terjadi dan bahkan tidak akan pernah terjadi.

Itu tergantung bagaimana kamu memandang kesedihan itu sendiri, bagaimana kamu melihat semua ini dari sudut yang tidak memungkinkan sekali pun.

Kita hanya perlu merubah sudut pandang kita terhadap kehidupan tanpa perlu merubah objek di dalamnya. karena mungkin kita melewatkan hal hal berharga di sudut sudut yang tidak atau belum kita jamah.

Untukmu yang sedang merasa sedih.

Please, pick yourself up.