Pelakor, Valakor atau mungkin ada sebutan lain untuk mengistilahkan mereka yang berhubungan dengan seseorang yang telah memiliki Istri atau Suami. Pembahasan ini masih menjadi trending topik di beberapa web ataupun media sosial yang memang terkhususkan di bidang gosip (ga usah sebut merknya ya).

Kemarin, saya bertemu dengan seorang sahabat dari jaman dulu. Saya bilang jaman dulu karena saya bersahabat dengannya sudah sejak duduk dibangku sekolah dasar. sudah lama sekaliiii. Walau jarang bertemu muka, perkembangan komunikasi menjadikan persahabatan kami tetap awet, sampai sekarang. Kami selalu menjaga komunikasi, walaupun hanya like status di media sosial.

Setelah beberapa tahun tidak bersua, akhirnya dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota tempat saya tinggal. Dan percakapan penuh kontroversipun dimulai. Sahabat saya tersebut mengaku bahwa saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan Pria yang telah beristri. Jujur saya kaget mendengar pengakuannya tetapi saya tidak ingin menghakimi. saya dengarkan ceritanya sampai habis.

1. Tidak ada yang salah dengan Cinta, Waktu dan tempat yang kadang tak sejalan

Begitulah kalimat pertama yang diucapkan sahabat saya. Intensitas bertemu dan seringnya melakukan komunikasi menjadi jalan benih-benih cinta mulai muncul. Awalnya memang hanya berteman. Kemudian sang Pria mulai melakukan pendekatan, menurut sahabat saya, saat itu hatinya memang sedang rapuh (dan dia juga sadar bahwa hati yang rapuh bukan alasan untuk melegalkan perasaan ini) Walaupun pikiran menentang, jika hati yang bicara, maka akal sehat pun akan terabaikan begitu saja.

2. Materi tak lagi menjadi alasan utama

Mungkin sebagian atau kebanyakan orang berpikiran bahwa para pelakor hanya menginginkan materi dari Pria beristri yang menjadi pacarnya, tapi untuk sahabat saya, materi tidak penting karena dia merasa telah memiliki cukup materi untuk kehidupannya. Pria itu tidak pernah memberinya materi, karena sahabat saya itupun tidak menginginkan materi. Kenyamanan dan merasa dicintai, itulah yang didapat oleh teman saya. 2 hal itu yang menurutnya sulit didapat ketika dia menjalin hubungan dengan pria single. "Right Man in a wrong time & wrong place".

3. Hanya bisa menjalani dan tidak tahu sampai kapan bisa bertahan

Tidak ada janji yang terucap karena mereka berduapun tidak pernah tahu sampai berapa lama mereka dapat bertahan dengan hubungan ini. cinta tak harus memiliki, menurut sahabat saya, kalimat tersebut hanya untuk orang-orang yang kalah. Cinta itu egois, tidak rela dibagi dengan apapun (catet, apapun bukan siapapun). Walau harapannya sangat kecil bahkan tidak mungkin ada, sahabat saya tetap berharap bisa bersatu walaupun hanya bersatu dalam mimpi. Pria itupun tidak pernah memberi harapan apapun, karena memang dia telah terikat.

4. Semua ini akan berakhir, ketika sosok yang tepat itu telah datang

Saat ini, sahabat saya mulai membuka hatinya untuk orang lain. walau belum ada yang "klik" namun pencarian ini akan terus dilakukan. Ketika sosok itu datang, sahabat saya akan mengakhiri semuanya. Dia ingin hidup normal layaknya wanita lain. Ingin digenggam tangannya, ingin jalan-jalan di keramaian, ingin di akui. Tidak seperti sekarang, semuanya serba tertutup dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

Akhirnya sahabat saya menutup ceritanya dengan air mata. "Jika ada yang harus disalahkan, salahkan saja saya, karena memang saya yang tidak bisa menjaga hati dengan baik dan benar", begitulah kalimat penutup yang dia ucapkan, tak lama mobil jemputan dari kantornya tiba dan dia pamit karena ada meeting dengan customer.

Saya bingung harus bersikap seperti apa, di satu sisi saya marah dan kecewa dengannya tapi disisi lain saya tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa bertahan dengan kondisi saat ini. Saya hanya bisa berharap, dia segera menemukan seseorang yang tepat untuk sosoknya yang "hampir" sempurna. Tentu saja seseorang yang tidak terikat.